SUARA PEMBARUAN DAILY

Industri Manufaktur Terancam Tidak Berproduksi

[JAKARTA] Industri manufaktur (pengolahan) di 2008 terancam tidak dapat berproduksi, sebab tidak mampu menanggung biaya produksi yang tinggi. Hampir semua bahan baku industri naik 20-80 persen, mulai dari bahan baku pangan sampai dengan bahan baku konstruksi.

Kenaikan harga bahan baku tidak otomatis membuat pelaku usaha dapat menaikkan harga jual produknya, karena daya beli masyarakat berkurang. Demikian dikemukakan pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Chatib Basri dan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, kepada SP di sela-sela seminar Prospek Ekonomi Asia Pasific, di Jakarta, baru-baru ini.

Pelaku usaha di industri kecil menengah (IKM) kemungkinan hanya bertahan satu sampai dua bulan ke depan, sementara pengusaha besar mampu sampai enam bulan. Sofjan mengatakan pelaku usaha mulai kesulitan negosiasi dengan pembeli dari luar negeri. Hal itu dikarenakan menurunnya daya beli bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi di semua negara.

"Jangankan pelaku usaha kecil, pelaku usaha besar saja mulai mengeluhkan sulitnya menjual hasil industri. Meskipun harga jual produk sama namun daya beli memang melemah. Jadi jangan heran bila di 2008 pertumbuhan industri meredup," ujar Sofjan.

Industri manufaktur yakni industri pengolahan yang mengubah bahan mentah menjadi barang jadi. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) contohnya pertumbuhan di 2007 minus 3,68 persen.

Menurunnya pertumbuhan industri TPT dikarenakan tingginya bahan baku impor dan meningkatnya produk tekstil ilegal yang masuk ke pasar domestik.

Selain industri TPT, industri barang kayu dan hasil hutan pertumbuhannya minus 1,74 persen di 2007. Menurunnya pertumbuhan industri karena kurangnya bahan baku kayu. Ditambah dengan aturan pemerintah yang justru mengizinkan ekspor kayu gelondongan ke luar negeri.

Industri makanan dan minuman juga terkena imbas naiknya harga komoditas pangan. Seperti tepung terigu yang naik 80 persen, minyak goreng dan kedelai yang naik sampai 100 persen.

Dia menambahkan, prospek buruk industri di 2008 didukung dengan upaya pemerintah yang lamban memberikan bantuan (subdisi). Seperti janji memberikan subsidi sebesar Rp 500 miliar untuk IKM kedelai dan minyak goreng yang terhambat sampai Maret 2008.

"Kalau kondisi negara dan perekonomian ingin lebih baik, pemerintah segera kucurkan dana anggaran dan tingkatkan investasi," paparnya.

Dampak dari melemahnya sektor industri juga berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi di 2008. Awalnya pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6,8 persen atau meningkat dari 2007 yakni sebesar 6,3 persen. Namun dengan kondisi serba sulit saat ini, pemerintah mengoreksi pertumbuhan ekonomi di angka 6,3-6,5 persen.

Pesimis

Pengamat ekonomi UI Chatib Basri pesimis dengan angka pertumbuhan tersebut. Dipastikan pertumbuhan ekonomi hanya mampu mencapai kisaran angka 6-6,3 persen saja. Fakta yang terjadi saat ini adalah harga komoditas bahan pangan naik, harga bahan bakar (minyak, listrik, dan gas) juga naik. Jadi tidak mungkin pemerintah bermimpi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat.

"Maksimal angka tertinggi yang dicapai 6,4 persen. Tetapi dengan jaminan harga-harga komoditas pangan dan bahan baku turun atau setidaknya stabil. Apakah pemerintah bisa menjamin itu ?," ujar Chatib.

[EAS/M-6]


Last modified: 22/2/08