[YOGYAKARTA] Bencana alam, khususnya banjir yang melanda Indonesia sampai akhir musim tanam 2007-2008, telah mengakibatkan 77.000 hektare (ha) sawah di Indonesia puso.
"Puso akibat banjir tersebut melanda 77.000 hektar lahan padi di Indonesia. Dengan demikian memang ada kemungkinan mundurnya masa panen tahun ini yang biasanya Maret-April bisa jadi Mei," kata Dirjen Tanaman Pangan Departemen Pertanian, Sutarto Ali Muso dalam Sosialisasi Pengadaan Gabah/Beras Dalam Negeri di Yogyakarta, Kamis (21/2).
Menurutnya, meskipun telah terjadi puso terhadap 77.000 hektar lahan padi di Indonesia ini tidak kemudian menyebabkan gagal panen di berbagai tempat sebab Departemen Pertanian kemudian secepatnya telah melakukan pemberian bantuan benih padi.
Dikatakan, akibat banjir, setiap tahunnya Indonesia mengalami padi puso mencapai 100.000 ha. Namun Sutarto tetap merasa optimistis bahwa pengadaan beras tahun 2008 ini tidak akan terganggu dan akan lebih baik dibanding tahun 2006-2007 silam.
"Banjir sekarang dampaknya lebih kecil dibanding tahun lalu. Dan kita optimis akan ada kenaikan produksi beras nasional 5 persen tahun ini,' katanya.
Sementara itu. di tempat yang sama Direktur Perum Bulog Mustafa Abubakar mengatakan untuk meningkatkan kualitas beras nantinya akan dilakukan penambahan komponen penilaian. Jika sebelumnya komponen penilaian beras hanya menyangkut derajat air maksimum serta butir patahan, maka ke depan akan ada tiga tambahan komponen penilaian sesuai SNI 4.
Namun khusus di DIY, menurut Kepala Bapeda Provinsi DIY Setiyoso Harjowisastro, tahun 2007 DIY berhasil memproduksi gabah kering giling sebesar 709.639 ton atau setara dengan 461.265 ton beras.
Sementara konsumsi untuk 3.214.300 jiwa setara dengan 237.987 ton beras. Berdasarkan surplus tersebut Bulog DIY bisa menyerap 34. 640 ton beras sisanya untuk diperdagangkan ke luar DIY. Pada tahun 2008 ini diperkirakan akan terjadi peningkatan produksi Gabah Kering Giling menjadi 726.955 ton atau 461.600 ton setara beras dari prognosa Perum Bulog Divre DIY sebesar 50.000 ton.
"Jumlah ini nantinya bisa mencukupi untuk penyaluran di Divre DIY sebesar 43.880 ton," jelas Setiyoso.
Terancam Puso
Meski DIY mengalami surplus beras, ratusan hektar tanaman padi sempat terserang hama wereng coklat atau hama penggerak batang, diantaranya terjadi di Kabupaten Bantul, Sleman, dan Kulon Progo. Di Kabupaten Bantul, areal sawah yang diserang hama mencapai 75 hektare dan 150 hektare tanaman padi di Kawasan Poncosari Bantul terancam gagal panen akibat meluapnya Sungai Progo.
Sedangkan di Kabupaten Sleman tanaman padi gagal panen akibat hama mencapai 200 hektar.
Kerugian petani Bantul diperkiakan mencapai lebih dari Rp 1 miliar.
Sedangkan di Kabupaten Sleman, selain diserang hama wereng coklat, beberapa sawah juga diserang hama tikus dan hama penggerek batang. Tanaman padi yang diserang hama penggerek batang paling banyak mencapai 105 hektar. Tanaman padi yang diserang wereng coklat mencapai 51 hektar. Sedangkan tanaman padi yang diserang tikus sekitar 44 hektare. [152]