SUARA PEMBARUAN DAILY

Setahun 150.000 Sapi Betina Dipotong

[JAKARTA] Kebutuhan daging sapi nasional setiap tahunnya mencapai stara 1,5 juta ekor sap, sedangkan total populasi sapi setiap tahunnya sekitar 10,6 juta ekor. Sekitar 10 persen atau 150.000 ekor sapi yang dipotong setiap tahunnya adalah sapi betina produktif atau masih bisa menghasilkan pedet (anak sapi). Para peternak sapi rakyat terpaksa menjual sapi betina produktif dengan alasan mahalnya biaya operasional usaha ternak.

Demikian dikatakan Sekjen Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia, Teguh Boediyana kepada SP, Jumat (22/2).

Menurut Teguh, betina produktif yang dikirim ke rumah pemotongan hewan umumnya baru 2-3 kali melahirkan sehingga masih produktif. Namun adanya pedet yang berarti bertambahnya biaya operasional peternakan, membuat betina produktif dijual.

Oleh karena itu Teguh berharap, pemerintah mampu menyerap sapi-sapi produktif tersebut agar tidak buru-buru dipotong. Hal itu cukup efektif untuk mempercepat pertambahan populasi sapi di dalam negeri. Jika bisa dicegah, setidaknya ada sekitar 150 ribu ekor pedet baru yang dihasilkan dengan dana investasi yang jauh lebih murah.

Selain itu Teguh mendesak pemerintah untuk mendorong peningkatan usaha penggemukan sapi lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap sapi impor. Upaya ini juga akan meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak. Rencana pemerintah untuk memanfaatkan kawasan perkebunan sawit sebagai kawasan peternakan sapi dengan menjadikan petani plasma sawit sebagai peternak mestinya bisa cepat di realisasikan.

Sementara itu Dirjen Peternakan Deptan, Tjeppy D Soedjana mengatakan, pemerintah memang berencana menyelamatkan sapi betina produktif agar tidak dikirim ke rumah pemotongan hewan. Saat ini pemerintah sudah menyiapkan strategi pembiayaannya, ujar Tjeppy.

Mengenai ketergantungan daging impor, menurut Tjeppy saat ini hanya sekitar 28 persen dari total kebutuhan daging nasional. Pemerintah menargetkan tahun 2010, impor daging sapi maksimal hanya 10 persen dari total kebutuhan nasional. [L-11]


Last modified: 22/2/08