SUARA PEMBARUAN DAILY

Sahabat Anak, Siapakah Dia?

Siapa sahabat anak-anak? Apakah orang yang memberikan telepon genggam kepada anak-anak? Benarkah orang yang membuat anak-anak bisa mengirimkan pesan pendek kepada teman-temannya saat pengambilan foto adalah sahabat anak?

Coba tanyakan soal itu kepada Sitta Manurung dari komunitas Sahabat Anak. Perempuan itu dengan penuh semangat akan ber- bicara panjang lebar, soal apa dan siapa sahabat anak.

Jurnalis Majalah Femina itu memang tidak hanya getol berbicara soal sahabat anak. Ia, bekerja sungguh-sungguh meningkatkan jumlah sahabat anak.

Tapi, bukan soal bertambahnya jumlah sahabat anak saja yang menyita waktunya. Ia memimpikan munculnya kesadaran luas di kalangan masyarakat mengenai arti penting sahabat anak. "Virusnya" memang belum seganas virus flu burung. Tapi hasilnya, toh sudah kelihatan.

Tampak jelas saat Sita dan kawan-kawannya menggelar acara "Hari Sahabat Anak, Menabur Cinta Menuai Harapan" di Kridaloka, Senayan, Jakarta, Minggu (17/2) pagi. Seorang ibu yang tengah ber-olahraga di Kridaloka menghentikan kegiatannya.

Kemudian ia menanyakan kesibukan para relawan kegiatan yang sudah bersibuk ria di Kridaloka sejak dini hari. Puas bertanya dan memahami tujuan kegiatan itu, ibu itu pergi. Beberapa jam kemudian, panitia mendapat kiriman 100 donat. Lumayan.

Tetapi, sungguh jelas, acara itu bukan hanya urusan menanti kiriman makanan dari donatur dadakan. Kegiatan itu ditujukan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat tentang arti penting sahabat bagi anak-anak. Yang dimaksud anak-anak di sini bukan anak-anak dengan tubuh wangi dan wajah bersih seperti kita lihat di beberapa sinetron.

Anak-anak yang dimaksud adalah anak-anak yang tidak ber-untung. Anak jalanan, begitu anak-anak itu sering disebut.

Begitulah, di Kridaloka yang penuh dengan tanaman rindang ratusan anak-anak berkumpul, tertawa, dan bermain dengan teman-temannya. Dengan para sahabatnya juga, tentunya.

Maka sepanjang hari itu yang terdengar adalah tawa panjang anak-anak. Jerit kegembiraan anak manusia yang sehari-hari jarang gembira. "Ya, senanglah. Dari pagi kita bermain bersama. Ikut bermacam-macam perlombaan. Ini, saya dapat boneka lucu dari gua yang seram," ujar Aprianto sambil memperlihatkan bonekanya.

Aprianto berumur sembilan tahun. Hari-harinya jelas berbeda dengan anak-anak yang sering tampil di sinetron atau jadi bintang iklan.

Setiap hari ia mangkal di sekitar Stasiun Kereta Api Gambir. Bersama ibunya ia mengumpulkan botol bekas minuman mineral. Dengan cepat ia memperlihatkan cara membuka plastik tipis yang bertuliskan merek minuman.

Jari di tangan kirinya memutar botol ke kiri. Tangan kanan ke arah sebaliknya. Botol dengan cepat mengecil. "Nih, seperti ini. Plastik ini dibuang. Botolnya dikumpulkan. Botol besar harganya Rp 4.200 sekilo, botol kecil ukuran gelas Rp 7.700 sekilo. Ibu kemudian menjualnya kepada pedagang di belakang Stasiun Kereta Api Juanda," ia menambahkan dengan cepat.

Aprianto, yang terkadang mengamen jika tidak bisa mengumpulkan banyak botol bekas, nyaris setiap hari tidur di kawasan Stasiun Kereta Api Gambir. Kadang-kadang ia tidur di kawasan Monas. "Kalau mau tahu tempat tidurku di Monas, datang saja ke tempat parkir di Gambir malam hari. Nanti saya ajak tidur bersama," katanya, sebelum sibuk dengan permainan lainnya.

Aprianto tidak begitu antusias saat diajak bicara soal sekolahnya. Josef, mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta yang sering mendatanginya mengungkapkan, Aprianto hanya sekolah sampai kelas tiga SD. Masalah ekonomi adalah penyebabnya. Ibunya lalu membawa Aprianto untuk mencari plastik bekas. Untuk menyambung hidup. Jadi bisa dimengerti jika mempertahankan hidup dengan mencari botol minuman bekas di tempat sampah atau di pinggir jalan menjadi pilihan hidupnya.

Sahabat

Di luar kegiatan rutinnya, Aprianto dan teman-teman anak jalanan lainnya punya beberapa sahabat. Dua di antaranya Josef dan Ucok. Keduanya rajin menemui anak-anak jalanan. Mengajak bermain. Mendengar keluhan anak-anak. Di tengah obrolan, keduanya membacakan cerita anak dan berdialog dengan ibu atau ayah anak-anak. Mengajari anak-anak membaca dan berhitung.

Menemani anak-anak, hanya satu di antara berbagai kegiatan para pendamping. Para pendamping itulah yang dimaksud Sitta sebagai sahabat anak. "Kami, dari Sahabat Anak, akan terus-menerus mengajak masyarakat untuk menjadi sahabat anak. Puji Tuhan, sekarang semakin banyak yang mau menyumbangkan perhatiannya untuk anak-anak. Semakin banyak yang mau menjadi pembimbing belajar bagi anak-anak jalanan. Mereka yang tidak punya banyak waktu untuk menjadi pendamping, secara teratur banyak juga yang mau memberikan sumbangan bagi kegiatan kami. Ada yang menyumbang uang, buku, dan makanan untuk anak-anak," Sitta menambahkan.

Arti penting pendamping diungkapkan pula oleh Ari Firyasah yang sering dipanggil Jebot. Saat berumur sekitar 8 tahun, ia sibuk mengamen di sekitar Stasiun Kereta Api Kalibata. Kemudian ia merambah kawasan Ratu Plaza, Jalan Sudirman. Di Bundaran Senayan, ia biasa mengamen nyaris setiap hari. "Dulu di bundaran arah ke Jalan Sisingamangaraja ada pos polisi. Saya dan teman-teman biasanya tidur di pingggir pos itu. Kami biasanya datang sekitar jam tiga pagi saat polisi sudah pada pulang," ia mengenang.

Ya, Jebot sekarang hanya bisa mengenang. Ia sudah lama tidak turun ke jalan. Tapi bukan berarti ia melupakan kehidupannya dulu.

Kenangannya sebagai anak jalanan yang mempunyai pendamping menuntun arah hidupnya. Beranjak remaja, sekarang ia menjadi pendamping bagi anak jalanan lainnya. Hari-harinya dilalui bersama para pendamping anak dari Sanggar Akar. Minatnya untuk menulis malah menjadikannya sebagai Pemimpin Redaksi Tabloid Anak yang dikelola anak-anak jalanan dari Sanggar Akar.

"Dulu saya merasakan arti penting kakak-kakak pendamping yang menjadi sahabat kami. Sekarang saya mau menjadi pendamping. Tanpa pendamping, masa depan adik-adik ini sangat menyedihkan," kata Jebot, yang hanya menamatkan sekolah menengah pertama karena ketiadaan biaya.

Dalam pandangan Sitta dan kawan-kawannya, para sahabat anak tidak bermimpi agar semua anak binaan mereka bisa kembali ke bangku sekolah. Terlalu banyak hambatan untuk mengajak anak-anak itu kembali ke bangku sekolah.

Yang bisa mereka lakukan sekarang hanya mengajak anak-anak bermain dan belajar dengan metode praktis. Semuanya bergantung pada kemauan berbagai kalangan di masyarakat untuk menjadi sahabat anak. Sahabat anak jelas bukan orang yang menciptakan kelucuan saat anak-anak sekolah sibuk membaca pesan pendek seperti bisa kita lihat dalam sebuah iklan di televisi. [SP/Aa Sudirman]


Last modified: 19/2/08