
SP/Sotyati
Agung Yuswanto dengan latar belakang taman dindingnya.
alaman rumah di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan itu, memang tidak terlalu luas. Jika halaman itu dipenuhi tiga mobil, misalnya, tak leluasa lagi seseorang bergerak di dalamnya. Padahal, pemilik rumah, Titan Hermawan, menginginkan halamannya itu terlihat hijau, dipenuhi banyak tanaman, baik pohon maupun perdu.
Ternyata, keterbatasan lahan kini bukan halangan untuk bisa menampilkan taman yang indah. Jawaban langsung datang dari penata taman Agung Yuswanto, ketika Titan menyampaikan keinginannya. Bekerja sama dengan arsitek Ir Adi Purnomo, Agung Yuswanto, membuat vertical garden, di depan dan di samping rumah.
Agung, lulusan Institut Pertanian Bogor tahun 1987, menyebut karyanya taman dinding. Bersama Adi, keduanya bahu-membahu membuat "pot" raksasa dari susunan batu bata yang menempel di dinding, berkemiringan 30 - 35 derajat. "Pot" raksasa itu kemudian dibagi-bagi menjadi "pot-pot" kecil, dilengkapi sistem drainase yang ramah lingkungan. "Hanya pinggirnya yang disemen, berfungsi sebagai bingkai," kata Agung, yang pernah meniti karier sebagai wartawan sebuah harian dan kemudian majalah berita itu.
Untuk dua taman dinding, di depan dan di samping rumah Keluarga Hermawan itu, Agung dan Adi membuat "pot-pot" kecil berjumlah 3.600 lubang. Melalui uji coba berkali-kali, keduanya akhirnya bisa memilih bentuk lubang tanam dan media tanam yang pas untuk tanaman-tanamannya.
Agung memilih ijuk sebagai dasar, lalu tanah gembur dan kompos, dengan campuran seimbang. Ia menyebut ijuk sebagai pilihan terbaik untuk alas, karena sebelumnya ia menggunakan sekam. "Gagal, karena terserang jamur," ia menjelaskan.
Pemilihan tanaman juga bukan perkara gampang. Pemilihan tanaman itu, Agung berpendapat, justru menjadi bagian paling penting dalam pembuatan taman dinding. Ia menghindari pemilihan tanaman bunga musiman, seperti krisan, mawar perdu, aster, dan sebagainya, karena harus rajin mengganti setelah musim bunga usai. Ia memilih jenis tanaman-tanaman hias yang tahan tumbuh bertahun-tahun, seperti bromelia, aneka jenis paku, plumbago, lili paris, sirih gading, anggrek tanah, hingga lantana.
Kini, taman dinding itu menjadi pemandangan utama yang langsung bisa disergap mata begitu memasuki pintu gerbang rumah Keluarga Hermawan. Seperti melihat ribuan pot menempel di dinding bagian bawah rumah berlantai dua itu. Sungguh paduan warna yang menarik jika kemudian pandangan diarahkan ke lantai dua rumah itu. Yang terlihat hanya warna merah dari susunan bata yang membentuk dinding bagian atas.
Ribuan pot di dinding yang lain bisa dijumpai setelah meniti tangga menuju ruang tamu di lantai dua. Sebuah kolam memisahkan taman dinding di lantai dua itu dengan ruang duduk. Di antara kehijauannya, terselip warna-warni bunga lantana, plumbago, dan anggrek tanah.
"Memerlukan waktu enam bulan untuk mengerjakan dua taman dinding itu," kata Agung, dalam percakapan awal Februari lalu. Ia bersyukur bertemu dengan Adi Purnomo, karena mampu menjalin kerja sama melalui diskusi saling mengisi selama pembuatan taman dinding itu. "Mas Adi Purnomo pernah mencoba membuat vertical garden, tetapi gagal karena memakai bahan kayu, bukan bata," Agung menjelaskan.

Taman dinding di rumah Keluarga Hermawan di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, kehijauan yang berpadu dengan warna merah bata dinding lantai atas.
Patrick Blanc
Vertical garden mulai dikenal luas pada 1994 melalui karya-karya ahli botani Prancis, Patrick Blanc. Ia memberi sentuhan kehijauan yang lebih ramah lingkungan pada bangunan-bangunan museum di Paris, Istanbul, Madrid, Seoul, dan Kanazawa di Jepang.
Siapa pun yang pernah ke Paris, dan mengunjungi museum-museumnya, karya Patrick Blanc bisa ditemui di Musee du quai Branly, atau Quai Branly Museum, tak jauh dari Menara Eiffel. Tanaman hidup memenuhi dinding luar museum sepanjang 200 meter dan setinggi 12 meter.
Blanc bukan sekadar menempel aneka tanaman di dinding untuk jangka waktu satu dua hari. Ia mengembangkan idenya menghijaukan dinding-dinding bangunan tinggi di perkotaan melalui penelitian mendalam di Centre National de la Recherche Scientifique di Paris. Ia bahkan melakukan observasi tentang kemampuan tumbuhan hidup di lahan bebatuan ataupun seresah di hutan-hutan di Malaysia dan Thailand. Blanc menekankan penelitiannya untuk mendapatkan media tanam yang tepat bagi taman dindingnya.
Blanc berteori tumbuhan tidak memerlukan media tanah dalam keadaan tertentu. Tanah hanya penyokong mekanis. Peran terpenting bagi kehidupan tumbuhan adalah suplai air dan beberapa mineral yang diperlukan bagi pertumbuhan.
"Umumnya vertical garden di sana diwujudkan dengan sistem hidroponik. Tanaman juga ditumbuhkan dulu dua bulan di dalam suatu modul sebelum ditanam di media sebenarnya," Agung menjelaskan.
Mengamati karya-karya Blanc, tak mengherankan orang akhirnya menambahkan sebutan seniman kepadanya. Tahun ini, Blanc mendapat pekerjaan "menyulap" dinding-dinding pencakar langit di Kuala Lumpur dan juga Doha Office Tower di Qatar jadi hijau.
Rupanya, tak mau kalah dari Malaysia, Agung mengatakan Singapura menganggarkan 50 juta dolar untuk keperluan penelitian vertical garden. Penelitian dilakukan oleh universitas yang ditunjuk. Jika berhasil, nantinya sebagian dinding gedung pencakar langit di Singapura akan berubah menjadi "dinding hidup".
Tanaman hias sejak lama juga menjadi bagian tak terpisahkan dari ruang perkantoran di Jepang dan Korea Selatan. Ketika Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) meluncurkan hasil penelitian tentang tanaman sanseviera beberapa saat lalu, permintaan tanaman hias yang juga disebut lidah mertua itu meningkat drastis ke Indonesia. Sanseviera berkemampuan menyerap polutan beracun di dalam ruangan.
"Orang mulai menyadari pentingnya lingkungan hidup yang bersih," Agung menjelaskan. Apalagi ketika perubahan iklim terus didengang-dengungkan, bahkan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa pun merasa penting menyelenggarakan konferensi tentang perubahan iklim. Mengisi ruang-ruang kosong dengan aneka tanaman, bukan sekadar demi menciptakan kesejukan, membuat pemandangan lebih indah, tetapi terutama untuk keperluan menyediakan oksigen yang bersih.
Angan-angan
Kenyataan itu pula yang mendorong Agung menekuni pengembangan taman dinding. Dua bulan ini ia sibuk melakukan uji coba untuk membuat pola modul, "pot" yang tepat untuk taman dindingnya. Ia sibuk menakar-nakar kelebihan dan kekurangan modul-modul dari bahan keramik, plastik, dan resin.
Angan-angan Agung bukan lagi terbatas pada membuat taman dinding seperti di rumah Keluarga Hermawan, tetapi lebih dari itu. Ia memimpikan kehijauan memenuhi dinding-dinding bangunan tinggi di Jakarta, kelak. "Para arsitek pun mulai berpikir untuk melapisi bangunan dengan tanaman. Bayangkan kalau bangunan-bangunan kaca yang menyilaukan mata itu tertutup kehijauan," katanya.
Bagi Agung, itu bukan hal yang mustahil. Karena, dalam bentuk yang paling sederhana pun orang bisa melakukannya. Negeri ini sangat kaya tum- buhan rambat, yang tahan segala cuaca. "Tidak perlu tanaman mahal. Tak perlu tanaman mewah. Coba saja menanam sirih gading di ruang perkantoran, biarkan batangnya menjuntai ke luar kaca," ia mencontohkan.
Kesibukan baru itu tentu membawa konsekuensi. Ia terpaksa menangguhkan mengerjakan pesanan taman dinding di rumah seorang ekspatriat. "Ia minta dibikinkan taman serupa. Te- tapi, karena tahu saya sedang me- rampungkan uji coba modul, ia mau bersabar menunggu. Ia cuma bilang, 'jangan bikin uji coba di taman saya'," Agung menceritakan sambil tertawa.
Sebelum mengerjakan taman dinding di rumah Keluarga Hermawan, ia pernah ikut turun tangan mengerjakan vertical garden di rumah seorang pengusaha. Namun, saat itu ia tidak direpotkan dengan membuat media tanam. Pengusaha itu membeli media tanam jadi dari Kanada, seukuran satu meter.
"Bayangkan saja berapa harganya kalau ukuran 50 x 50 sentimeter harganya 40 dolar AS," katanya, sambil mengakui, hingga saat ini, biaya paling menjadi kendala bagi pembuatan taman dinding.
Namun, ia optimistis, suatu saat Indonesia, akan mengikuti langkah Malaysia dan Singapura: menghijaukan kota-kota besarnya yang dipenuhi gedung-gedung tinggi. Demi lingkungan hidup yang lebih baik dan sehat. [SP/Sotyati]