encapai usia 54 tahun bagi sebuah organisasi pelayanan adalah sebuah hal yang tidak mudah. Karena itu, ucapan syukur hendaknya dilakukan tidak sebatas perayaan seremonial yang lama-kelamaan bisa berubah menjadi kebiasaan yang kemudian kehilangan arti.
"Kita harus bersyukur dengan sepenuh hati kepada Tuhan. Karena, tanpa pertolongan Tuhan, LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) tidak akan sampai seperti sekarang ini," ujar Ketua Umum Yayasan LAI, Prof Liem Khiem Yang, saat Ibadah Syukur Hari Ulang Tahun ke-54 Yayasan LAI, di Jakarta, Jumat (15/2).
Menurut Liem, ucapan syukur yang disampaikan dengan sepenuh hati akan mendorong seseorang menjadi lebih bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab. LAI dengan kondisi saat ini, kata Prof Liem, tertantang untuk bekerja lebih baik guna mewujudkan visi pelayanan
"Menghadirkan firman Allah bagi umat-Nya dalam bahasa yang mudah dipahami agar umat manusia dapat bertemu dan berinteraksi dengan Allah dan mengalami hidup baru," tuturnya
Sekretaris Umum Yayasan LAI, Harsiatmo Duta Pranowo, mengatakan, memasuki usia ke-54 LAI terus akan memberikan pelayanan ter- baik kepada masyarakat. Dia menuturkan, sampai menapaki usia yang seperti ini, lembaga yang berkantor pusat di Jalan Salemba Raya No 12 Jakarta Pusat itu telah menerjemahkan Alkitab dalam 26 bahasa daerah.
Khusus untuk Perjanjian Baru sebanyak 87 bahasa daerah, sedangkan bagian-bagian Alkitab sebanyak 158 bahasa daerah. Jumlah rata-rata penyebaran dalam sepuluh tahun terakhir mencapai angka 830.000 Alkitab dan 765.000 Testamen (bagian-bagian Alkitab).
Duta mengakui persebaran Alkitab dan Testamen tersebut masih belum merata karena terfokus pada wilayah pusat, yaitu Jawa dan Bali sebanyak 70 persen, sedangkan untuk luar daerah hanya 30 persen. "Padahal, jumlah penduduk Kristen di Indonesia lebih banyak di luar daerah atau daerah perwakilan," ucap Duta.
Dia mengatakan, misi yang hendak dicapai LAI sampai pada usia ke-65 pada tahun 2019 adalah setiap satu rumah tangga Kristen memiliki satu Alkitab. Menurut Duta, untuk mewujudkan misi tersebut sejumlah tantangan akan dihadapi, seperti gereja dan warga jemaat, khususnya mereka yang berada di daerah terpencil dan kemampuan ekonomi lemah, agar dapat lebih mudah memperoleh Alkitab dengan harga yang terjangkau.
LAI juga terus akan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi, dengan menghadirkan produk-produk Alkitab elektronik. Untuk melayani umat Tuhan, LAI secara resmi meluncurkan Alkitab elektronik yang bisa diakses melalui telepon selular (handphone) dan tampilan wajah baru LAI online di internet.
Ibadah syukur peringatan 54 tahun LAI sendiri mengambil tema "Berdayunglah ke Tempat yang Dalam (Lukas 5:4)" dengan pelayan firman Romo Gusti Bagus Kusumawanta Pr dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Romo Gusti Bagus Kusumawanta dalam khotbahnya mengatakan, tema yang diangkat dalam ibadah syukur ini paling tidak mengandung lima unsur penting yang harus dilakukan setiap orang percaya.
Pertama, tema ini mengandung unsur pengajaran yang merupakan salah satu bentuk undangan Allah kepada manusia seperti undangan yang diucapkan Yesus kepada Simon Petrus untuk menebarkan jalanya ke lautan yang lebih dalam. Setelah menerima pengajaran, maka unsur kedua yang mesti dilakukan orang percaya, yaitu memberi jawaban atas panggilan pelayanan itu.
Unsur yang ketiga adalah ketaatan dalam melakukan, keempat memberikan pengakuan dan menjadi murid melalui sebuah proses pertobatan hati. "LAI harus lebih menebarkan jala pelayanannya lebih dalam lagi agar semua orang diberkati dengan sabda Tuhan itu," ujar Romo Gusti.
Sejarah LAI
Kegiatan penyediaan dan penyebaran Alkitab di Indonesia telah ada jauh sebelum LAI dibentuk. Kegiatan tersebut dilakukan oleh The British and Foreign Bible Society (BFBS) dan Nederlandsch Bijbel Genootschap (NBG) melalui perwakilannya yang berkedudukan di Bandung.
Sejak Januari 1938, kedua lembaga itu dipersatukan dan berkedudukan di Burgemeester Kuhrweg 7, Bandung. Dalam situasi yang sulit sebagai akibat Perang Dunia ke-2 yang sedang berlangsung, pada 11 November 1940 tugas perwakilan dialihkan dari CP Cohen Stuart kepada Giok Pwee Khow, seorang putra Indonesia yang dikemudian hari berperan dalam pendirian LAI.
Beberapa tokoh umat Kristen pada 1951 mulai merintis pembentukan LAI sebagai sebuah lembaga Alkitab nasional yang mandiri. Walaupun kegiatan penyediaan dan penyebaran Alkitab oleh LAI telah berlangsung sejak 1952, LAI sah sebagai sebuah badan hukum baru terjadi pada 9 Februari 1954, ketika penandatanganan akta pendirian yayasan LAI dihadapan Notaris Elisa Pondaag.
Prof Dr Sutan Gunung Mulia, Prof Dr PD Latuihamallo, Elvianus Katoppo, Pdt MK Tjakraatmadja, dan Giok Pwee Khouw adalah beberapa di antara tokoh Kristen yang membidani berdirinya LAI, dan tercatat sebagai Pengurus LAI yang pertama. Proses awal keanggotaan LAI dalam United Bible Societies (UBS) mendapat dukungan dari NBG dan BFBS sebagai lembaga Alkitab yang memiliki hubungan historis kegiatan penyediaan dan penyebaran Alkitab di Indonesia.
Dengan dukungan itu, pada 1952 dalam persidangan UBS di Ootacamund, India, LAI diterima dan ditetapkan sebagai anggota madya UBS. Selanjutnya, dalam persidangan Dewan Eksekutif UBS di Eastbourne, April 1954, LAI ditetapkan sebagai anggota penuh UBS yang ke-27. [SP/Erwin Lobo]