ampu temaram dini hari sehabis hujan menyisakan hawa dingin tak tertahan. Jalanan di sepanjang Jalan MT Haryono masih sepi, hanya beberapa kendaraan dan mobil melintas. Hujan rintik membuat enggan orang keluar rumah.
Di sebuah bangku kayu tak jauh dari mulut pintu masuk Carrefour MT Haryono, seorang pria tua meringkuk. Sepeda motor tua tahun 1990-an diparkir di samping warung rokok kecil dekat bangku ia terbaring. Bang Yok, begitulah ia selalu disapa oleh temannya sesama tukang ojek, belum terlelap. Hanya tangannya mendekap badannya menahan dingin.
Biasanya ia mangkal di situ atau di sekitar Pancoran Timur. Pria dengan kerut wajah yang mulai tampak jelas itu sengaja keluar malam hari. Siapa tahu ada kali ini rezeki datang. Meskipun biasanya kalau bekerja sampai dini hari pun, penghasilan yang diperoleh tidak sebanyak sebelum krisis 1997.
"Ya, mangkal malam biasanya saat karyawan Carrefour mulai pulang, pelanggan sudah banyak, tapi tidak seberapa, masih kurang kalau untuk ngehidupin anak istri," ujarnya.
Diakui, belakangan ini hidupnya berat. Harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng, beras, dan terigu tinggi. "Heran aja, sejak harga barang naik, istri saya selalu mengeluh uang yang saya beri enggak pernah cukup. Saya jadi tahu naiknya barang apa dan dari berapa ampe berapa apalagi saat belanja toko kelontong di rumah," kata Bang Yok.
Pria asal Kebumen, Jawa Tengah itu mengaku sudah sejak 1982 tinggal di Jakarta. Sebelum menjadi tukang ojek, ia pernah mencoba berdagang sayuran, buah-buahan, dan pernah membuka kios kelontong kecil di rumah. "Usaha sayur dan buah lumayan ramai, tapi saat musim hujan jarang laku, bahkan cepat busuk. Terakhir toko kelontong di depan rumah yang masih bertahan dan sekarang dilanjutkan istri saya," jelasnya.
Dia berharap, usaha istri dan uang dari mengojek bisa dikumpulkan agar anaknya lulus kuliah. Dia tidak ingin anaknya seperti dirinya yang gagal di tengah jalan ketika mengecap bangku kuliah.
"Sekarang anak pertama saya sudah hampir lulus kuliah S1 Hukum, biar mereka yang meneruskan cita-cita saya," tuturnya menerawang.
Penghasilan Bang Yok sebagai tukang ojek tidak menentu, tulang punggung ekonomi keluarganya justru hasil dari toko kelontong. "Kalau dipikir, saya juga agak malu sama keluarga, sudah kerja ampe pulang pagi, hasilnya belum nutup kebutuhan. Lha sehari kadang kalau ramai bisa sampai Rp 100.000. Tetapi kalau sepi Rp 20.000 saja udah syukur," ujarnya.
Padahal, anaknya masih duduk di bangku SD dan SMP. Mereka butuh dana sekolah. Belum lagi membiayai skripsi anak perempuannya yang duduk di semester akhir. "Saya tidak mau kalau anak saya ikut jalan nasib saya, sekolah putus di tengah jalan karena biaya," katanya.
Bang Yok rela jika harus begadang tiap malam pulang pagi, asalkan anak-anaknya bisa mengecap pendidikan selayaknya. "Negeri ini selalu kalah dengan bangsa lain karena bidang pendidikan tak diperhatikan. Tapi apalah kata saya, bisanya cuma ngomong, yang bikin kebijakan kan orang-orang pintar di Istana," katanya dengan nada suara agak rendah.
Ia lebih senang anaknya sekolah meski hidupnya pas-pasan, tapi tidak menjadi orang yang bodoh sehingga mudah diombang-ambingkan dalam hidup. "Malam jadi teman aja kebutuhan masih belum nutup. Tapi yang penting anak-anak saya bisa sekolah, itu yang penting," tutup Bang Yok. [Maya Saputri]