oal kematian, tak ada yang bisa meramal. Kapan pun dan di mana pun bisa terjadi. Tak peduli apakah kita sedang makan, berolahraga, santai , tidur, dan sebagainya. Tetapi ada satu yang pasti dan terkadang sering tidak diingatkan yakni munculnya tanda atau gejala sebelum ajal menjemput.
Kematian tiga anak muda asal NTT di Jalan Sultan Agung, Setiabudi, Jakarta Selatan (Jaksel), Minggu (17/2) dini hari, bisa dijadikan contoh dan pelajaran bagaimana peringatan (tanda-tanda kematian) diabaikan. Hendrikus Fernando Jduang (31), Adrianus Sito Abi (28) dan Fredrick Bene (27) tewas mengenaskan di dalam mobil yang ditumpangi setelah kendaraan itu menabrak pagar besi pembatas jalan di Jalan Sultan Agung, Setiabudi, Jakarta Selatan (Jaksel) itu.
"Tanda-tanda kematian mereka sudah ada. Saat kami duduk minum (minuman beralkohol) di sebuah rumah di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, tiba-tiba saja piring dan gelas yang dipakai untuk minum dan makan pecah. Kami kaget, tetapi karena asik minum, itu tidak dihiraukan," kata M Ardy Mbalembout, rekan Jduang, panggilan akrab Hendrikus Fernando Jduang.
Selain tiga korban tewas, dalam mobik Toyota Avanza bernomor polisi L 2635 KF ikut juga lima rekannya lainnya yaitu Vincentius Loe (25), Erman (23), Rudi Bere Mau (25), Ediardus Oki (30), Marianus Tasi Fallo (23). Namun kelimanya selamat, walau menderita cedera cukup parah dan saat ini di rawat Rumah Sakit St Carolus, Jakarta Pusat (Jakpus).
Aleandro menuturkan, ketiga rekannya itu memang sempat minum sebelum pergi. Tetapi ia membantah kalau kecelakaan itu karena mereka mabuk. "Mungkin mereka mengendarai mobil dalam kecepatan tinggi atau bisa juga karena memang sudah ajal," katanya.
Adik kandung Jduang, Yofin telah melarang kakaknya pergi setelah minum bersama di Cikini. "Mereka sempat minum bersama. Sekitar pukul 12.00 WIB, mereka pamit pulang ke rumah masing-masing. Namun Jduang tiba-tiba mengajak teman-teman lainnya pergi jalan-jalan. Yofin melarang, tetapi tidak dihiraukan," tutur Aleandro.
"Mereka sempat mengantar Yofin ke Artaloka, Sudirman. Dari sana, mobil meluncur lewat Manggarai. Mereka hendak ke Mangga Besar, Jakpus menghadiri acara valentine's day. Tetapi rupanya rencana lain terjadi pada mereka yaitu menabrak pembatas bus way," tambahnya.
Entahlah, apakah mereka memang meninggal karena dipengaruhi alkohol atau karena mengendari mobil dalam kecepatan tinggi, yang pasti ketiganya telah pergi meninggalkan sanak saudara mereka.
Abi dan Bene masih lajang. Kepergian mereka menyisahkan isak tangis para krabatnya. Hal itu terlihat pada upacara penguburan di Tempat Pemakaman Umum, Pondok Rangon, Jakarta Timur, Senin (18/2).
Sementara itu, rasa duka yang mendalam tampak pada keluarga Jduang. Ia meninggalkan seorang istri, Butet dan satu orang anak yang baru berumur dua tahun. Saat melepaskan kepergian suaminya, Butet tidak kuat menahan rasa dukanya. Namun demikian ia iklas atas kematian suaminya itu. "Saya relakan kepergianmu. Semoga Tuhan menerima arwahmu," katanya saat menimbun tanah di atas peti suaminya. [RBW/L-8]