![]()
AFP/Savo Prelevic
Pemuda membentangkan bendera Serbia saat berunjuk rasa di Podgorica, Montenegro, Senin (18/2). Mereka ikut menentang kemerdekaan Kosovo.
[WASHINGTON] Amerika Serikat (AS) dan sebagian besar Uni Eropa resmi mengakui Kosovo sebagai negara merdeka dan berdaulat. Presiden George W Bush menyatakan pengakuan AS itu dalam sepucuk surat kepada pemimpin baru Kosovo, Presiden Fatmir Sejdiu, Senin (18/2),
Tanpa menghiraukan Serbia dan Rusia yang menolak kemerdekaan itu, Bush yang sedang berkeliling kawasan Afrika, berjanji akan menjadi teman bagi Kosovo.
Wakil Menlu AS Nicholas Burns mengatakan tidak melihat peluang bagi krisis dengan Rusia. "Moskwa seharusnya tidak terkejut dengan posisi AS karena 17.000 tentara NATO di Kosovo, termasuk 1.600 personel dari AS, akan tetap berada di Kosovo."
Selain AS, Inggris, Prancis, Jerman, Denmark, Italia, Austria, Irlandia, Slovenia, Bulgaria, Polandia, Ceko, Belgia, Swedia, Finlandia, Luksemburg, Hungaria, Portugal, Belanda, Lithuania, Estonia, Latvia, dan Malta, mendukung kemerdekaan Kosovo. Sedangkan Spanyol, Rumania, Yunani, Siprus, dan Slovakia, menolak dukungan bagi Kosovo.
Secara terpisah, Juru Bicara Departemen Luar Negeri RI Kristiarto Legowo mengatakan Pemerintah Indonesia belum pada posisi untuk memberikan pengakuan atas pernyataan kemerdekaan secara sepihak oleh Kosovo.
"Kami menyesalkan kegagalan penyelesaian Kosovo melalui dialog dan negosiasi," ungkap Kristiarto, kemarin. Pemerintah Indonesia akan mencermati perkembangan situasi dan berharap kemerdekaan tidak menyulut ketegangan dan konflik terbuka melawan Serbia. Indonesia juga menghormati keutuhan dan kedaulatan tiap negara anggota PBB.
Di sisi lain, Kristiarto mengatakan, masalah Kosovo harus diakui punya kekhasan tersendiri (prinsip sui generis). Masalah Kosovo tidak terlepas dari perpecahan Yugoslavia yang disusul letupan upaya memerdekakan diri yang diredam dengan aksi-aksi kekerasan sarat pelanggaran HAM.
Tarik Dubes
Berang atas dukungan AS terhadap kemerdekaan Kosovo, Serbia menarik duta besarnya dari Washington. Beograd juga mengancam akan menarik seluruh utusan yang ditempatkan di negara-negara yang membuka hubungan diplomatik dengan Kosovo.
Di depan parlemen Serbia, Perdana Menteri Vojislav Kostunica mengatakan, Dubes Serbia di AS Ivan Vujacic sudah diperintahkan "agar segera kembali" ke Beograd. Kostunica menuding AS berada di balik segala upaya kemerdekaan Kosovo.
"Pengakuan AS memperlihatkan wajah asli AS," tegas Kostunica. AS dinilai melanggar hukum internasional demi kepentingan-kepentingannya sendiri.
Ia bersikeras deklarasi kemerdekaan Kosovo bersifat sepihak, tidak sah, tidak bermoral, dan dilakukan di bawah perlindungan kekuatan brutal AS dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Dalam sidang darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK-PBB), Senin (18/2), bersikeras bahwa kemerdekaan Kosovo melanggar resolusi DK PBB.
Ribuan warga Serbia yang marah kemarin berdemonstrasi di Kosovska Mitrovica, kota di wilayah utara Kosovo yang dihuni etnis Serbia. Mereka berdemonstrasi sembari meneriakkan "Inilah Serbia" dan "Hancur bersama Amerika." [AP/AFP/E-9]