
foto-foto: SP/Fuska Sani Evani
Beberapa adegan dalam ketoprak "Kabar Mawa Wisa" yang dibawakan para wartawan media lokal Yogya maupun nasional didukung Rieke "Oneng" Dyah Pitaloka dan dipentaskan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (16/2) malam lalu.
pa jadinya kalau rutinitas kerja jurnalis diangkat dalam sebuah lakon ketoprak. Mungkinkah tetap menarik ataukah hanya sebuah kamuflase dari ketidakberdayaan pers menghadapi hantaman pro dan kontra dari sebuah kebijakan.
Lewat karya Susilo Nugroho alias Den Baguse Ngarso "Kabar Mawa Wisa" dengan sutradara Nano Asmorodono, penyelaras akhir pelawak Marwoto, yang dipentaskan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (16/2) malam, pelaku ketoprak yang terdiri dari para wartawan dari berbagai media lokal maupun nasional, didukung Rieke "Oneng" Dyah Pitaloka dan sejumlah pelawak Yogya, rutinitas jurnalis itu dimunculkan sebagai kritik sosial yang penuh canda.
Mengambil setting cerita raibnya sejumlah patung di sebuah museum antah berantah, tiga kematian berturut-turut, penjaga museum, wartawan dan saksi ahli, Susilo ingin menampilkan kekinian sebagai model baru dalam penggarapan ketoprak.
Adegan konsolidasi dari para pejabat di sebuah kelembagaan "awang-awang", hingga trik menyulap berita, ditampilkan sebagai pola "menyentil" keberadaan.
Diceritakan, pascatersingkapnya misteri pencurian, kematian dan pemalsuan 17 arca di museum antah berantah itu, sejumlah pejabat kelimpungan dan bertindak taktis untuk menyelamatkan nama masing-masing. Kanjeng Tumenggung (diperankan Gareng Rakasiwi) meminta Beno Arto (Joko Budiarto) sepakat untuk mengeluarkan sejumlah dana demi menutup mulut wartawan.
Adipati Lintang Praja (diperankan Margono dari RRI) serta pimpinan museum Reksa Budhaya (Supriyono dari radio MBS) mencoba menyuap para wartawan dengan cara membuat sebuah media serta mengangkat wartawan yang vokal dan dijadikan sebagai pemimpin redaksi maupun pemimpin perusahaan.
Suwala, (diperankan Fauzi dari Koran Sindo) wartawan "vokal" namun mata duitan, berhasil ditarik dalam intrik para pejabat tersebut. Namun, Mas Rara Nastiti (Rieke Dyah Pitaloka) tetap pada pendiriannya, dan tetap akan 'mengobok-obok' para pejabat yang terlibat dalam kasus arca.
Kematian seorang wartawan idealis, Graito (diperankan Agung, wartawan Kedaulatan Rakyat ) dan Ki Buntas Kawruh (Beni, Radio Sonora) seorang arkeolog yang menjadi saksi ahli, membuat Netra Sima (Kocil Birawa, wartawan Kedaulatan Rakyat) penyidik yang tegas dan keras kepala, naik pitam dan langsung menuding Adipati Lintang Praja sebagai penyebabnya secara terang-terangan.
Nano, sang sutradara mengungkapkan, awalnya, tidak ada kematian Ki Buntas Kawruh dalam naskah, sebab naskah itu sudah dibuat sebelum ada kematian Lambang Babar Purnomo, saksi ahli dalam kasus pencurian sejumlah benda purbakala di Museum Radya Pustaka, Solo. "Namun atas permintaan berbagai pihak termasuk wartawan sendiri, kematian Lambang itu kita angkat juga, untuk sedikit mengingatkan masyarakat," katanya.
Setiap babakan, selalu ditampilkan dialog satire dengan balutan humor. Tingkah laku para 'juru warta' termasuk Rieke yang penuh improvisasi, ternyata mengundang daya tarik sendiri. Ada adegan tempat Ki Rekso Budoyo membagikan uang suap kepada wartawan dan adegan-adegan wawancara yang penuh "dagelan". Ada wartawan terjatuh, ada wartawan "ndlosor" dan ada yang mencuri-curi angle foto. Tanpa disadari, para wartawan yang sebelumnya tak pernah "mentas" itu, mampu membangkitkan tawa penonton yang memenuhi Concert Hall Taman Budaya berkapasitas 500 penonton itu.
Dunia Wartawan
Susilo yang semula ingin menampilkan dunia wartawan menyangkut profesionalisme, idealisme, norma/kode etik, kesejahteraan dan risiko profesi berbenturan dengan penguasa, terpaksa mengakui bahwa para pemain dadakan itu ternyata mampu mengimbangi penampilan Yati Pesek, dan Trio GAM (Gareng, Wisben dan Jonet) yang punya hak paten sebagai pelawak.
Rieke yang sering muncul "terlambat", menambah suasana kocak. Lebih-lebih ketika Mas Roro Nastiti berdialog dengan Candramawa (dimainkan Bayu Saptama).
"Mbok menowo Kanjang Adipati terlibat dalam perkara ini," ujar Candramawa. Dengan spontan Rieke menjawab.
"Yang benar terlibat itu Kanjang Adipati atau Mbok Nowo?" pernyataan itu tak ayal mengundang tawa penonton. Maklum, ketoprak yang sejatinya berbahasa Jawa itu terpaksa sedikit diindonesiakan oleh ulah Rieke.
Di usai pementasan, Rieke mengaku surprise bahkan mengakui bahwa ketoprak memang layak mendapat tempat yang sejajar dengan pertunjukan-pertunjukan lainnya. Main dengan wartawan?
"Ketoprak ini pertama kali buat saya dan hanya latihan satu kali. Tapi yang buat saya agak sulit adalah bahasanya," kata Rieke.
Kendala itupun disampaikan Rieke di hadapan penonton. "Maaf, saya terlambat terus, habis clue-nya pakai bahasa Jawa, saya ora mudeng," katanya.
Rieke yang tak banyak mengerti kosa kata Jawa itu, ternyata mampu menggebrak tawa dengan umpatan-umpatan khas Yogya. Sedikit agak wagu tetapi ternyata konteksnya pas. Pengakuan lain, disampaikan Marwoto Kawer, seorang komedian yang cukup kondang.
"Awal pementasan, saya itu nerves. Saya sengaja tidak menonton. Tapi ternyata dari awal adegan, bahkan pada adegan yang semuanya diperankan wartawan, penonton tampak merespon dan ledakan tawa terus terjadi. Lalu saya berani nonton," katanya.
Itu artinya, kata Marwoto lagi, pentas para wartawan ini juga terbilang sukses. Dengan antusias Marwoto juga mengatakan kalau lakon ini pun akan diboyong ke Taman Ismail Marzuki Jakarta, tetapi tentunya dengan pemain yang berbeda. [SP/Fuska Sani Evani]