SUARA PEMBARUAN DAILY

Sumbangan Entang untuk UI

istimewaInstalasi ÒInterkoneksiÓ karya Entang Wiharso.

istimewa

Instalasi "Interkoneksi" karya Entang Wiharso.

[JAKARTA] Seniman rupa Entang Wiharso menyumbangkan satu karya instalasinya untuk Universitas Indonesia (UI), Depok pada Senin (18/2). Karya seni berjudul Interkoneksi itu selanjutnya dipajang di Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Peresmian karya itu dilakukan oleh Rektor Universitas Indonesia, Gumilar Rusliwa Somantri.

Entang Wiharso adalah seniman rupa yang lulus dari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta pada tahun 1994. kini ia menetap di Rhode Island, Amerika Serikat dan melakukan berbagai kegiatan seni di sana. Misalnya mengadakan pameran tunggal maupun korporat, memberikan presentasi-presentasi di universitas-universitas asing di AS.

Seniman asli Tegal, Jawa Tengah ini juga telah mendapatkan berbagai macam penghargaan dari dalam dan luar negeri, salah satu penghargaan terakhir adalah penghargaan Pollock-Krasner yang diberikan di tahun 2007 oleh Amherst College, AS.

Interkoneksi adalah hasil karya yang terinspirasi oleh keharmonisan yang terjadi di lingkungan kampus FIB UI. Entang mengaku jatuh cinta pada pandangan pertama ketika berkunjung ke UI pada Juli 2007. Dia sangat tertarik pada lalu lintas mahasiswa dengan staf pekerja di kampus FIB UI yang sangat kondusif. Lingkungan belajar mengajar yang terbina sangat baik membuatnya tergugah untuk mempersembahkan sebuah karya seni instalasi.

Seperti dijelaskan Entang, karya seni Interkoneksi melibatkan pekerja yang terhitung banyak. Hal itu dikarenakan karya seni berukuran tinggi 4,5 meter dan lebar 5 meter itu terhitung sangat besar. Selain itu, Interkoneksi dibuat dari lempengan baja, tembaga dan kuningan.

Dinamakan Interkoneksi karena dalam proses karyanya terdapat unsur reaksi tarik menarik, yaitu respons usulan-usulan yang negatif maupun positif atas karya yang sedang dibuatnya.

"Sesungguhnya karya seni adalah kegiatan mencari sebuah kesepahaman, mencoba membuat seuatu kesepahaman, dan pasti memerlukan proses yang panjang," katanya.

Oleh karena itu, adalah hal yang lumrah bila ada perdebatan, perbedaan pendapat terhadap suatu karya seni. Karya seni instalasi, menurut Entang sendiri sesungguhnya memiliki makna sebuah karya seni yang menjelajah ruang tanpa batas, dan biasanya memiliki tiga bahkan sampai empat dimensi. Interkoneksi bukan berbentuk satu dimensi seperti halnya karya lukisan.

Karya bertajuk Interkoneksi tersebut memasukkan tiga buah figurasi yang memakai metafora dari dunia pendidikan, khususnya universitas. Tempat untuk menimba ilmu, belajar, berkomunikasi, pembentukan kedewasaan seorang mahasiswa.

Interaksi timbal balik tersebut dipresentasikan seperti orangtua, yang terdiri dari ayah dan ibu, serta anak yang tentu memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain. Simbol orangtua atau ayah dan ibu dalam karya seni Interkoneksi yang dibuat Entang, direpresentasikan sebagai kampus. Pengertian kampus termasuk dosen-dosen yang ada di dalamnya, dan seluruh staf manajemen yang ada di dalamnya.

Sementara simbol anak direpresentasikan sebagai mahasiswa yang terlibat dalam setiap interaksi di dalam kampus. Interkoneksi dibuat dalam jangka waktu tujuh bulan, termasuk mengalami beberapa kali penggantian sketsa. Ada beberapa pertimbangan yang sangat hati-hati. Agar karya seni yang disumbangkan tidak terlalu mengandung makna yang dapat menimbulkan kontroversi.

Setelah Berkunjung

Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Ida Sundari Husen mengaku sangat senang menyambut karya seni yang dihasilkan oleh Entang Wiharso. Entang menghubungi dirinya setelah berkunjung ke Universitas Indonesia. Seniman rupa Tanah Air berkelas internasional itu menawarkan diri untuk menyumbangkan karya seninya di FIB UI.

Hal ini disambut gembira oleh pihak UI. Namun Sundari pada saat itu langsung mengatakan kepada Entang bahwa pihak UI tidak dapat menyediakan biaya untuk pembuatan karya tersebut. Ternyata pendanaan tidak menjadi masalah bagi Entang, setelah mendapatkan persetujuan, dia kemudian langsung memulai proses pembuatan Interkoneksi di Yogyakarta.

Pihak UI, kata Sundari, memberikan apresiasi yang sangat besar dengan menyediakan tempat kepada seniman-seniman yang memperhatikan pencapaian-pencapaian kreativitas, inovasi, dan dedikasi terhadap dunia seni rupa.

Sementara itu, Sekretaris Bidang II FIB UI, Adrianus LG Waworuntu, mengatakan sebelumnya, UI juga telah menerima beberapa sumbangan karya seni dari seniman lain seperti Iriantine Karnaya dengan karyanya yang berjudul Mencari Peluang, Never Ending, dan Menu Hari Ini yang juga ditaruh di lingkungan FIB UI. Selain itu, ada pula karya seniman Hanafi yang juga memiliki ukuran cukup besar dengan judul Monumen Luka yang memberikan gambaran kondisi masa kini. [WWH/U-5]


Last modified: 19/2/08