SUARA PEMBARUAN DAILY

Industri Gula Rafinasi Minta Impor Dihentikan

[JAKARTA] Industri gula rafinasi nasional meminta keran impor gula rafinasi dihentikan. Sebab, lima pabrik gula rafinasi dipastikan mampu memenuhi kebutuhan gula rafinasi industri makanan dan minuman.

"Bahkan, sampai pertengahan Februari 2008, stok gula rafinasi masih berlebih sebanyak 100.000 ton," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), HM Yamin Rachman kepada SP, Senin (18/2).

Selama dua tahun (2005-2007), industri gula rafinasi kerap dikatakan tidak mampu memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Namun faktanya, pabrik gula rafinasi justru massih memiliki stok berlebih. Kebutuhan gula rafinasi bagi industri makanan dan minuman setiap bulan diperkirakan 120.000 ton, yang bisa dipenuhi pabrik gula rafinasi. Produksi mereka 9.000 ton/hari, atau 270.000 ton/bulan.

HM Yamin mengatakan, selama ini, pabrik gula rafinasi bersaing dengan gula rafinasi impor. Sebab, pemerintah masih memberikan izin pada industri makanan dan minuman untuk mengimpor gula rafinasi untuk kebutuhan industri. Akibatnya, produksi pabrik gula rafinasi tidak semuanya terserap.

"Lama-lama gudang kami bisa penuh. Kami terpaksa mengurangi produksi, mengingat kebanyakan industri lebih memilih impor," ujar Yamin.

Berbeda dengan data Departemen Perindustrian, kebutuhan gula rafinasi berdasarkan data AGRI, sampai saat ini masih ditopang oleh lima perusahaan gula di Indonesia. Setiap perusahaan menghasilkan sekitar 4.500 ton/hari.

Kelima perusahaan gula tersebut adalah PT Angles Products dengan kapasitas produksi 500.000 ton/tahun, PT Jawa Manis Rafinasi 500.000 ton/tahun, PT Permata Dunia Sukses Utama 350.000 ton/tahun, PT Dharmapala Usaha Sukses 250.000 ton/tahun, dan PT Sentra Usaha Utama 540.000 ton/tahun. Total produksi gula rafinasi dari lima perusahaan sebanyak 1,93 juta ton.

Menteri Perindustrian Fahmi Idris dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Senin (18/2) mengungkapkan, kebutuhan industri pengguna gula rafinasi terus bertambah. Pada 2006 kebutuhan industri mencapai 1,8 juta ton, dan 2007 sebesar 2,15 juta ton.

Sayangnya, kebutuhan tersebut, belum mampu dipenuhi pabrik gula rafinasi dalam negeri. Kekurangan gula rafinasi dipenuhi dari impor 4000.000 ton pada 2006 serta 684.000 pada 2007. [EAS/N-6]


Last modified: 19/2/08