SUARA PEMBARUAN DAILY

"Quo Vadis" Industri Musik Jazz Indonesia?

Industri musik Indonesia selama 10 tahun terakhir didominasi oleh genre musik pop, rock, atau dangdut. Dari genre musik itu,label rekaman menjual puluhan bahkan ratusan ribu kopi kaset dan compact disc (CD). Tetapi, bagaimana dengan album rekaman musik jazz? Wartawan SP, Ferry Kodrat mengulas fenomena industri rekaman musik jazz.

SP/Alex Suban - Pergelaran Jak Jazz 2007 di Istora Senayan, Jakarta, November lalu.

Musik jazz itu bagaikan lukisan atau fotografi. Seorang pelukis ternama Indonesia, Affandi misalnya. Dia tidak bisa membuat sebuah lukisan yang sama seperti lukisan yang pernah dibuatnya. Begitulah musik jazz. Musik yang kaya improvisasi ini, tetap akan nikmat untuk dinikmati dalam kurun waktu kapan pun. Jadi, menurut saya, setiap musik jazz yang dijadikan album, itu merupakan suatu sejarah (Indra Lesmana)

Harus diakui, sepanjang sejarah dunia musik di Tanah Air, industri rekaman musik jazz tidak pernah bisa mengikuti lompatan demi lompatan ketiga genre musik itu. Industri musik jazz di negeri ini ibarat hidup segan, mati tidak mau. Terbukti, di pasaran hanya segelintir album musik jazz yang dijual di toko-toko kaset. Ironisnya lagi, album musik jazz selalu dinyanyikan musisi yang itu- itu saja. Quo vadis industri musik jazz Indonesia?

Sekalipun musisi jazz sekelas Indra Lesmana mengatakan, untuk menikmati musik jazz tidak bisa diukur dalam waktu yang pendek, pada kenyataannya rekaman musik jazz hingga kini masih sulit diterima pasar.

"Musik jazz itu bagaikan lukisan atau fotografi. Seorang pelukis ternama Indonesia, Affandi misalnya. Dia tidak bisa membuat sebuah lukisan yang sama seperti lukisan yang pernah dibuatnya. Begitulah musik jazz. Musik yang kaya improvisasi ini, tetap akan nikmat untuk dinikmati dalam kurun waktu kapan pun. Jadi, menurut saya, setiap musik jazz yang dijadikan album, itu merupakan suatu sejarah," katanya.

Namun, harus juga diakui bahwa musik jazz adalah musik yang hanya disukai orang-orang tertentu atau musik pilihan dari seseorang yang idealis. Begitu idealisnya itulah membuat musik jazz sulit dikomersialkan, khususnya di industri rekaman.

Pengamat musik jazz Indonesia, Denny Sakrie mengakui musik yang dilahirkan di New Orleans, Amerika Serikat itu, seperti ada dan tiada. Bahkan, kondisinya bisa dikatakan berhibernasi atau bisa juga disebut laten.

Menurut Denny, sejak dasawarsa 50-an, industri musik jazz tidak mungkin bisa sebesar industri musik pop, khususnya dalam mendulang pendapatan. Akan tetapi, bukan berarti musik jazz Indonesia mati. Walaupun dalam kondisi industri yang sulit, ada saja yang masih mau merilis album jazz, untuk skala minoritas.

"Musik jazz itu "njelimet" dan tidak simple, sehingga sulit bisa diangkat ke pasar rekaman. Untuk bisa sedikit mengangkat rekaman musik jazz di pasaran, mau tidak mau harus kompromi dengan musik pop. Pokoknya, kalau rekaman musim jazz menampilkan musik jazz murni, pasti akan gagal di pasaran," papar Denny.

SP/Alex Suban

Para pengunjung antre untuk memasuki ruang pementasan kelompok musik Incognito dalam rangkaian pertunjukan International Java Jazz Festival 2005 di Jakarta.

Realistis, Efektif, Efisien

Bagi pemilik perusahaan rekaman Indijazz, Gideon Momongan, meskipun di dunia rekaman musik jazz sulit menembus pasaran, hal ini dijadikannya sebagai tantangan. Untuk itu, sebelum merilis album musik jazz, menurutnya, banyak faktor yang harus diperhatikan, seperti ketelitian, kehati-hatian, dan cermat melihat pasar, serta perkembangannya.

Selain itu, produk yang dirilis haruslah bisa disebarluaskan ke masyarakat. Jika yang dirilis tidak bernilai komersial atau tidak berpotensi meraup angka penjualan yang bagus, menurutnya, sebaiknya jangan mencoba-coba dirilis.

"Realistis, efektif, dan efisien merupakan hal-hal yang selalu saya jadikan acuan. Apalagi terjun ke industri musik, khususnya musik-musik non-mainstream seperti jazz. Kita harus realistis, dan tidak bisa langsung memproduksi dalam jumlah yang besar. Yang paling realistis dan efisien, angka produksi awal adalah 2.000 atau 3.000 keping CD, juga bisa ditambah dengan kaset," ujar Gideon.

Yang jelas, pemasaran musik jazz harus dengan strategi jitu agar tidak merugi. Apalagi, rata-rata perusahaan rekaman musik jazz, khususnya yang label independen, memiliki modal yang pas-pasan. Tidak seperti label SonyBMG, Aquarius, dan lain-lain.

SonyBMG, misalnya, sudah merilis album jazz dari kelompok Trisum, Tohpati Dewa Budjana, Indra Lesmana, Balawan, Dwiki Dharmawan, maupun Cherokee. Sementara Aquarius pernah merilis album sekuel Nada dan Improvisasi yang menampilkan Christ Kaihatu, Jopie Item, Nunung Wardhiman, Yance Manusama, Karim Suwilleh, Abadi Soesman, dan lain-lain.

Sebenarnya, salah satu jalan yang mungkin bisa mengangkat industri rekaman musik jazz adalah promosi besar-besaran lewat media massa, baik elektronik dan cetak, video klip, dan lain-lain. Tetapi, hal itu tidak mungkin bisa dilakukan oleh perusahaan yang berlabel independen karena biaya promosi bisa lebih besar daripada biaya produksi.

Bahkan, walau promosi sudah dilakukan secara besar-besaran oleh label mayor, jumlah penjualan juga sulit untuk melebihi 100.000 kopi. Contohnya, pada awal tahun 2000-an, Indra Lesmana mengeluarkan album Reborn. Album itu ternyata hanya terjual lebih dari 80.000 kopi.

"Memang sulit untuk mempopulerkan musik jazz untuk mengangkat industri musik ini. Kejadian ini bukan saja di Indonesia, juga di negara asal di mana musik jazz dilahirkan yaitu Amerika Serikat. Siapa yang tidak mengenal musisi jazz Amerika Serikat, Quincy Jones. Dia pun sulit mempopulerkan musik jazz sehingga harus beralih menjadi produser Raja Pop Michael Jackson," jelas Denny.

Rekaman musik jazz di Indonesia kebanyakan dilakukan secara independen, sehingga distribusinya sangat terbatas. Situasinya bertolak belakang jika musik jazz dipentaskan maupun festival, seperti Java Jazz Festival atau JakJazz Festival. Di acara ini, jumlah pengunjung pasti ramai.

Ada fenomena apa sehingga terjadi ketimpangan antara industri rekaman musik jazz dengan pentas musik jazz? Mengenai hal ini, Denny mengatakan, sesungguhnya penonton yang datang menyaksikan festival musik jazz hanya untuk gengsi.

"Memang sih, saya perhatikan mereka sangat menikmati musiknya. Tetapi, yang mereka nikmati itu bukan musik jazz murni, tetapi musik jazz yang sudah dikompromikan dengan musik pop, R&B, hip-hop, bahkan dangdut atau yang kita sebut jazz kontemporer," tambahnya. *


Last modified: 14/2/08