[JAKARTA] Badai Nicholas yang berpusat di pantai barat Australia masih akan mempengaruhi cuaca di wilayah selatan Indonesia. Akibat badai ini, beberapa daerah seperti di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara timur (NTT) masih akan diguyur hujan lebat.
"Kondisi ini akan terus berlangsung hingga dua hari ke depan," ujar Mezak Ratag, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), di Jakarta, Jumat (15/2).
Meski pusat badai ada di pantai barat Australia, tetapi dampak badai itu akan menarik massa udara yang membawa uap air yang ada di daerah sekitarnya sehingga curah hujan di daerah yang dilintasi ekor badai itu akan bertambah lebat. Badai Nicholas ini juga mempengaruhi terjadinya banjir di Bali yang terjadi hari ini.
Seperti dilaporkan Antara, Jumat pagi ini Bali diguyur hujan deras yang mengakibatkan ruas-ruas jalan di seputar kota Denpasar berubah menjadi "sungai", akibat saluran drainase tidak mampu menampung luapan air hujan.
Hujan yang terjadi dalam beberapa hari belakangan disertai dengan embusan angin kencang juga mengakibatkan sejumlah pohon penghijauan di pinggir jalan tumbang
Banjir melanda sejumlah daerah yang selama ini memang rawan banjir setiap musim hujan, antara lain di sekitar Perumahan Perumnas Monang Maning Denpasar, sebagian di wilayah Kuta dan Sesetan, Denpasar Selatan.
Timbulkan Banjir
Hujan lebat di atas normal disertai angin kencang berkecepatan 45 knot atau 90 kilometer per jam yang tengah melanda NTT, disebabkan Badai Nicholas. Selain menimbulkan banjir di berbagai daerah, badai ini menimbulkan gelombang besar di berbagai pesisir pantai.
Kepala BMG Kelas II El Tari Kupang, Albertus Kusbagio kepada SP di Kupang, Jumat pagi mengatakan, Badai Nicholas saat ini sedang bergerak ke selatan dan hampir mencapai benua Australia. Diperkirakan, badai ini segera berlalu dari NTT setelah memasuki Australia sekitar Minggu (17/2).
Dijelaskan, badai ini disebabkan adanya pusat tekanan rendah di selatan Pulau Timor yang mencapai 1.000 milibar. Tekanan rendah ini memicu pergerakan awan yang menimbulkan hujan lebat disertai embusan angin kencang. Di mana, curah hujan selama 14 hari terakhir sudah mencapai 418,3 milimeter.
Menurut Albert, seluruh wilayah NTT juga tengah dilanda La Nina yang ditandai dengan tingginya curah hujan akibat anomali suhu permukaan laut yang terus menghangat.
Kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan awan yang tinggi dan memungkinkan hujan terus mengguyur daerah tersebut. Angin kencang juga menyebabkan tingginya gelombang laut dan sangat rawan bagi aktivitas pelayaran.
Secara terpisah, Bupati Ngada, Piet Nuwa Wea mengatakan, tujuh buah rumah adat di kampung Bula, Jerebu'u porak-poranda setelah dilanda puting beliung, Kamis (14/2) petang.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerugian material diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah karena hancurnya tiga lambang adat yang disebut bhaga. [E-7/120]