SUARA PEMBARUAN DAILY

Akibat Gelombang Besar

15 Perahu Tak Diketahui Posisinya

[MALANG] Akibat melaut dengan kondisi cuaca buruk, sejak Senin (11/2), sampai lima hari terakhir ada 15 dari 17 perahu nelayan Pantai Sendangbiru, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim) belum diketahui nasibnya. Dua perahu berawak empat dan enam orang itu dilaporkan terdampar di Pantai Puger, Kabupaten Jember, Jatim.

"Yang lainnya masih belum kita ketahui," ujar Ali Mustofa (50), pemilik dua kapal nelayan pencari ikan, Jumat (15/2) pagi. Ia yang semula gelisah, kini lega setelah menerima informasi dari awak kapalnya bahwa kedua kapal miliknya terhempas di Pantai Puger.

Ada sedikit kerusakan, namun yang penting kapal dan awaknya selamat. Kedua kapal itu merapat ke Pantai Puger, tanpa membawa hasil tangkapan.

Diakui, kapal-kapal nelayan Pantai Sendangbiru jenis sekoci yang biasanya mampu membawa pulang delapan hingga sepuluh ton ikan tangkapan itu selama ini hanya mengandalkan alat Global Positioning System (GPS), tanpa alat komunikasi radio.

"Hampir semua kapal di sini tidak memakai radio komunikasi, karena harganya mahal dan cepat rusak terguyur air laut," kata Ali Mustofa.

Selama musim gelombang besar dalam sebulan terakhir, sudah ada dua kapal nelayan, satu di antaranya kapal Amak Raya 01 dengan nahkoda Ambok Baharuddin tenggelam di tengah laut, namun empat orang awaknya berhasil diselamatkan nelayan Sendangbiru. Sedang satu kapal nelayan lain milik nelayan Pantai Ngliyep, Malang tidak diketahui namanya.

Sementara itu, H Samiuddin (60) pemilik beberapa unit kapal nelayan di Pantai Sendangbiru mengungkapkan, ada lima unit kapal jenis sekoci miliknya dengan 30 orang awak, sampai tadi pagi belum ada kabar di mana posisinya.

"Mereka berangkat Senin lalu bersama sejumlah nelayan, tetapi sampai batas waktu empat hari, mereka belum kembali," ujarnya sambil berharap hari ini kapal-kapal miliknya sudah merapat kembali ke Pantai Sendangbiru.

Mustofa, Samiuddin maupun pemilik kapal-kapal nelayan lainnya kini bersama-sama para istri awak kapal menunggu di tempat pendaratan ikan (TPI) Pondokdadap dengan harap-harap cemas atas keselamatan suami mereka.

"Kami beserta para istri ABK masih bertahan menunggu kedatangan mereka (nelayan yang belum pulang)," ujar Samiuddin.

Belum Kembali

Sebanyak tujuh nelayan asal Kampung Gowa, Desa Blimbing, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jatim yang melaut sejak 1 Februari 2008 di- laporkan belum kembali ke rumah, sampai Kamis (14/2) siang.

Hal ini mengakibatkan semua keluarga para nelayan cemas, apalagi di tengah cuaca buruk dan gelombang Laut Jawa yang mengganas.

Hanif, keluarga nelayan yang belum kembali mengatakan, ketujuh nelayan ini sudah sejak awal bulan berangkat ke Laut Jawa untuk mencari ikan. Namun, hingga kini belum juga kembali, sehingga keluarga merasa khawatir. "Biasanya kalau melaut paling lama hanya 7 hari, tapi hingga kini ternyata mereka belum juga kembali," kata Hanif di Lamongan.

Ketujuh nelayan tersebut berangkat dengan menggunakan perahu kecil yang oleh warga biasanya disebut perahu ijon. Keluarga para nelayan sudah berusaha mencari kemana-mana, tapi hingga kini belum mengetahui kabarnya. Ketujuh nelayan yang belum pulang yaitu, Rozik, Iib, Sokib, Menteg, Mastain, Sulikin dan Iwan.

Kepala Dinas Perikanan Kelautan dan Peternakan Pemerintah Kabupaten Lamongan, Mustakim Arif membenarkan, kalau ada 7 nelayan Lamongan yang hingga kini belum diketahui kabarnya.

Nelayan di Kota Bengkulu hingga saat ini masih takut melaut, menyusul badai dan gelombang di perairan laut daerah ini masih tinggi di atas lima meter, sehingga jika mereka melaut khawatir disampu gelombang.

Sejumlah nelayan di TPI Pulau Baai, Kamis (14/2) petang mengakui hal tersebut. "Kita belum berani pergi ke laut karena gelombang di laut masih tinggi di atas lima meter. Daripada melaut tidak pulang lebih baik kita tunggu sampai badai dan gelombang normal," ujar Buyung Ketek (45), nelayan Pulau Baai. [ES/070/143/148]


Last modified: 15/2/08