SUARA PEMBARUAN DAILY

Etos Akademik Perguruan Tinggi Sangat Lemah

[JAKARTA] Etos akademik perguruan tinggi di Indonesia masih sangat lemah. Sudah waktunya dilakukan perubahan paradigma, pola pikir, serta manajerial pengelola dan penyelenggara pendidikan tinggi dengan mengedepankan aspek transformasi serta keunggulan institusional.

"Namun hal itu harus didukung oleh sikap profesional serta sumber daya manusia pendidikan tinggi yang tangguh," ujar Rektor Universitas Pelita Harapan (UPH), Jonathan L Parapak, kepada SP, seusai acara pengukuhan guru besar tetap Fakultas Desain dan Teknik Perencanaan UPH, Yongky Safanayong, di Kampus Lippo Karawaci, Tangerang, Kamis (14/2).

Parapak mengatakan, insan pendidikan tinggi sudah waktunya melakukan transformasi serta membuat terobosan secara inovatif dan kreatif, sehingga dapat terus mampu menjawab tantangan perubahan zaman, namun harus mengikuti dinamika perkembangan masyarakat.

"Bukan lagi waktunya etos akademik berjalan secara tradisional. Jika tidak segera mentransformasi diri, perguruan tinggi di Indonesia akan terus tertinggal," ujar Parapak

Menurut dia, salah satu kunci berkembangpesatnya pendidikan di UPH adalah selalu berusaha mencari inovasi, mendorong seluruh pihak untuk terus berkreativitas, dan memanfaatkan semaksimal mungkin sumber daya manusia.

"Bahkan kami selalu berusaha mencari dosen atau tenaga pengajar terbaik di Indonesia, juga dari negara lain, untuk mau bergabung dengan UPH. Inilah salah satu kunci keunggulan kami," tuturnya.

Sementara itu, Yongky Safanayong menegaskan bahwa yang paling penting dalam penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan tinggi di Indonesia adalah tidak lagi menekankan pada kebutuhan menghasilkan sarjana siap pakai. Konsep pendidikan harus lebih mendorong peserta didiknya menjadi sarjana pencipta.

Dia tidak setuju dengan konsepsi dikotomi atau pemisahan pendidikan tinggi negeri dan swasta yang kemudian terjebak dalam konsepsi persaingan. Menurutnya, seluruh elemen penyelenggara pendidikan mempunyai nilai tambah atau nilai lebih. Jika seluruh kekuatan nilai-nilai tambah itu disinergikan akan menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat untuk melahirkan dan membuat sesuatu bagi bangsa ini.

Pengangguran Terdidik

Sedangkan dosen dan pengamat pendidikan, Dr Irawan Husein, menegaskan, saat ini terlihat semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, kecenderungan untuk bekerja secara mandiri semakin rendah. Menurutnya, ada kecenderungan mereka menempuh pendidikan tinggi agar bisa masuk menjadi karyawan di perusahaan besar.

"Pertanyaannya, apa yang dilakukan perguruan tinggi kita sehingga sebagian besar lulusannya cenderung menjadi pengangguran terdidik. Buruknya mutu lulusan tidak lepas dari kondisi objektif perguruan tinggi itu sendiri. Secara umum, kondisi objektif perguruan tinggi di Indonesia memang masih jauh dari mutu yang ideal," ujarnya.

Hasil penelitian Asiaweek 2000, ungkapnya, menunjukkan bahwa daya saing perguruan tinggi di Indonesia rendah, dan sangat sedikit perguruan tinggi yang mampu masuk kategori 20 besar di kawasan Asia.

Dia mengatakan, banyak perguruan tinggi yang menampilkan perilaku tidak ubahnya seperti pedagang kaki lima. Banyak yang hanya melayani selera pasar tanpa memperdulikan tugas utamanya sebagai institusi yang mengajarkan kebenaran, menemukan kebenaran, dan membangun nilai-nilai baru. [E-5]


Last modified: 14/2/08