SUARA PEMBARUAN DAILY

Senjata Api Ilegal

Banyak Pihak Terlibat

[TANGERANG] Polres Bandara Soekarno-Hatta (BSH) mensinyalir kasus pengiriman senjata api ilegal dari Amerika Serikat (AS) yang dikirim melalui kargo ke dokter Andreas Kodijat beralamat di Bandung, melibatkan banyak pihak dan merupakan suatu jaringan besar. Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bandar Udara Soekarno-Hatta Ajun Komisaris Taufik Hidayat mengatakan, selain Andreas, pihaknya juga melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi lainnya. "Belum ditentukan apakah saksi itu jadi tersangka. Sekarang orangnya masih baru dijemput dan masih dalam perjalanan," kata Taufik Hidayat yang ditemui Kamis (14/2).

Menurut Taufik, hasil pemeriksaan sementara tersangka Andreas mempunyai hubungan bisnis dengan Gery D Funderburg yang beralamat di 6408 New York 30 Th Terrade, Bethany, AS. Namun, apakah Funderburg akan juga dinyatakan sebagai tersangka, Taufik mengatakan masalah ini harus dikaji dan disidik secara mendalam.

Dia enggan menyebutkan siapa saja anggota jaringan yang terlibat. "Jaringannya besar dan melibatkan banyak pihak. Ini menyangkut masalah keamanan negara dan sangat sensitif. Biarkan penyidik bekerja dulu. Pekan depan akan kita rilis secara terbuka," katanya.

Namun diakui, senjata api ilegal jenis laras panjang dan pistol itu biasa digunakan di kalangan militer. "Sekali lagi ini menyangkut keamanan negara. Pimpinan Polri juga berpesan untuk berhati-hati menangani masalah ini," ujar Taufik singkat.
Andreas, warga Jalan Elang VII Nomor 9, Bandung, Jawa Barat, yang berprofesi sebagai dokter umum ini ditetapkan sebagai tersangka Selasa (12/2) sebagai penerima paket kiriman senjata api ilegal dari AS.

Paket itu tiba 3 Februari. Unit intelijen dan Analisis Dokumen di Bea dan Cukai (BC) BSH curiga dengan dua paket yang dikemas dalam dua kardus itu. Kecurigaan itu berawal dari berat timbangan terdapat selisih cukup jauh. Dalam dokumen disebutkan berat timbangan paket berupa onderdil mobil hanya 160 kg. Namun ternyata berat sesungguhnya yang dalam paket pengiriman beratnya 200 kg. Perbedaan berat ini kemudian ditindaklanjuti pemeriksaan fisik karena dipastikan ada benda lain yang dikirim diluar onderdil mobil. Dugaan petugas terbukti ketika didalam paket ditemukan rangkaian senjata api dan amunisi.

Koordinator Lapangan Penyidikan dan Penindakan BC BSH Bagus Hendrowibowo menyatakan, Andreas sebenarnya sudah mau mengambil kiriman itu pada Sabtu. Namun petugas menyatakan perlu penjelasan mengapa ada kiriman senjata.

Andreas mengaku barang itu punya temannya seorang anggota unit elit di jajaran kepolisian. Penyidik BC kemudian memintanya datang bersama teman yang disebutnya sebagai pemilik barang kiriman itu. Namun ketika datang pada Senin lalu, Andreas ternyata sendirian. Saat itu dia mengaku barang kiriman itu salah alamat dari seharusnya dikirim ke Irak. [132]


Last modified: 15/2/08