SUARA PEMBARUAN DAILY

100 Tahun Nahum Situmorang

Makam Baru dan Pesan Misterius "Pulo Samosir"

Molo marujung ma, muse ngolungku sai ingot ma Anggo bankengku disi tanomonmu, Disi udeanhu, sarihon ma

Sepenggal bait lagu berjudul Pulo Samosir ciptaan seniman legendaris asal Tanah Batak, Nahum Situmorang (1908-1969), sempat menjadi perbincangan hangat dalam rapat pengurus Keluarga Besar Situmorang se-Medan pada Desember 2007. Ada pesan misterius di lagu itu. Secara sederhana, jika diartikan dalam bahasa Indonesia, bait lagu tersebut bermakna,

"Kalau akhirnya saya meninggal, ingatlah, kuburlah jasadku di sana. Sebab di sana lah tinggalku, perhatikan lah."

Ketua Dewan Pembina Ikatan Keluarga Pewaris Komponis (IKPK) Nahum Situmorang, J Tagor Situmorang mengatakan, seluruh pewaris menilai, bait itu pesan terakhir Nahum agar dia dimakamkan di Pulau Samosir. Meskipun tidak pernah tinggal di pulau yang letaknya di tengah Danau Toba itu, sebagai putra Batak bermarga Situmorang, Nahum mengerti betul, Samosir adalah tanah kelahiran Situmorang.

"Pesan itu mendorong kami menyiapkan makam baru di Pulau Samosir. Sebab selama ini makam Nahum di TPU Jalan Gadjah Mada, Medan, sudah kurang layak untuk seorang komponis besar lagu-lagu Batak, karena tidak bertembok dan di pinggir jalan umum," tutur Tagor kepada SP di Jakarta, Kamis (14/2) bertepatan 100 hari kelahiran Nahum Situmorang.

IKPK tidak menggelar acara akbar peringatan 100 tahun Nahum. Mereka hanya mengadakan kebaktian kecil. Namun, momentum 100 tahun Nahum menjadi awal program pembangunan makam baru dan museum Nahum di Desa Urat, Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara. Saat ini IKPK tengah menghimpun dana pembangunan yang diperkirakan senilai Rp 960 juta. Museum itu akan dibangun berdampingan dengan makam dan menjadi salah satu objek wisata di Pulau Samosir.

"Awalnya kami ingin tampil di televisi menyajikan lagu-lagu ciptaan Nahum bersama artis-artis asal Tanah Batak, tetapi karena dana tidak cukup, akhirnya hanya kami rayakan kecil-kecilan," katanya.

Tidak banyak catatan sejarah tentang Nahum yang hidup melajang hingga akhir hayatnya. Ahli warisnya yang notabene keturunan tujuh orang saudara kandung anak Guru Kilian Situmorang menyebut, Nahum lahir di Sipirok 14 Februari 1908.

Sejak di Sekolah Dasar, anak ke-5 dari delapan bersaudara ini suka menyanyi. Pendidikan terakhirnya, Sekolah Guru Kweekschool di Lembang, Bandung (lulus tahun1928). Nahum ikut Barisan Perintis Kemerdekaan sebagai anggota Kongres Pemuda pada 1928. Dia sempat mengikuti lomba menciptakan lagu kebangsaan. Ketika itu WR Supratman juara pertama, Nahum juara kedua.

Beralih Profesi

Pada 1929-1932, Nahum bekerja di Sekolah Partikelir Bataksche Studiefonds di Sibolga. Kemudian, dia pindah ke Tarutung dan ikut abangnya yang juga guru, Sophar Situmorang. Mereka mendirikan HIS-Partikelir Instituut Vor Wester Lager Onderwijs hingga kedatangan Jepang pada 1942. Saat itu Nahum mulai banyak mencipta lagu.

Bersama rombongan yang dipimpin Raja Buntal Sinambela, putra pahlawan Sisingamangaraja XII, Nahum menjuarai lomba Sumatera Keroncong Concourse di Medan (1936). Kemudian, pada 1942-1945, dia membuka restoran dan menjadi pemusik Jepang Sendenhan Hondohan. Nahum kemudian beralih profesi jadi pedagang emas. Saat itulah dia mencipta lagu-lagu perjuangan. Empat tahun berikutnya, Nahum mengadu nasib ke Medan. Dia menjadi broker mobil sambil meneruskan karir sebagai penyanyi.

"Selama 30 tahun, dia sudah mencipta 140 lagu. Periode 1950-1960 adalah masa produktifnya mencipta lagu, seperti Lissoi, Alusi Au, Ketabo," ujar Tagor. Beberapa lagu Nahum lainnya seperti Anakkonki do Hasangapon di Ahu, Alani Ho, Sitogol, dan Tumba Goreng.

Nahum juga menciptakan Situmorang Nabonggal yang menjadi "lagu kebangsaan" marga Situmorang. Hingga kini, lagu itu selalu dinyanyikan di acara adat dan pertemuan marga Situmorang ataupun di pesta pernikahan. [SP/Yuliantino Situmorang]


Last modified: 15/2/08