SUARA PEMBARUAN DAILY

Alumni ISI Bentuk Komunitas Ngasri

SP/Ignatius Liliek

Pengunjung memperhatikan sebuah karya lukis pada Pameran Seni Visual di Rumah Darmint, Jakarta, Jumat (14/1). Pameran Seni Visual karya dari Komunitas Ngasri ini menampilkan karya visual dua dan tiga dimensi. Pameran ini berlangsung sampai dengan Kamis (21/2).

[JAKARTA] Dilatarbelakangi kerinduan pada teman-teman di bangku kuliah dan untuk membebaskan ekspresi seni, alumni Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) atau yang sekarang ini bernama Institut Seni Indonesia (ISI) dari Yogyakarta membentuk dan meresmikan Komunitas Ngasri.

Selain itu, komunitas ini juga Komunitas menjawab kerinduan ekspresi seni para alumnus. Makan, bersamaan dengan peresmian komunitas perupa dan pemahat tersebut digelar pameran lukisan dan patung di Rumah Darmint, Tebet Utara, Jakarta Selatan pada akhir pekan.

"Komunitas Ngasri akan menjadi tempat kami berkumpul, bereuni dengan alumni-alumni ASRI dari berbagai angkatan. Lewat komunitas ini kami akan menuangkan kerinduan kami untuk melukis apapun yang kami mau dan membebaskan ekspresi kami," tutur Ketua Komunitas Ngasri Agus Istijanto.

Selama ini, ujarnya, ekspresi seni terbatas karena beberapa hal. Seperti, kesibukan masing-masing yang berbeda. Agus berharap Komunitas Ngasri mampu menjaga komitmen untuk menggelar pameran lukisan dan patung sebagai agenda tahunan, dan Rumah Darmint menjadi wadah untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan budaya dan komunitas.

Selain peresmian komunitas, digelar pameran lukisan dan patung dari sembilan seniman yakni, Agus Istijanto, Ady Laksono, Bambang Winaryo, Christianto, Herman Widianto, Hari Mul, Ichlas Taufik, Mas Padhik, S Warudju, dan Vincensius. Masing-masing memamerkan kepiawaian mereka menoreh kuas di atas kanvas, termasuk Bambang, satu-satunya pemahat di komunitas ini. Bambang memamerkan dua karya lukis dan enam patung hasil pahatannya.

Karya patung antara lain, Lonely yang dibuat tahun 2005 dengan media logam perunggu, Ekspresi Kuda Lumping tahun 2007 dengan media fiber stone dan Keluarga Sejahtera.

Kepiawaian Bambang memahat terbukti lewat karya patung Harap Asa. Patung ini sangat menggugah, menggambarkan seorang pria yang tersungkur tak berdaya bersandar di bongkahan bangunan. Bambang mampu membuat satu cerita dari karyanya tersebut dengan detail ekspresi wajah dari pria itu. Dia juga detail membentuk pecahan batu-batu dari bangunan dalam karya senilai 40 juta rupiah tersebut.

Di samping patung, Bambang juga memamerkan dua lukisannya berjudul Jaranan dan Cucak Rowo. Sementara, S Warudju menampilkan dua karyanya berjudul Women Enforce I, Women Enforce II dan About Apple Again yang berbicara tentang ruang. Lukisan-lukisan Warudju menonjolkan warna-warna cerah. Berbeda dengan empat karya Mas Padhik berjudul Budha, Bunga Alamanda, Merpati Putih, dan Kendedes. Karya-karya ini didominasi warna-warna yang lebih lembut seperti hijau tanah liat.

"Dari sisi warna maupun lukisan, karya saya ini menggambarkan kedamaian, kasih sayang dan cinta yang tulus. Cinta yang saya maksud tidak melulu soal pasangan, tapi cinta secara keseluruhan. Cinta dengan sesama, cinta dengan lingkungan," ujar Mas Padhik. Jika menengok karya Agus berjudul Kawin Lari, seolah banting stir dari berbicara cinta ke politik. Menurutnya, pemikiran politik memang melatarbelakangi karyanya. [CNV/N-4]


Last modified: 15/2/08