[JAKARTA] Harga bahan baku pakan ternak pada Januari tercatat melonjak rata-rata 76,58 persen dibandingkan harga komoditas itu pada November 2007. Dari semula Rp 2.742 per kilogram (kg) menjadi Rp 4.850 per kg. Kondisi yang sama juga terjadi pada harga pakan unggas. Bila November 2007, harga pakan itu Rp2.500 per kg, pada Januari - Februari meningkat menjadi Rp 4.200 per kg.
Direktur Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Tjeppy D Sudjana mengakui, penyebab mahalnya pakan karena lebih dari 70 persen bahan baku pakan seperti jagung, bungkil kedelai, dan tepung tulang/daging (meat bone meal/MBM) tergantung pada impor.
Saat dihubungi SP di Jakarta , Kamis (14/2) , Tjeppy mengakui sulit menghindari besarnya ketergantungan bahan baku impor tersebut. Industri terkait hanya dapat menunggu ketersediaan jagung lokal untuk mengatasi lonjakan harga komoditas itu.
"Produksi lokal sedang diusahakan segera dinaikkan sebesar 20 persen dari 13,28 juta ton tahun lalu menjadi 15,93 juta ton pada 2008. Sudah ada bantuan benih Rp 380 miliar dan alat pengering," katanya .
Sebetulnya, menurut Tjeppy, Deptan sedang gencar-gencarnya mengampanyekan diversifikasi bahan baku dengan memanfaatkan produk lokal, seperti lumpur sawit dan bungkil inti sawit. Namun Ia mengakui penyerapan bahan baku pangan lokal masih terkendala jaminan ketersediaan produk itu di dalam negeri.
Menanggapi Dirjen Peternakan, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Budiarto Soebijanto mengemukakan kondisi kenaikan harga bahan baku itu memang telah menekan industri di sektor tersebut.
Persoalan distribusi jagung lagi-lagi menjadi masalah dalam pengadaan bahan baku pakan. Jagung dalam negeri tidak bias didapatkan sepanjang tahun karena hanya melimpah pada bulan-bulan tertentu saja.
Sementara itu, harga jagung impor sekarang sudah Rp3.000 per kg. "Barangnya tidak ada, bagaimana tidak impor. Kalangan industri pakan berharap dalam jangka pendek ini pemerintah dapat saja menghapuskan BM jagung biaya produksi pakan bias ditekan," kata Budiarto.. Pasalnya, jika kondisi ini terus berlangsung, dia mengungkapkan produsen pakan ternak akan terus menaikkan harga produknya kendati ini menekan margin peternak.
Berkaitan dengan imbauan penggunaan produk lokal, Budiarto mengatakan penggunaan bahan baku lokal memang bisa dilakukan. Namun, ketersediaan produk hingga kini tidak dapat dijamin dan tentunya akan lebih mempersulit produsen pakan.
Ia mengaku kesulitan mencari bungkil inti sawit yang bersih dari cangkang sawit. Selain itu, penggunaan bahan-bahan tersebut baru berhasil pada skala penelitian, masih perlu pembuktian di lapangan. [L-11]