SUARA PEMBARUAN DAILY

TAJUK RENCANA I

Perlu Edukasi Hidup Sehat

Setelah banjir lewat, tak lama lagi akan datang serbuan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Siklus itu terjadi tiap tahun. Seperti menghadapi banjir kita selalu tidak siap, meskipun terjadi rutin tiap tahun, demikian pun dalam menghadapi DBD kita juga selalu tak siap. Wabah DBD dilaporkan kembali merebak di Kota Medan sejak Januari 2008. Dari 97 pasien yang dirawat di RS Pirngadi Medan, empat orang meninggal dunia. Akankah wabah DBD juga akan meledak di kota-kita lain di negeri ini?

Kemungkinan itu besar terjadi. DBD atau Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan air laut. Ini berarti hampir seluruh wilayah Indonesia terancam demam berdarah.

Penyakit ini ditandai dengan gejala demam disertai sakit kepala berat dan bercak merah pada kulit. Penyakit DBD sering kali salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tifus, karena infeksi virus dengue bersifat asimtomatik atau tidak jelas gejalanya.

DBD bukan penyakit baru bagi kita. Dulu siklus DBD selalu terjadi pada saat pancaroba atau musim hujan tiba. Beberapa tahun terakhir DBD sudah menyerang sepanjang tahun. Artinya, kapan saja seseorang bisa terjangkit DBD.

Semua itu bermula dari sanitasi lingkungan yang makin buruk. Banjir berlalu meninggalkan lingkungan yang tidak sehat. Kualitas sanitasi lingkungan bahkan terus menurun. Merosotnya mutu kualitas lingkungan itu erat kaitannya dengan pola hidup sehat dan meningkatnya angka kemiskinan di negeri ini, terutama di kota-kota besar.

Lantas apa yang telah dilakukan pemerintah selama ini untuk mencegah, kemudian memberantas DBD? Antara lain menggerakkan masyarakat untuk memberantas sarang nyamuk melalui pengorganisasian dalam kelompok-kelompok kerja operasional. Selain itu, pemerintah juga sudah berulang kali menayangkan iklan layanan masyarakat di televisi, menyebarkan selebaran, dan selalu mengingatkan melalui berbagai media tentang pentingnya menjaga kebersihan dan memberantas sarang nyamuk. Namun upaya itu lebih bersifat anjuran, bukan imperatif. Dilakukan baik, tidak dilakukan tidak apa-apa. Maka, hasilnya belum maksimal. Keadaan menjadi lebih buruk karena sikap masyarakat sendiri yang tidak begitu peduli akan kesehatan dan sanitasi lingkungannya. Biasanya masyarakat baru mau peduli setelah terserang DBD.

Itulah yang selalu terjadi, kita baru menabuh genderang perang saat wabah DBD mulai merebak di mana-mana. Seharusnya pemerintah baik di daerah dan pusat lebih fokus pada tindakan preventif dan penyadaran kepada seluruh masyarakat. Bentuk penanganan korban yang dilakukan pemerintah baik di pusat maupun di daerah dengan memberikan layanan pengobatan cuma-cuma atau gratis kepada korban ternyata tidak cukup efektif untuk menumpas penyakit yang dapat mematikan tersebut. Pelayanan pengobatan secara gratis hanya menimbulkan efek kuratif minimal, tidak memberikan kesadaran dan belum mengedukasi masyarakat untuk melakukan pola hidup secara baik.

Karena itu, kinilah saatnya pemerintah mengajak dan membangun kesadaran masyarakat untuk tampil aktif dalam memerangi DBD. Kesadaran itu harus hidup sepanjang tahun, dan bukan hanya pada saat wabah DBD datang menyerang. Bukankah hidup sehat itu berlaku seumur hidup?


Last modified: 15/2/08