![]()
AFP/Bay ISMOYO
Para kerabat menangis saat pemakaman pemimpin pemberontak Mayor Alfredo Reinado di Dili, Timor Leste, Kamis (14/2).
[DILI] Sinyalemen yang dilontarkan Komandan Militer Timor Leste Brigadir Jenderal Taur Matan Ruak bahwa telah terjadi pembiaran oleh pasukan internasional, sehingga pasukan pemberontak bisa memasuki kediaman Ramos Horta dan Xanana Gusmao, mulai menemukan pembenaran. Sejumlah pihak juga menyoroti mengapa pemimpin pemberontak yang kabur dari tahanan dibiarkan berkeliaran mem-bawa senjata.
Sebuah media Australia, The Australian, Kamis (14/2), melaporkan telah menerima surat yang ditulis komandan pasukan stabilisasi internasional (ISF) Australia kepada pengacara Alfredo Reinado, pemimpin kelompok pemberontak yang diduga kuat melakukan upaya pembunuhan terhadap Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta, Senin (11/2) pagi.
Pada surat yang ditujukan pada Benny Benevides, pengacara Alfredo, disebutkan bahwa ISF tidak akan mencampuri pergerakan Alfredo Reinado. "Menurut rencana yang telah disetujui sebelumnya, selama periode dialog, pergerakan klien Anda tidak akan dicampuri," demikian antara lain yang disebutkan dalam surat itu.
Brigadir Jenderal John Hutcheson, dalam surat itu juga mengatakan bahwa ISF berwenang memeriksa siapapun yang terlihat membawa senjata tanpa izin. The Australian menyebut, tampaknya Alfredo Reinado mendapat dispensasi, meskipun terdapat fakta bahwa dia tahanan yang melarikan diri.
Pencarian Pemberontak
Pasukan Australia yang diperlengkapi dengan sejumlah helikopter tempur pada Kamis, memburu pada para tersangka pelaku penyerangan Horta.
Perburuan dilakukan setelah sejumlah keterangan baru yang terperinci diperoleh tentang bagaimana penyerangan itu menyebabkan Presiden Horta terluka parah.
Operasi yang juga melibatkan sejumlah pejabat kepolisian PBB dengan beberapa kendaraan tempur lapis baja berlangsung di sejumlah wilayah pinggiran Kota Dili. Pengejaran juga melibatkan pasukan yang diterjunkan langsung ke hutan-hutan.
Juru Bicara Militer Australia, Mayor Phil Pyke, Kamis (14/2), mengatakan operasi dilancarkan setelah "sekelompok orang yang terlibat dalam penyerangan berhasil diidentifikasi" berada di Desa Dare.
Sementara itu, ratusan pendukung Alfredo Reinado, direncanakan bergabung dengan keluarga, di antara penjagaan keamanan yang ketat, untuk menghadiri upacara pemakaman, di Maubisse, Dili, Kamis pagi.
Polisi antihuru-hara Portugal, tiba dengan dua jenasah di rumah keluarga, Rabu malam, dan harus mendorong kerumunan untuk bisa mengeluarkan dua peti mati dari kendaraan. Jenasah Alfredo Reinado dan Leopoldino Exposto ditaruh di atas meja yang dialasi kain linen putih.
Pemerintah Timor Leste dilaporkan telah menawarkan pemakaman militer bagi Alfredo dan pengawalnya, Leopoldino Exposto, tapi ditolak oleh keluarga.
Penutup peti dibuka sebagian, selama beberapa detik, diiringi ratapan dari keluarga, sementara sekitar 250 orang pendukung Alfredo Reinado, mengangkat kepalan tangan, sambil berteriak: "Viva." Peti mati kemudian ditutup, fotokopi hitam-putih menampakkan sang pemimpin pemberontak itu tergeletak tewas dalam ke- diaman Horta, ditaruh di sisi peti.
Sejauh ini, maksud Alfredo mengunjungi Horta, apakah untuk membunuh, menculik, atau berbicara, masih belum jelas. Pendukungnya, di Distrik Ermera, bersikeras Alfredo Reinado tidak memberikan indikasi pada mereka mengenai keinginannya membunuh Presiden. "Saya tidak tahu, siapa menjebak siapa," kata Benny Benevides.
"Saya tidak yakin, tapi dugaan saya dia diundang," tambahnya. Dia juga menyanggah isu yang beredar, bahwa partai Fretilin, telah menyuap bekas musuh mereka, Alfredo untuk membunuh Presiden dan Perdana Menteri, agar bisa dilakukan pemilihan baru.
Sementara itu, pengganti sementara Presiden Timor Leste telah menyetujui usul Xanana untuk memperpanjang pemberlakukan darurat sipil selama 10 hari, hingga 23 Februari.
Dari Darwin dilaporkan, Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta telah menjalani operasi ketiga, Rabu, dan dinyatakan telah dalam keadaan stabil, meski masih dalam kondisi yang sangat serius. Menurut dokter, Horta belum akan pulang ke Timor Leste hingga tiga pekan ke depan. [AFP/AP/B-14/E-9]