
icara tentang cinta, seringkali persepsi kita menyempit sebatas hubungan antara sepasang kekasih. Padahal makna cinta sesungguhnya lebih luas dan universal, dapat berupa cinta terhadap anak, teman, orangtua, lingkungan, negara, bahkan cinta terhadap diri sendiri.
Bahasan tentang cinta tidak akan ada habisnya. Terutama dalam konteks relasi antara laki-laki dan perempuan. Begitu banyak syair, lagu, film, yang dibuat dengan tema cinta, seakan cinta merupakan sumber gagasan yang tidak pernah mati, apalagi saat seseorang sedang mengalaminya. Seperti sebuah kutipan mengatakan: At the touch of love, everyone become a poet.
Tidak hanya itu saja, tema cinta pun dimanfaatkan oleh para produsen untuk menjual produk-produknya, atas nama cinta. Seperti sekarang ini, dalam rangka merayakan hari Valentine, ada berbagai macam produk barang dan jasa yang dijual dan memikat para konsumen yang ingin menyatakan rasa cintanya melalui benda-benda tersebut. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah benar hal-hal tersebut merupakan ungkapan rasa cinta ataukah hanya bagian dari pengaruh situasi yang sengaja diciptakan untuk itu?
Cinta dijelaskan sebagai sebuah perasaan yang mendalam dan mengandung kelekatan antar pribadi yang terlibat di dalamnya. Hubungan cinta dapat mengandung unsur eksklusivitas, perhatian, pesona, dan hasrat seksual. Kekuatan cinta tersebut menyebabkan pasangan memiliki keterlibatan emosional yang mendalam dan berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi pasangannya.
Memiliki hubungan cinta merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Namun, seberapa lama sebuah cinta dapat bertahan? Robert Sternberg (1984) mengemukakan tiga unsur yang harus ada agar hubungan cinta dapat bertahan, yaitu keintiman, gairah, dan komitmen. Ketiganya dapat merupakan satuan yang terpisah, atau gabungan dari dua unsur saja, namun sangat menentukan kualitas dari suatu hubungan.
Keintiman merupakan aspek emosional dari cinta, mencakup kedekatan, komunikasi, keinginan untuk saling berbagi dan mendukung. Gairah merupakan aspek motivasional, berupa dorongan yang dihasil- kan dari ketertarikan fisik, romantisme, dan hasrat seksual.
Komitmen, merupakan aspek kognitif dari cinta dimana adanya suatu keinginan untuk mengikatkan diri dan menjaga cinta yang telah bertumbuh setelah lewatnya fase "jatuh cinta".
Ketiga unsur cinta tersebut muncul secara bertahap dalam suatu hubungan. Pada awalnya, setelah dua pribadi merasa saling tertarik dan cocok, yang terbentuk adalah keintiman. Bila suatu hubungan tidak berkembang lebih lanjut, maka jenis hubungan yang terbentuk adalah sebatas rasa suka atau dapat menjadi hubungan persahabatan. Bila berlanjut dengan munculnya gairah, maka hubungan yang terbentuk adalah cinta romantis.

Suatu hubungan cinta yang hanya terdiri dari unsur gairah, menghasilkan bentuk hubungan yang berdasarkan pada dorongan birahi. Bila keadaan memaksa hubungan tersebut harus berlanjut dengan ikatan/komitmen, hubungan yang terbentuk menjadi bersifat negatif, tidak sehat, dan tidak dapat bertahan lama.
Tidak tertutup kemungkinan juga sebuah hubungan cinta hanya mengandung unsur komitmen saja. Hal ini dapat terjadi pada sebuah pernikahan hasil perjodohan dimana kedua belah pihak belum saling mengenal sebelumnya. Dalam perjalanannya, kedua unsur lain dapat berkembang, witing tresna jalaran saka kulina.
Bila unsur keintiman dan gairah tidak dapat bertumbuh, maka yang terbentuk adalah cinta yang hampa. Namun, bila kemudian muncul unsur keintiman, maka hubungan cinta berkembang menjadi sebuah pertemanan tanpa unsur gairah. Bentuk hubungan ini pun dapat ditemui pada pasangan usia lanjut saat unsur gairah bukan menjadi hal yang penting lagi.
Idealnya, sebuah hubungan cinta mencakup ketiga unsur di atas: keintiman, gairah, dan komitmen. Hubungan ini digambarkan sebagai cinta yang sempurna. Tentunya hal ini tidak dicapai dengan mudah. Perjuangan mencapai dan mempertahankan keintiman, gairah, serta komitmen memerlukan usaha yang tidak hanya dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Perlu dua orang untuk dapat menari tango.
Tidak sedikit pasangan yang gagal dalam membangun cinta yang sempurna. Ada pasangan yang pada awalnya dianggap serasi, namun dalam perjalanannya kehilangan salah satu unsur cinta tersebut. Perselingkuhan, perceraian, kekerasan, merupakan akibat dari kegagalan pasangan dalam membangun cinta yang sempurna.
Yang manakah bentuk hubungan cinta Anda?
Maria H Limyati - Wijayanto, Staf Pengajar Fakultas Psikologi Ukrida Jakarta