
Time after time I tell myself That I'm so lucky to be loving you So lucky to be the one you run to see In the evening when the day is throughI only know what I knowThe passing years will showYou kept my love so young, so newAnd time after time You'll hear me sayThat I'm so lucky to be loving you
ari Valentine (Valentine's day) awalnya ditetapkan untuk menghormati Santo Valentine yang mati martir pada tanggal 14 Februari. Perayaan ini tidak dikaitkan dengan unsur cinta sampai pada tahun 1382, seorang penyair dari Inggris, Geoffrey Chaucer, membuat puisi yang menyatakan tanggal 14 Februari adalah hari ketika burung-burung memilih pasangan.
Sejak itu, Valentine identik dengan cinta dan dirayakan dengan pemberian hadiah. Bunga dan cokelat dijadikan sebagai simbol cinta, membuat keduanya laris manis menjelang Valentine. Setelah Esther Rowland memproduksi kartu Valentine untuk pertama kali pada tahun 1847, miliaran kartu Valentine terjual setiap tahun, dan menempati posisi kedua terbesar setelah kartu Natal.
Perayaan hari Valentine menunjukkan satu hal, cinta masih menjadi topik penting. Sejumlah pakar berusaha mendefinisikan cinta. Namun apapun definisi Valentine, tampaknya lebih penting untuk memperhatikan bagaimana menjaga cinta. Karena berdasarkan survei pasar, kartu dan hadiah Valentine paling banyak dikirim pasangan yang belum ataupun yang baru menikah.
Kebanyakan orang mengatakan merasa tidak pantas lagi merayakan Valentine karena usia yang sudah menua. Namun, ternyata semakin lama pasangan bersama, semakin rendah frekuensi mereka merayakan Valentine, terlepas dari berapapun usia mereka. Jadi permasalahannya tidak terletak pada usia, melainkan pada usia hubungan itu sendiri.
Tampaknya cinta tidak lagi menggebu setelah hubungan berjalan sekian lama. Lantas menjadi pertanyaan, tidak dapatkah kita menjaga api cinta agar tidak memudar? Dua bait lagu di atas merupakan penggalan dari lagu lawas, Time After Time, yang pernah dilantunkan Frank Sinatra. Lagu ini dinyanyikan kembali oleh Claire Danes yang berperan sebagai Ann Grant dalam film Evening yang dirilis pertengahan 2007.
Film ini menceritakan cinta Ann Grant yang tidak pernah mati untuk kekasihnya, meskipun masing-masing telah menikah dengan orang lain. Menarik untuk disimak bahwa cinta tampaknya dapat abadi justru ketika tidak berlanjutan dalam suatu hubungan. Selain film Evening, masih banyak film lain yang menceritakan kisah sejenis.
Yang terbaru adalah film Love in the Time of Cholera, yang diadaptasi dari novel karya Gabriel García Márquez. Film ini bercerita tentang Florentino Ariza yang mencintai Fermina Daza, yang dipaksa menikah dengan pria lain.
Keduanya tetap saling mencintai sampai lebih dari setengah abad kemudian setelah suami Fermina meninggal dunia, Florentino datang kembali menemui Fermina. Sayangnya ketika cinta dilanjutkan dalam sebuah hubungan, kompleksitas hubungan itu sendiri akan menyulitkan kita untuk tetap menjaga agar cinta tidak memudar.
Hal inilah yang mendorong produser film Bridget Jones' Diary untuk membuat sekuel film ini guna menggambarkan realita bahwa memulai cinta tidak sesulit menjalani hubungan itu setelahnya. Saat mulai menjalin hubungan, kita umumnya mengalami optimistis bias, yakni terlalu optimis dalam memprediksi kelanggengan cinta. Kita mengenakan rose-coloured glasses sehingga semua tampak indah. Kita yakin dapat mencapai semboyan Cinderella : bahagia selamanya (happily ever after).
Kekurangan Pasangan
Namun seiring waktu, kita mulai melihat kekurangan pasangan. Bahkan yang awalnya sebuah kelebihan kini kita persepsikan sebagai berlebihan, sehingga kelebihan itu pun kini menjelma menjadi suatu kekurangan di mata kita. Kekurangan-kekurangan yang awalnya dapat ditoleransi kini terasa melampaui kekuatan kita untuk menerimanya.
"Kau begitu sempurna, dimataku kau begitu indah" yang didendangkan Andra and The Backbone tidak lagi berlaku dalam kondisi begini. Masing-masing dari kita menuntut pasangan untuk menjadi seperti yang kita inginkan. Jika tidak sesuai, kita menjadi marah karena menganggapnya tidak memahami kebutuhan kita.
Dalam kondisi ini, yang muncul adalah sikap saling menyalahkan. Kita mengklaim diri kita yang benar dan pasangan yang salah, namun tidak menyadari masing-masing menyumbang terhadap pertengkaran itu. Kata-kata yang terucap adalah yang meninggikan ego masing-masing, sehingga malah semakin saling menyakiti.
Tidak jarang dalam pertengkaran, akan terungkap kekecewaan yang bertumpuk dan mengungkit pengorbanan masing-masing. Alih-alih berempati, kita terkejut ternyata pasangan menyimpan kekesalan sedemikian rupa dan kemudian kita pun menuduhnya tidak tulus selama ini. Bila sudah begini, masalah awal pemicu pertengkaran tidak tertangani, dan pertengkaran malah memicu munculnya masalah baru.
Lama kelamaan, pertengkaran-pertengkaran semacam ini akan mengikis cinta dan memupuk emosi negatif pada pasangan. Jika kita mau mengintrospeksi diri, kita cenderung mencintai dengan cara yang kita anggap baik, bukan menyesuaikannya dengan kebutuhan pasangan. Akhirnya kita menganggap telah melakukan banyak hal untuk pasangan.
Kita bingung dan merasa upaya kita tidak dihargai ketika pasangan mengeluh tidak pernah merasa cukup dicintai. Hal ini sebenarnya dapat dihindari jika kita mencintai secara produktif dan altruistik, sebagaimana dikemukakan Erich Fromm, seorang filsuf dan psikolog asal Jerman, dalam bukunya The Art of Loving. Cinta menurut Fromm mengandung unsur kepedulian (care), tanggung jawab (responsibility), respek (respect), dan pengenalan (knowledge).
Hormat bukanlah rasa takut atau segan, melainkan menghargai keunikan pasangan dan meyakini dia dapat bertumbuh dengan keunikannya. Oleh karena itu, pengenalan lebih dalam terhadap pasangan sangat diperlukan, termasuk mengenali kebutuhan-kebutuhannya. Ketika hormat dan pengenalan ini disertai dengan tanggung jawab untuk peduli terhadap pasangan, maka cinta kita dapat membuat pasangan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Oleh karena itulah, dalam pandangan Fromm, cinta tidak pasif melainkan aktif bertindak. Sebuah contoh sederhana adalah kita tidak dapat mengatakan bahwa kita mencintai bunga jika kita tidak menyiramnya. Cinta yang peduli dan bertanggung jawab adalah cinta yang memberi, untuk memperkaya pasangan , pribadi, dan relasi itu sendiri. Itulah sebabnya konsep cinta yang ditawarkan Fromm disebut sebagai cinta yang produktif dan altruistik.
Dengan tujuan memperkaya relasi, maka memberi bukan berarti menuruti semua keinginan pasangan. Namun perlu diperhatikan jika kita hormat dan peduli terhadap pasangan, kita tidak menjadikan persepsi kita sebagai patokan dalam menilai kebutuhan pasangan perlu dipenuhi atau tidak.
Kita perlu menimbang apakah dengan memberikan itu hubungan kita dapat menjadi lebih baik dan apakah permintaannya sedemikian sulit untuk dipenuhi atau mengorbankan banyak pihak? Sebagai contoh, pasangan meminta kita untuk meneleponnya saat jam makan siang sebagai bentuk perhatian. Sebelum menganggapnya sebagai romantisme yang tidak perlu, ada baiknya dipikirkan apakah meluangkan waktu 5 menit dari 24 jam yang ada untuk meneleponnya sedemikian sulitnya sehingga dapat menjungkirbalikkan dunia kita? Jika jawabannya tidak, dan jika melakukannya justru dapat melekatkan hubungan, ketimbang berpikir negatif bahwa hal itu suatu kemanjaan, lebih baik kita lakukan dengan suka cita.

Dua Pihak
Konsep cinta yang ditawarkan Fromm tentu tidak akan berhasil jika hanya salah satu pasangan yang menjalankannya. It takes two for tango, demikian pula dalam mencintai. Jika hanya sepihak yang melakukan, hubungan menjadi tidak seimbang. Bukan tidak mungkin satu saat ia merasa lelah , dan apa yang telah dilakukannya untuk memberi kini dirasakannya sebagai pengorbanan.
Padahal memberi menurut Fromm bukanlah mengorbankan sesuatu. Tidak ada yang diambil dari diri kita, karena tujuannya justru memperkaya diri kita dan pasangan. Oleh karena itulah, kedua pihak harus saling memberi dengan hormat, empati, peduli, dan penuh tanggung jawab sehingga tercipta sebuah hubungan yang dewasa.
Dalam hubungan semacam ini, kita tidak akan meributkan hal-hal sepele yang membuang energi. Bukan berarti hubungan seperti ini akan bebas konflik. Pertengkaran akan selalu ada dalam setiap relasi. Namun pertengkaran tidak selalu buruk jika kita mengembalikan pada tujuan kita mencintai. Karena pertengkaran dapat mengungkap kebutuhan pasangan yang mungkin belum diutarakan.
Pertengkaran dapat menjadi cermin apakah selama ini kita mencintai dengan cara kita, bukan dengan cara yang diinginkan pasangan. Mencintai adalah sebuah proses, bukan sekedar perayaan dalam satu hari bernama hari Valentine. Kekuatan cinta justru teruji dalam keseharian relasi kita dengan pasangan.
Mungkin kita tidak lagi mengalami getar yang sama seperti awal hubungan. Namun dengan senantiasa memberi, penuh hormat, peduli, dan terus belajar mengenal pasangan, bukan tidak mungkin kita dapat merasakan sensasi yang lain. Sebuah getar tidak terlukiskan saat menemukan dari waktu ke waktu, betapa beruntung kita dapat mencintainya selama ini. Happy Valentine's Day.
Lianawati, Staf Pengajar Fakultas Psikologi Ukrida