anjir lumpur akibat jebolnya tanggul penahan lumpur, menjadi malapetaka tak terperikan untuk warga di tiga dusun di Desa Besuki, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Tanggul penahan lumpur di titik 39 dan 40 yang jebol pada Minggu (10/2) malam ini untuk ketiga kalinya.
Desa Besuki, Kecamatan Jabon ini berbatasan langsung dengan tanggul penahan lumpur, tetapi tidak termasuk dalam Peta Kawasan Terdampak seperti yang diatur di dalam Perpres No 14/2007. Sekitar 500 rumah di Desa Besuki sempat terendam air dan lumpur.
Lumpur masih mengendap di jalan, halaman rumah dan masuk ke dalam rumah warga. Warga tetap membiarkan genangan lumpur yang sudah mulai mengeras sampai Rabu (13/2) siang. Warga denggan menempati rumahnya kembali, setelah tertimpa musibah yang ketiga kalinya. Kepala Desa Besuki, M Shiroj mengakui warga berharap rumah dan tanahnya dibeli saja oleh Lapindo.
"Tetapi yang menjadi hambatan, tempat warga tidak termasuk dalam Peta Terdampak sehingga tidak bisa dilangsungkan proses jual-beli. Mereka bahkan enggan menerima bantuan dari pemerintah sebesar Rp 500.000 untuk bersih-bersih rumah," katanya.
Di antara ratusan rumah ini, termasuk rumah Mashudi yang sekaligus menjadi "pabrik" rokok kelinting. Mashudi dan tetangganya jatuh bangun dihantam banjir lumpur. Luberan lumpur yang ketiga, sangat luar biasa dampak kerusakannya.
Sebanyak 20 buah alat linting rokok milik Mashudi rusak. Bahan baku satu ton tembakau siap olah juga berantakan tak tersisa. Lumpur juga merusak sekitar
100.000 lembar kertas rokok dan 50.000 karton pembungkus rokok. Mashudi mengalami kerugian sekitar Rp 50 juta.
Dirumahkan
Omzet usaha rokok kelintingan ini, bisa mencapai Rp 800.000 per hari. Satu hari, Mashudi dan karyawannya mampu memproduksi sekitar 20 bal rokok. Harga setiap bal rokok Rp 40.000.
Mashudi memikirkan bagaimana kelanjutan 20 karyawannya. Mereka ini terpaksa "dirumahkan" sementara. Setiap buruh linting rokok ini mendapatkan bayaran borongan Rp 8.000 per bal. Setiap pekerja bisa memproduksi dua bal rokok per hari. Bisnis rokok industri rumahan ini, sudah beberapa kali jatuh bangun dan semenjak didera lumpur, beban yang dipikul Mashudi pada luberan lumpur yang ketiga ini, justru terasa sangat berat.
Mashudi mengaku masih belum mengetahui, apakah masih bisa menghidupkan kembali usaha kecilnya. Bukan hanya sekadar untuk melanjutkan kembali kesempatan usaha, tetapi memberikan kesempatan kepada tetangga bekerja. "Tolonglah, siapa yang bertanggung jawab atas hal ini? Lapindo atau pemerintah. Kami butuh ganti rugi untuk menjalankan lagi usaha ini," katanya.
Banjir lumpur di Desa Besuki, bukan hanya menenggelamkan sawah, rumah, pekarangan, dan jalan, tetapi juga sekolah-sekolah di desa tersebut. Sebanyak 79 siswa kelas 1 dan 2 SMK Jawahirul Ulum terpaksa libur. Beberapa siswa diinstruksikan untuk tetap masuk membantu membersihkan lumpur.
Kepala SMK Jawahirul Ulum, Besuki, Soiful Rochim mengatakan, banjir lumpur cukup memukul sekolah yang didirikan 2003. SMK Jawahirul Ulum baru saja mendapat bantuan dari pemerintah sebesar Rp150 juta untuk pembangunan satu gedung baru terdiri 6 kelas untuk menampung murid-murid baru mulai tahun 2008.
SDN Besuki 99 yang terletak tak jauh dari SMK Jawahirul Ulum, juga mengalami nasib yang sama. Meskipun tak separah kondisi di SMK Jawahirul Ulum, kegiatan belajar mengajar di sekolah ini juga terganggu. Luberan lumpur yang menimpa desa-desa di luar peta terdampak antara lain Desa Besuki, Peja- rakan, Kedungcangkring yang
masuk wilayah Kecamatan Jabon serta Desa Siring Barat dan Mindi yang masuk Kecamatan Porong. [Edi Soetedjo]