[SIDOARJO] Semburan liar air bercampur gas di luar semburan utama lumpur Lapindo, menimbulkan jilatan api. Api tersebut menyambar Lilik Nurjanah (42), warga RT 08 RW VII Jatirejo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (13/2) sore, menyebabkan luka bakar di wajah dan tubuhnya.
Menurut penuturan Suharto, warga setempat, Lilik adalah pedagang mi ayam yang hendak melayani pembeli. Dia menyalakan kompor gas, tidak diduga semburan api di belakang warung miliknya dengan cepat menyambar kompor yang baru dinyalakan.
Sambaran api tersebut menimbulkan kebakaran kecil di warung Lilik, kemudian menyambar wajah dan tubuhnya. Korban segera dilarikan ke Puskesmas Porong untuk mendapatkan perawatan. Kasus ini pertama kali terjadi.
Menurut Suharto, semburan liar itu muncul sekitar tiga bulan lalu dan sulit disumbat. Karena dinilai kandungan gasnya tidak berbahaya, kemudian dibiarkan. Tidak diduga semburan yang semula berupa air, pada Rabu (13/2) sore berubah menjadi api. Api tersebut menyambar warung dan wajah serta tubuh Lilik. Kebakaran, bisa dipadamkan setelah warga sekitar memadamkan api menggunakan air bercampur deterjen.
Hubungan Masyarakat Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), Achmad Zulkarnaen menduga semburan liar air yang muncul di belakang rumah Lilik, merupakan akumulasi gas yang ke luar. Begitu ada api akumulasi gas tadi cepat menyambar api yang dinyalakan. Kepada masyarakat diminta agar tidak menyalakan api di sekitar terjadinya semburan liar.
Sementara itu, RT 12 RW II Siring Barat, Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, dinyatakan sebagai lokasi berbahaya, karena gelembung liar yang sering muncul di daerah tersebut dinyatakan mudah terbakar. Guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, wilayah itu harus dikosongkan.
Penelitian
Hasil penelitian Tim Fergaco, perusahaan yang ditunjuk memantau gas di kawasan semburan lumpur bercampur gas Lapindo menyimpulkan, semburan liar yang sering muncul di daerah itu memiliki kandungan gas yang mudah terbakar.
Anggota Tim Fergaco, Dodie Irmawan mengatakan, kandungan gas mudah terbakar, low explosive limit (LEL) di daerah tersebut rata-rata 37 persen, tetapi pernah mencapai 77 persen. Dengan demikian, kandungan gas tersebut berbahaya karena mudah terbakar.
Sebelumnya Dodie mengatakan, gelembung liar yang sering muncul di berbagai tempat di sekitar kawasan semburan lumpur utama, karena terjadi penurunan tanah. Karena ada tekanan, maka memunculkan gelembung liar di berbagai tempat terutama di bekas sumur bor.
Kawasan Siring Barat merupakan daerah di luar peta terdampak lumpur. [080]