
emanasan global mengusik seniman untuk berekspresi. Lewat pameran bertajuk "Palon", pematung Noor Ibrahim menyuarakan keprihatinan pada kondisi alam. Kehancuran sudah di ambang batas toleransi.
Noor Ibrahim menggelar 42 karya yang dipamerkan di Galeri Nasional pada 7-17 Februari 2008. Pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 20 Juni 1966 ini menyebut, patung-patung logam itu adalah bentuk pemikiran akan kondisi alam yang semakin lama semakin hancur karena ulah manusia.
Patung karya Noor Ibrahim menggunakan media logam seperti kuningan, tembaga, besi, baja, dan perunggu. Dia sengaja menggunakan media itu karena logam merupakan pilihan tepat untuk melihat energi semesta. Energi tersebut mendekatkan manusia pada Sang Pencipta.
Pameran kali ini mengusung tema "Palon", yang mengandung makna memukul berulang-ulang menggunakan palu dari besi. "Palon" yang merupakan bahasa Jawa juga kerap dipergunakan untuk menyebut para "Mpu" dalam menciptakan keris.
Di pameran itu, tepatnya di luar gedung berdiri patung setinggi 550 cm yang berjudul Malaikat Dari Pasar Kembang. Bagi seniman jebolan Institut Seni Indonesia ini, patung malaikat yang terbuat dari kuningan dan tembaga tersebut merupakan gambaran tindakan manusia yang menghancurkan alam.
Di ruang pameran, mata pengunjung mulai dimanjakan dengan berbagai bentuk patung dalam berbagai ukuran. Cukup banyak patung yang memperlihatkan apa yang bakal terjadi jika manusia terus merusak alam sekitar. "Alam berbicara melalui bencana-bencana yang ditimbulkan, sehingga manusia sendiri yang menuai akibatnya," ujar Ibrahim.
Di ruangan selanjutnya, pengunjung seolah-olah berada di tengah hutan. Lantai penuh dengan dedaunan, dan ada satu patung utama yang tinggi terletak di bagian dalam galeri.

Ulah Manusia
Patung yang diberi judul Malaikat Keadilan tersebut merupakan kisah terakhir dari pesan yang ingin Ibrahim sampaikan, bahwa semua ulah manusia yang merusak alam akan membuat alam marah dan akan menghancurkan manusia.
Hal unik pada patung karyanya adalah permukaan yang memiliki banyak ceruk, tidak rata. Menurut Ibrahim, permukaan tersebut merupakan ekspresinya dalam menangkap keindahan alam. Seluruh unsur di alam merupakan bentuk yang tidak sempurna.
"Alam memiliki tekstur tidak beraturan yang absolut. Tidak ada satupun unsur alam yang rata, baik gunung, sungai, air, pohon, maupun unsur lain. Benda yang rata adalah ciptaan manusia, dan pencaharian kesempurnaan membuat manusia jauh dari alam," tuturnya.
Dari seluruh patung yang dipamerkan, 36 di antaranya terjual pada para pencinta seni patung, baik dalam maupun luar negeri. Disebutkan, animo pencinta seni patung dalam negeri semakin baik.
Sejak tahun 90-an, kata Noor, minat pencinta seni patung semakin bertambah, dan peluang pematung dalam negeri masih terbuka luas. Dibanding dengan jumlah pelukis, maka pematung Indonesia yang serius masih sangat sedikit, sehingga masih banyak peluang bagi para pematung untuk berkembang.
"Dengan peluang besar, kita akan semakin termotivasi untuk terus berkarya dan menghasilkan yang terbaik," kata Ibrahim.
Selama tiga tahun, Ibrahim berhasil membuat 50 patung yang kemudian diseleksi bersama kurator, Eddy Sutriyono, sehingga terpilih 42 patung yang kini dipamerkan. [CAT/N-4]