Suara pembaca dikirim melalui email opini@suarapembaruan.com atau Faks ke redaksi, disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku
Tari Poco-Poco merupakan budaya bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang besar, sudah sepatutnya kita melestarikan budaya Poco-Poco sebagai sebuah identitas diri. Jangan sampai terjadi kesalahan yang sama, ketika Reog Ponorogo diakui oleh Malaysia. Tetapi ada yang aneh dengan bangsa ini. Tari Poco-Poco yang seharusnya bisa dilakukan de-ngan gerak lembut dan menghibur, justru dijadikan anekdot (lucu-lucuan) untuk mengkritik.
Memang tidak ada yang melarang untuk menggunakan Poco-Poco sebagai media kritik. Tapi anekdot Poco-Poco (maju dua langkah, mundur dua langkah) yang dilontarkan Megawati dibungkus dengan aroma politik. Menurut saya, sasaran tembak Megawati sangat jelas, yaitu duet Yudhoyono-Kalla. Tujuan jangka panjangnya mengarah pada Pemilu 2009.
Saya melihat ada yang lucu dari anekdot Poco-Poco yang dilontar Megawati. Rakyat disuguhi panggung lucu, ketika anekdot Poco-Poco dibalas Jusuf Kalla dengan anekdot Dansa-Dansi. Kini, para politisi mulai membentuk opini publik untuk memban- dingkan, mana yang benar antara Poco-Poco dan dansa-dansi.
Dalam iklim demokrasi, saling kritik antara elite dan birokrasi merupakan hal yang wajar. Tapi jangan sampai kritik-kritik itu kemudian dibelokkan ke arah yang lebih personal untuk mencapai tujuan kepentingan politik. Tentu saja kondisi seperti ini tidak bagus bagi pendidikan politik kepada masyarakat.
Seharusnya, kritik Mega tak ditanggapi dengan keras. Saya justru kagum dengan apa yang dilakukan Yudhoyono. Sebagai orang yang jelas-jelas menjadi bidikan Megawati dalam anekdot Poco-Poco, Yudhoyono cukup tenang menanggapinya. Yudhoyono memang menanggapi kritik Mega. Tetapi saya pikir, cara menanggapi Yudhoyono cenderung lebih soft.
Krisnawati
Jl Kirey No 2A Depok-Jawa Barat
Super Mama Seleb Show Miskin Etika
Acara Super Mama Seleb Show Indosiar pernah meraih rating tertinggi pada periode tertentu. Tapi, acara reality show melibatkan selebriti itu menuai kritik keras. Poin kritik tertuju pada ucapan, candaan, serta celaan presenter (Eko Patrio dan Ruben) maupun komentator (Ivan Gunawan).
Perilaku mereka, pada saat-saat tertentu, memang keterlaluan dan tak layak tonton keluarga. Bahkan, Ivan Gunawan pernah keceplosan umpatan seputar "kebun binatang" yang tak layak tayang. Untung lekas sadar dan minta maaf. Tak perlu ditulis umpatan tersebut agar kita tak ikut menyebarkan ucapan tak layak konsumsi publik luas.
Akar masalah tayangan reality show terletak pada dipinggirkannya etika. Konsentrasi kru produksi acara (produser, floor director, presenter, komentator) hanya meraih rating. Telah menjadi rahasia umum, kru produksi mengemas acara yang mampu menghibur penonton. Untuk itu, acara menonjolkan adegan yang seru, gila, gokil, dan heboh. Lantas, pengarah studio (floor director) menerjemahkan dengan membangun "konflik" di atas pentas. Caranya, presenter dan komentator didorong melakukan "perang kata" dengan peluru: celaan, cercaan, hinaan, dan tindakan berlebihan.
Bila suasana masih garing-kering, peserta yang latah "dikerjai" habis-habisan, dan nilai kepantasan dan kesopanan diabaikan. Ketika semua terlarut suasana dan terpaut aura "heboh", ketentuan etis dan standar program acara diabaikan.
Demi kenyamanan penonton TV di rumah, ke depan kru produksi harus memperlakukan peserta acara reality show lebih fair, lebih mematuhi etika penyiaran, dan menghormati keragaman nilai/norma penonton. Di sisi lain, penonton perlu memahami bahwa acara reality show bukanlah realita sesungguhnya. Semua isi tayangan pasti direkayasa (by design). Jadi, penonton perlu menyelamatkan diri sendiri dengan cara terus mengasah keterampilan menonton acara TV secara cerdas dan sehat.
Teguh Imawan
Jakarta
Selaku nasabah setia BCA tergoda iklan di media "Inovasi KPR BCA Fix &Cap karena ada perbedaan lumayan suku bunga KPR kami miliki dengan bank lain. Oleh karena itu, kami berniat take over dari Bank Haga.
Setelah diproses dan menunggu selama 4-5 bulan tidak ada kabar dari BCA diterima atau ditolak. Setelah menanyakan kembali, pihak BCA mohon maaf datanya hilang dan diminta mengajukan mulai dari baru lagi dengan mengisi formulir. Formulir kembali diisi dan diproses dari awal. Kali ini proses berjalan baik dan lebih cepat dari sebelumnya dan dapat dikomunikasikan dengan baik.
Salah satu syarat take over, BCA meminta selembar surat dari Bank HAGA yang menyatakan bahwa bank Haga bersedia memberikan semua dokumen yang dijaminkan jika sudah dilunasi oleh BCA. Bank Haga tidak mau mengeluarkan surat tersebut. Setelah dihubungi BCA, bank Haga tetap tidak mau mengeluarkan surat tersebut karena dianggap tidak perlu! Semua dokumen akan diserahkan setelah dilunasi.
Kami merasa kedua bank tersebut bersikeras dengan keputusannya masing-masing dan kami sebagai nasabahnya yang dikorbankan. Apakah perbankan di Indonesia sekaku itu? Tidak ada kerja sama di antara bank untuk mencari solusinya?
Mohon penjelasan dari pejabat tinggi BCA maupun Haga, apakah kalian tahu ada nasabah anda yang dipermainkan oleh karyawan anda? Tahukah anda kami sudah lebih dari 14 tahun menjadi nasabah BCA dan nasabah pertama di Haga Gading Serpong? Dimana kepedulian kalian? Bagaimana solusinya ?
Untuk Bank Indonesia atau pejabat yang berwenang, apakah anda mempunyai wewenang untuk menindak karyawan bank yang tidak profesional?
Sekadar informasi, take over juga sudah disetujui oleh beberapa bank lain, tetapi tidak mengalami masalah apabila take over. Apakah hanya BCA saja yang membutuhkan surat jaminan? Mengapa Bank lain tidak mempersoalkan? Mengapa Haga keberatan mengeluarkan surat jaminan?
Solusi sederhana yang kami sarankan adalah transaksi take over disaksikan oleh notaris BCA, setelah bukti pembayaran lunas dilakukan, dan diverifikasi oleh Haga, dokumen bisa langsung diserahkan! Masa anda tidak percaya kepada notaris mereka sendiri?
Rudy H Tuntang
Union Motor Group Bulevar Raya BA 4 / 25-26 Gading Serpong Tangerang