Oleh Sukoyo
arena sudah mentradisi, pada 14 Februari 2008 sebagian masyarakat dari banyak negara kembali merayakan acara Valentine's Day, Hari Kasih Sayang. Konon, hari itu adalah saat paling tepat untuk mengungkapkan kasih sayang kepada orang-orang tercinta. Meskipun tidak harus soal asmara, tapi banyak orang yang mengungkapkannya dengan bunga, selain membacakan puisi, berbagi kue atau permen, memberikan kado, dan sebagainya.
Di era globalisasi, tak mungkin kita menghindari semua budaya asing. Banyak budaya asing yang sudah lama kita adopsi. Mulai dari cara berpakaian, sistem politik, perekonomian, seni, serta bidang-bidang kehidupan lainnya. Bahkan juga surat kabar, radio, dan televisi.
Pertanyaannya, perlukah kita merayakan Hari Kasih Sayang yang nota bene berasal dari budaya asing? Itu bergantung pada niat dan motivasinya. Tetapi, jangan lupa, peringatan tahun baru yang dirayakan setiap 1 Januari pun bukan budaya kita.
Ensiklopedia Katolik menyebutkan tiga versi tentang Valentine. Tetapi, versi terkenal adalah kisah Pendeta St.Valentine yang hidup pada akhir abad ke-3 Masehi di zaman Raja Romawi Claudius II. Pada 14 Februari 270 Masehi, Claudius II menghukum mati St. Valentine karena menentang sebagian perintahnya.
Versi kedua menyebutkan, Claudius II memandang para bujangan lebih tabah dalam berperang dibanding yang menikah karena sejak awal menolak berperang. Maka dia mengeluarkan perintah larangan menikah. Tetapi, St. Valentine menentangnya dan menikah di gereja dengan sembunyi-sembunyi sampai akhirnya diketahui Claudius II, lalu dia dipenjarakan.
Dalam penjara dia lalu berkenalan dengan putri seorang penjaga penjara yang penyakitan. St Valentine mengobatinya hingga sembuh, sekaligus jatuh cinta kepadanya. Sebelum dihukum mati, dia mengirim selembar kartu yang bertuliskan "Dari yang tulus cintanya, Valentine."
Romantika Cinta
Di Indonesia, perayaan Valentine's Day tidak kurang romantisnya. Ada kirim-kiriman ucapan Happy Valentine's Day lewat telepon, kartu, sms, telepon, atau secara live di tempat-tempat yang telah direncanakan jauh-jauh hari. Para pedagang bunga dan cokelat kebanjiran rejeki. Mal-mal, pantai, dan berbagai tempat nongkrong ramai dikunjungi pasangan muda-mudi yang sedang dimabuk cinta. Para tim kreatif membuat acara spesial Valentine's Day di sana, juga acara televisi.
Banyak pasangan muda-mudi yang tak dapat mendefinisikan cintanya. Meski keindahan kata-kata tak mampu mengungkapkan hakikat cinta, tapi setiap orang bias merasakannya, termasuk mereka yang mempersoalkan cinta. Jika, misalnya, penulis buku Das Kapital yakni Karl Marx mengatakan bahwa sejarah dunia adalah seputar pertarungan antarkelas dan status ekonomi, maka para pencinta pun bias mengatakan bahwa sejarah dunia ini merupakan sejarah cinta.
Banyak orang mengatakan dunia ini panggung sandiwara. Maka sandiwara dunia, seperti, dipertontonkan lewat film, novel, dan berbagai kisah dunia juga tak terlepas dari kisah cinta.
Para tim kreatif dalam film dan novel yakin bahwa tanpa cinta maka sandiwara dunia ini terasa hambar. Pada era modern, saat tradisi Valentine's Day tunduk pada kapitalisme, misalnya, betapa banyak dan mahalnya peralatan yang dibutuhkan kaum remaja di perkotaan untuk sekadar mengekspresikan cinta.
Para orang tua yang cemas ketika anak-anak muda mereka terbius oleh cinta yang membabi buta, buru-buru mengingatkan bahwa cinta tidak bisa diklaim sebagai milik muda-mudi semata-mata, tapi juga milik umum, milik semua makhluk Tuhan.
Kodrat cinta dari setiap manusia selalu menuntut perhatian orang lain. Namun, ketika tuntutannya terlalu besar seringkali pihak lain tidak sanggup memenuhi, sehingga jikalau masing-masing tidak memiliki toleransi, maka cepat atau lambat cinta mereka akan bubar di tengah jalan. Bahkan tidak sedikit yang terjebak dalam sikap kebencian atau permusuhan.
Hal itu karena cinta mereka kekeringan kasih. Kasih mengandung kesediaan untuk berkorban atau menerima kekurangan pihak lain dengan tulus-ikhlas. Dalam uraian "Khotbah di Bukit", Yesus memberikan statemen, "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5: 44).
Ajaran ini bukan hanya merupakan solusi yang terbaik untuk mengatasi masalah kebencian dan prasangka, tetapi sekaligus sebagai solusi praktis untuk menyinergikan antara cinta dan kasih. Meski demikian, timbul resistensi dari mereka yang salah paham atas ajaran ini. Golongan skeptis bahkan berasumsi bahwa sikap mengasihi terlalu muluk-muluk dan tidak praktis. Mereka menganggap ajaran ini tidak aplikabel dan sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi, cobalah kita berpikir jernih. Logikanya, bila banyak orang bisa belajar membenci - karena terus-menerus diprovokasi dan diagitasi nafsu kebencian, bukankah masuk akal bila mereka juga bisa belajar mengasihi? Suasana damai dari pengikisan ego ini harus dikondisikan setiap hari agar terjadi internalisasi nilai-nilai cinta-kasih dalam kehidupan setiap orang.
Intinya, ajaran cinta-kasih harus dipraktikkan dalam hidup keseharian. Kita bisa menjadi praktisi dari ajaran kasih yang mampu menembus sekat-sekat perbedaan bikinan ego manusia sendiri. Kita harus mengubah dunia yang penuh kebencian menjadi dunia yang banjir kasih-sayang. Untuk itu, pertama-tama kita perlu memahami akan makna kasih itu sendiri.
Dalam bahasa Yunani terdapat istilah agape. Kata ini mengandung makna kasih yang tentunya dibimbing dan dikendalikan oleh cahaya Ilahi. Refleksi kasih tidak harus berupa kehangatan cinta ragawi yang bersifat sensasional. Karena dibimbing oleh prinsip-prinsip keluhuran jiwa, kasih Ilahi ini akan menggerakkan setiap orang agar memberikan atensi-afeksi-empati-simpati kepada yang lain, sehingga cinta-kasihnya memancarkan kedamaian dan kebahagiaan di antara kita.
Penulis adalah pegiat pada Forum Studi dan DiskusiLintas Agama (Forsdila), Depok