[PADANG] Kerusakan hutan Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat (Sumbar) sudah sangat kritis. Dari 574.989 hektare (ha) hutan di Pessel, sekitar 160.422 ha kondisinya kritis. Lahan yang berhasil direboisasi pemerintah dengan melakukan penanaman kembali lahan-lahan kritis tersebut sejak 1999 sampai 2007, baru 2.877 ha.
Kepala Sub Dinas Kehutanan Kehutanan Pessel, Edi Suhartono kepada SP di Painan, baru-baru ini menyebutkan, upaya penanggulangan dengan menanam kembali lahan-lahan kritis tersebut, pemerintah membagi atas dua kelompok penanggulangan sesuai dengan dana yang dialokasikan. Alokasi dana itu yakni Dana Alokasi Khusus Dana Reboisasi (DAK DR) dan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN RHL). Semua penanggulangan tersebut dalam bentuk konservasi.
Untuk meminimalisasi hutan sangat kritis di Pessel, pemerintah melalui dinas terkait telah melakukan penaggulangan di berbagai hutan tersebut, seperti di Kecamatan Ranahpesisir dan Pancungsoal dilakukan dengan mengadakan kegiatan penanaman lahan kritis dengan menanam kelapa sawit dan cokelat sesuai dengan kondisi lahan tersebut terletak pada lokasi kemiringan.
Persoalan hutan rakyat yang kritis akan ditanggulangi dengan kegiatan yang berbentuk kebun rakyat. Sedangkan kekritisan yang dialami hutan lindung dilakukan penanggulangan dalam bentuk penghijauan kembali pada hutan lindung. Semua kegiatan penanggulangan dengan cara penanaman kembali pada hutan sangat kritis ini dilakukan dengan kegiatan yang didanai DAK DR dan GNR HL.
Luas hutan menurut fungsinya di Pessel dikelompokkan seperti Hutan Suaka Alam Wisata luasnya 45.722 ha, Taman Nasional Kerinci Seblat 260.383 ha, Hutan Produksi 4.030 ha, Hutan Lindung luasnya 49.720 ha, Hutan Produksi Terbatas 62.430 ha, Hutan Penggunaan Konservasi 2.080 ha, dan Areal Penggunaan Lain 150.618 ha. [BO/M-11]