SUARA PEMBARUAN DAILY

Franz Magnis Suseno:

Iman Jangan Jadi Pemicu Keberingasan

SP/Aries Sudiono

Franz Magnis Suseno, Direktur Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta (kedua dari kanan) didampingi Prof Dr Ahmad Jainuri, Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (kiri), tampil sebagai pembicara pada Kolokium Nasional Pemikiran Islam di kampus Universitas Muhammadiyah Malang, Selasa (12/2).

[MALANG] Rohaniwan Prof Dr Franz Magnis Suseno SJ menyatakan sependapat dengan pandangan sekelompok kaum muda Islam Muhammadiyah progresif bahwa muslim pluralis memiliki keyakinan iman yang liberatif terhadap yang tertindas, bukan iman yang justru sering kali memicu keberingasan dan sumber konflik antaragama. Pandangan itu tidak hanya berlaku bagi Islam saja, melainkan juga bagi semua agama.

"Semakin banyak agamawan meyakini bahwa tidak mungkin suatu agama mau membawa kekerasan dan kekejaman karena agama hanya memiliki masa depan, jika tanpa ragu-ragu, setia kepada pesan yang memancarkan perdamaian, kebaikan hati, dan keadilan terhadap segenap manusia," ujar Romo Magnis, panggilan akrab Franz Magnis Suseno di depan sekitar 250 peserta Kolokium Nasional Pemikiran Islam bertajuk "Dinamisasi Muhammadiyah untuk Pencerahan Peradaban" di aula kampus III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Selasa (12/2) petang.

Lebih lanjut Romo Magnis yang tampil bersama Rektor UMM Sidoarjo, Prof Dr Ahmad Jainuri dan Dr Zuly Qodir, dosen UMM Yogyakarta, dalam sesi bedah buku Muhammadiyah Progresif: Manifesto Pemikiran Kaum Muda, yang ditulis sejumlah penulis muda Muhammadiyah itu, menggarisbawahi pernyataan yang menyebut munculnya tantangan-tantangan baru, seperti pluralisme, multikulturalisme, demokrasi, persamaan gender, civil society, dan dialog antarperadaban, merupakan sarana teologis untuk melakukan kontekstualisasi terhadap ajaran Islam serta hermeneutika.

Hermeneutika, lanjutnya, sama sekali bukan istilah yang berasal dari agama Kristen, melainkan dari filsafat. Hermeneutika adalah ilmu tentang saling pengertian. "Saya lebih setuju bahwa hermeneutika adalah metode untuk dapat lebih baik dalam menemukan kebenaran dalam proses komunikasi lisan atau tulisan, baik di zaman dahulu hingga sekarang," ujarnya.

Pluralisme, tegasnya, menolak eksklusivisme ajaran yang keras yang menganggap semua keyakinan religius lain sebagai salah dan jelek, tetapi tidak menganut relativisme yang menyatakan tak ada agama bisa mengklaim dirinya sebagai yang paling benar.

Diungkapkan Romo Magnis, berpikir progresif bukan berarti sekadar pokoknya maju, namun justru berani membuka diri terhadap tantangan-tantangan baru dan berani mencari jawaban-jawaban baru, serta tidak takut mengejutkan yang lain yang sudah ratusan tahun terbiasa ditradisikan. "Jadi, mereka kaum progresif ini bukan hendak memberontak terhadap Islam, namun justru sebaliknya atas nama Islam yang diyakini, memberontak terhadap tafsiran-tafsiran dan sikap-sikap yang dirasa sudah lama terbelenggu tradisi yang tidak peka terhadap tantangan zaman," katanya.

Kemajemukan

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan kemajemukan dalam gerakan dakwah Islam, terutama antara kelompok konservatif dan kelompok liberal, merupakan sesuatu yang alamiah. Jika kemajemukan itu dapat dikelola secara sinergi melalui dialog pemikiran yang sejuk dan berkelanjutan akan terwujud revitalisasi yang menjadi salah satu kekuatan dahsyat.

Namun, sebaliknya, jika kemajemukan yang ada dalam Islam secara terus-menerus hanya didialektikakan atau diposisikan berhadap-hadapan, yang terjadi justru benturan-benturan yang tidak akan pernah berhenti. [070]


Last modified: 13/2/08