Kulit dan tulang harimau sumatera, yang telah terancam punah, dijual secara bebas di Indonesia untuk membuat obat tradisional dan perhiasan. Demikian dilaporkan kelompok konservasi TRAFFIC, sebuah jaringan pencinta satwa internasional yang berbasis di Inggris, Rabu (13/2), di Bangkok, Thailand.
Kelompok konservasi itu menyebutkan, pada tahun 2006 ditemukan tulang, kuku, kulit, dan bulu harimau dijual bebas, setidaknya di delapan kota di Pulau Sumatera, meskipun ada hukum yang melarang aktivitas itu. Untuk 1 kg kuku harimau, dijual sekitar US$ 14. Sementara 1 kg tulang harimau, dijual seharga US$ 52,5. Menurut data WWF, jumlah harimau sumatra di alam bebas saat ini paling banyak hanya sekitar 400 ekor. "Ini merupakan krisis penegakan hukum," kata Direktur Program Spesies WWF Internasional Susan Lieberman.
Manajer Program TRAFFIC, Chris Sheperd mengatakan, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, Desember lalu, memang telah mengumumkan upaya perlin- dungan harimau sumatera. Namun, kata Chris, komitmen politik jarang didukung dengan adanya tindakan dalam penegakan hukum. [AP/B-14]
Yayasan Sehat Indonesia (Yasin) dan Dana PBB untuk Anak-anak (Unicef) akan melakukan sosialisasi kampanye tanggap flu burung yang berbasis sekolah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Menurut Kepala Perwakilan Unicef Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Purwanta, di Makassar, Senin (11/2), para siswa perlu mengetahui dan menyadari bahaya dan cara penanggulangan flu burung sejak dini, dengan mengintegrasikan materi kampanye melalui mata pelajaran di sekolah.
Pendiri Yasin, Alimin Maidin, mengatakan, sasaran kampanye meliputi 10.172 sekolah, mulai dari TK hingga SMA. Sebelumnya, akan disosialisasikan kepada 1.000
kepala sekolah, yang nantinya memberikan penyuluhan dan bekal informasi kepada para guru agar dalam mengajar bisa mengintegrasikan tentang flu burung di setiap bidang studi. Ketua Perhimpunan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulsel Muhammad Asmin mendukung rencana itu. [148]