
[JAKARTA] Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan (YPPKI), Marius Widjajarta menilai, program pemberantasan sarang nyamuk sebagai upaya memberantas penyakit demam, masih sebatas pada tindakan slogan.
Bentuk kampanye dan perang melawan demam berdarah baru dilakukan ketika musim hujan tiba, padahal, seharusnya pemerintah baik di daerah dan pusat harus lebih fokus pada tindakan preventif dan penyadaran kepada seluruh masyarakat.
Selain itu, lanjut Marius, bentuk penanganan korban yang dilakukan pemerintah daerah dengan memberikan layanan pengobatan cuma-cuma atau gratis kepada korban juga belum tentu tepat. Pelayanan pengobatan secara gratis terbukti hanya menimbulkan efek kuratif minimal, tidak memberikan kesadaran dan mengedukasi lebih kepada masyarakat untuk melakukan pola hidup secara baik.
"Mengenai sistem dan pola pendanaan program pemberantasan nyamuk demam berdarah juga sudah cukup baik. Hanya saja yang perlu terus dipantau adalah apakah pertanggungjawabannya sudah benar atau programnya hanya asal-asalan. Saya khawatir selama ini tidak ada monitoring dan evaluasi mengenai program pemberantasan nyamuk demam berdarah sehingga tiap tahun kasus DBD terus terjadi dan cenderung makin tinggi angka kasusnya," ujar Marius kepada SP di Jakarta, Rabu (13/2).
Sementara itu, Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan, I Nyoman Kandun sebelumnya menyatakan, Keputusan Menteri Kesehatan 581/1992 dengan jelas disebutkan bahwa upaya pemberantasan DBD harus dilakukan dengan menggerakkan masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui pengorganisasian dalam kelompok-kelompok kerja operasional, namun ketentuan yang lebih bersifat anjuran itu belum dilaksanakan secara optimal. Pendanaan pemberantasan sepenuhnya oleh pemerintah pusat sudah diberikan kepada daerah. Tinggal pemerintah daerah terus didorong melakukan pemberantasan sarang nyamuk.
Mengenai upaya mengerakkan dan menggugah kesadaran masyarakat agar peduli dan waspada DBD, Kandun menegaskan pihaknya sudah berulang kali menayangkan iklan layanan masyarakat di televisi, menyebarkan selebaran dan selalu mengingatkan melalui berbagai media tapi belum semua masyarakat menyadari pentingnya menjaga kebersihan dan memberantas sarang nyamuk bagi kesehatan mereka.
''Kebiasaan kita, kalau belum kena belum mau melakukan sesuatu. Padahal, penyakit yang ditandai dengan gejala demam disertai sakit kepala berat dan bercak merah pada kulit itu bisa dicegah dan dikendalikan dengan mencegah perkembangbiakan vektornya, yakni nyamuk Aedes aegypti," ujarnya.
Marius menjelaskan, penya- kit DBD atau Hemorrhagic Fever (DHF) ialah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang terdapat di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Penyakit DBD sering kali salah didiagnosis dengan penyakit lain seperti flu atau tifus.
Wabah DBD dilaporkan kembali merebak di Kota Medan. Sejak Januari 2008 lalu, jumlah pasien yang dirawat di RS Pirngadi Medan (RSPM) sebanyak 97 orang, 4 orang diantaranya meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 41 orang masih anak-anak sedangkan 56 pa-sien lainnya kategori dewasa.
Humas RSPM, Indah Kemala Hasibuan yang dikonfirmasi wartawan, Selasa (12/2) mengatakan rata-rata kondisi pasien yang telah dirawat DBD dalam keadaan dehidrasi dan kondisi yang menurun. Sedangkan pasien yang meninggal disebabkan keterlambatan pihak keluarga membawa-nya ke RSPM. "Pasien yang meninggal rata-rata telah sakit parah karena mengalami dehidrasi berat. Hal ini disebabkan pihak ke-luarga terlambat membawanya ke- RSPM," kata Indah. [151/E-5]