SUARA PEMBARUAN DAILY

Seusai Resepsi, Babe Berpulang

Tenda pesta masih tegak berdiri. Beberapa kursi tamu dan meja kecil tampak tertata rapi di depan rumah kecil di pinggir gang. Rumah petak itu lengang. Pintu dan jendela dibiarkan terbuka lebar. Beberapa pria paruh baya bercengkerama di depan rumah, tapi tak mampu menyembunyikan kekosongan yang menyelimuti rumah itu.

Siapa nyana, sehari setelah resepsi pernikahan anak perempuannya, Imu (60), meregang nyawa di tiang gantungan. Lelaki yang dikenal ramah dan rajin salat tersebut meninggalkan Titin (26), anak perempuan bungsunya, Minggu (10/2).

"Tenda yang dipakai untuk resepsi hari Sabtu itu tetap dipakai untuk melayat bapak," ujar Sobirin, kerabat dekat korban. Pria berpeci hitam itu bertindak sebagai wakil keluarga saat menerima tamu di rumah duka sejak kepergian Imu. "Keluarga masih shock, terutama Titin yang sekarang malah sakit. Enggak ada yang mau ngomongin peristiwa itu lagi. Mereka semua masih berduka," ujarnya.

Imu sangat dekat dengan Titin, yang sering membantu berdagang di warung. Ya, sehari-hari pria berperawakan besar itu membuka toko kelontong di teras rumahnya. Beberapa tetangga mengenal Imu sebagai orang yang dituakan di kampungnya. "Panggilan akrabnya Babe. Ya, karena sejak lahir kayaknya udah di sini," ujar Miun, tetangganya.

Imu memang asli Betawi dan sudah lama tinggal di Gang Melati RT 04/07, Kelurahan Duren Jaya, Bekasi Timur. Ia paling rajin mengingatkan kelima anaknya yang sekarang tak lagi serumah untuk beribadah.

Kelima anak Imu sudah berkeluarga dan hanya Titin yang mendampinginya di rumah. Imu membesarkan keenam anaknya sendirian sejak ditinggal istrinya tahun 1983. "Mungkin Babe merasa sudah plong dengan menjalankan amanah terakhir untuk menikahkan anak bungsunya," ujar Sobirin.

Masih Bercanda

Menurut Sobirin, sesuai resepsi, korban masih bercanda dan tidak terlihat perilaku aneh menjelang detik-detik akhir hidupnya. Hujan yang mengguyur Bekasi sejak Sabtu pagi menyebabkan tamu yang datang ke pesta nikah itu tak seperti yang diperkirakan, yakni sekitar 50 orang. Hingga Sabtu malam, Imu masih menerima tamu dan mendampingi mempelai, Titin dan Jamal di pelaminan. Meskipun resepsi digelar sederhana di rumah, wajah bahagia terpancar dari kedua mempelai.

Titin juga tak mendapat firasat mengenai kepergian ayahnya. Perempuan muda itu kagum dengan kebiasaan ayahnya. Imu sering naik sepeda untuk berbelanja kebutuhan warungnya di Pasar Baru, Bekasi Timur. Ia jarang sakit, selalu bersemangat, dan tak pernah mengeluh.

Sehari menjelang resepsi, beberapa kerabat jauh juga datang dan menginap di rumah. Bahkan, sebagian dititipkan ke tetangga depan dan samping rumah. "Karena kampung ini masih ada kaitan saudara semua, meski ada beberapa yang pendatang. Namanya juga sama-sama orang kecil, ya bisanya nolong satu sama lain," ujar Ani, keponakan Imu yang tinggal di samping rumah.

Suasana lengang sehabis pesta pecah oleh teriakan Titin yang tiba-tiba melihat jasad ayahnya tergantung tak bernyawa. Kerabat dan tetangga yang mendengar teriakan Titin bergegas menuju belakang rumah dan termangu melihat kejadian tragis tersebut.

Tak ada seorang pun yang mendekat. Tak berapa lama, petugas Kepolisian Sektor (Polsek) Bekasi Timur menurunkan jasad korban. Setelah dilakukan pemeriksaan luar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bekasi Timur, jasad pria tersebut dikembalikan ke rumah duka.

Pihak keluarga enggan menjawab pertanyaan mengapa almarhum sampai gantung diri, karena kasus itu telah diserahkan ke Polsek Bekasi Timur, yang kemudian melimpahkannya ke Polres Bekasi. Menurut keterangan polisi, korban gantung diri karena beban ekonomi setelah menikahkan anaknya.

"Ya kita juga tidak mau menduga-duga, tapi memang beberapa saudaranya juga bilang Babe gantung diri karena enggak sanggup mikirin utang habis nikahin anaknya," ujar salah seorang tetangga yang enggan disebut namanya. [Maya Saputri]


Last modified: 13/2/08