
Didit Majalolo
Sejumlah kendaraan melintas di Jalan Raya Cakung-Cilincing, Jakarta Utara, yang rusak berat, Rabu (13/2). Kerusakan jalan tersebut mengakibatkan kemacetan panjang.
[JAKARTA] Kerusakan jalan semakin parah dan merata di seluruh wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Selain membahayakan pengendara, jalan rusak juga mengakibatkan macet di mana-mana.
Pengamatan SP, Selasa (12/2), di Jakarta, kerusakan hampir terjadi di semua wilayah (lihat tabel). Di Jakarta Timur misalnya, pada lajur Kampung Melayu-Cawang, sekitar 10 lubang berdiameter antara 30-100 cm berderet di samping jalur busway.
Di Jakarta Barat dan Selatan, jalan berlubang membentang sepanjang Gatot Subroto, TB Simatupang, Lebak Bulus dan Grogol. Jalan arah Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, kondisinya rusak berat. Lubang besar memenuhi seluruh badan jalan.
Ketua RW 11 Kelingkit, Kelurahan Rawabuaya, Cengkareng, Warkem (62), mengatakan, jalan rusak sejak lama karena banjir. Banjir selalu menjadi langganan karena lokasinya rendah dan dikelilingi empat sungai yakni Cengkareng Grand (kanan), Sepak (kiri), Kali Angke (depan) dan Pesanggrahan (belakang).
Warga setempat mengeluh kepada developer dan pemerintah, tetapi tidak ada langkah proaktif untuk mengatasinya. Menurut Ery, warga yang bekerja di sebuah pengembang, usaha perbaikan jalan justru dari pihak lain seperti gereja di sekitar Bojong atau para donatur. Kondisi kerusakan jalan yang sama juga terjadi di Jakarta Utara, Selatan dan Pusat.
Michael (27), warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan mengaku kesal dengan jalan yang berlubang. "Kondisi jalannya sangat membahayakan ketika motor melaju kencang. Kenyamanan saat berkendara jadi terganggu," katanya.
Di Bekasi, dari total panjang jalan yakni 960 kilometer, sekitar 300 km rusak berat, 180 km rusak ringan dan 380 km rusak sedang. Total anggaran untuk seluruh pagu kegiatan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bekasi tahun 2008 sekitar Rp 160 miliar.
Anggaran itu dialokasikan untuk rehab jalan dan jembatan sekitar Rp 126 miliar, pembangunan jalan dan jembatan sekitar Rp 9,5 miliar, dan pembangunan saluran air Rp 18 miliar.

Bogor dan Tangerang
Sementara itu, hampir semua ruas jalan di kota dan Kabupaten Bogor rusak. Selain membuat tidak nyaman, jalan-jalan itu telah membahayakan keselamatan pengendara dan pengguna jalan akibat lubang yang sangat dalam bak kubangan kerbau.
Deni Supandi (45), warga Kota Bogor mengatakan, kerusakan jalan di Kota maupun Kabupaten Bogor ini akibat sistem drainase yang buruk sehingga ketika hujan turun badan jalan tergenang dan dengan mudah merusak aspal. Faktor lain adalah kualitas jalan yang dibangun pengembang tidak memenuhi standar.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Kota Bogor, Dawam mengatakan, untuk tahun anggaran 2008 ini Pemda Kota Bogor sudah mengalokasikan anggaran untuk perbaikan dan perawatan badan jalan. Namun tidak semua ruas jalan diperbaiki mengingat status jalan itu masih dikelola oleh Provinsi Jawa Barat.
Menurut dia, jalan di sekitar Kota Bogor dibagi dalam beberapa kelas dan dikelola beberapa pihak. Jalan Kota dikelola oleh Pemda Kota Bogor, Jalan Provinsi/Negara dikelola oleh Cipta Karya Provinsi dan Pusat. Yang menjadi prioritas adalah jalan yang dikelola Pemda Kota Bogor yang mengalami kerusakan cukup parah akan diperbaiki pada April mendatang.
Sementara itu, Kepala Seksi Pemeliharaan, Dinas Pekerjaan Umum Kota Tangerang, Bambang Lelono mengakui, sebagian besar jalan yang rusak adalah jalan berbahan aspal. Dinas PU Kota Tangerang pada 2008 ini mengalokasikan anggaran perbaikan jalan sebesar Rp 5,9 miliar. Perbaikan menggunakan sistem tambal sulam.
Ketua DPRD Kota Tangerang, Krisna Gunata, mengatakan, dewan akan mendukung prioritas perbaikan jalan pada anggaran 2009. Untuk tahun ini perbaikan jalan tidak mendapat tambahan dan prioritas karena banjir yang menyebabkan jalan rusak itu terjadi setelah penetapan anggaran.
Wali Kota Tangerang Wahidin Halim menegaskan, jalan rusak dan jalan becek di Kota Tangerang hanya tersisa 5 persen lagi. Sedangkan, selebihnya, sebanyak 95 persen atau sekitar 1.340 kilometer jalan utama dan lingkungan telah dibangun.
Di tempat terpisah, Ketua DPC Government Against Corruption and Discrimination (GACD) Bekasi, Hitler S, mengatakan, kerusakan jalan di Kota Bekasi disebabkan kurangnya pengawasan aparatur Pemkot terhadap rekanan yang mengerjakan proyek. "Bagaimana jalan bisa bertahan lama kalau korupsi merajalela. Sejumlah proyek dikerjakan asal jadi. Tidak sesuai dengan spesifikasi yang direncanakan. Aparaturnya juga tidak mau tahu," kata Hitler.
Kepala Bagian Tata Usaha, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bekasi, Radi Mahdi mengatakan, banyaknya jalan rusak disebabkan karena letak geografis Kota Bekasi yang berada di dataran rendah. Selain itu, kata dia, jalan seringkali tergenang yang menyebabkan jalan cepat rusak.
"Warga Kota Bekasi dan pengguna jalan harus bersabar melewati ruas jalan rusak. Awal April mendatang sejumlah ruas jalan rusak akan diperbaiki. Anggaran belum turun," ujar Radi Mahdi.
Pakar transportasi dari Institut Studi Transportasi (Instrans), Darmaningtyas, beberapa waktu lalu, mengatakan, kerusakan jalan terjadi karena rendahnya mutu material akibat korupsi. Selain itu, jalan semakin cepat rusak karena pembangunan dilakukan pada musim hujan.
"Kualitas jalan hanya mencapai sekitar 50-70 persen dari standar kualitas. Selain itu, perbaikan dilakukan saat musim hujan. Padahal aspal akan cepat rusak kalau terkena air. Aspal butuh waktu sekitar empat sampai enam bulan untuk kering dan solid. Selain itu, perbaikan dan pembangunan jalan juga terbentur rumitnya birokrasi pencairan dan Anggaran Belanja dan Pendapatan Daerah (APBD)," ujar dia. [ATW/HTS/ASR/MYS/126/132/W-12]