![]()
REUTERS/Mick Tsikas
PM Kevin Rudd dan pemimpin oposisi Brendan Nelson (kedua dari kiri) berfoto bersama dengan penari Aborigin seusai upacara pembukaan sidang parlemen, Canberra, Australia, Selasa (12/2).
ntuk pertama kalinya, suara merdu didgeridoo mengalun di ruang sidang Parlemen Australia. Sejumlah warga Aborigin sedang memainkan alat musik tiup masyarakat asli Australia tersebut yang bentuknya mirip seruling bambu. Tubuh mereka diolesi cat putih.
Kendati Aborigin terasosiasikan erat dengan Australia, kehadiran mereka di parlemen nasional bukan hal biasa.
Ketika Parlemen Australia bersidang untuk pertama kalinya 1927, tidak satu pun perwakilan suku Aborigin diundang. Padahal mereka sudah ada di tanah Australia sebelum imigran kulit putih menjejakkan kakinya di sana. Memang ada seorang lelaki Aborigin yang datang untuk menyaksikan sidang tetapi kemudian polisi memintanya meninggalkan ruang karena dinilai berpakaian tidak pantas.
Pembukaan sidang parlemen dengan penampilan upacara Aborigin pada Selasa (12/2) seakan membalikkan tradisi Inggris yang berumur ratusan tahun. Australia mendapat kemerdekaan dari Inggris pada 1901, tetapi mempertahankan tradisi Parlemen Inggris Wesminster yang telah ada sejak ratusan tahun.
Sehari sebelumnya, sesepuh masyarakat Aborigin, Matilda House, berdiri bertelanjang kaki dengan mengenakan mantel kulit hewan, memberikan tongkat pesan tradisional kepada Perdana Menteri Kevin Rudd untuk menandai dimulainya masa persidangan sejak Partai Buruh menang dalam pemilu November 2007.
"Sambutan selamat datang ini memperlihatkan simbol yang besar, dari sebuah harapan bersatunya bangsa melalui rekonsiliasi," House mengatakan kepada para politisi dan tamu di Members Hall, tepat di bawah kibaran bendera Australia.
Sambutan selamat datang diikuti oleh tarian tradisional tak lupa membawa bumerang. Sejumlah anggota suku asli Torres Strait Islands, ikut serta. Beberapa pemain bahkan terlihat menghapus tetesan air mata mengingat besarnya simbol yang dihadirkan.
Gubernur Jenderal, Michael Jeffrey, yang mewakili Ratu Inggris Elizabeth di bawah Konstitusi Australia, tidak hadir pada upacara itu. Tetapi Jeffery hadir pada sidang khusus Selasa (12/2) malam untuk mengumumkan pembukaan resmi sesi parlemen ke-42. Di hadapan anggota parlemen, Rudd menguraikan agenda kerjanya selama tiga tahun mendatang termasuk fokusnya untuk mengatasi masalah-masalah yang mendera masyarakat Aborigin.
Suku Aborigin Australia yang berjumlah 460.000 orang atau dua persen dari 20 juta penduduk Australia. Tingkat harapan hidup mereka 17 tahun di bawah usia rata-rata kulit putih. Pengangguran, warga yang dipenjara karena melakukan tindak pidana, kecanduan alkohol, obat-obatan terlarang, dan kekerasan dalam rumah tangga, tinggi.
Sebuah laporan yang diterbitkan 1997 menyimpulkan bahwa selama 1910 hingga 1970, satu dari tiga dan satu dari 10 anak Aborijin diambil dari keluarganya sebagai bagian dari politik asimilasi. Laporan itu merekomendasikan agar pemerintah menyampaikan permintaan maaf. Tetapi pemerintahan konservatif di bawah kepemimpinan PM John Howard menolak menyatakan maaf. Ia hanya menyampaikan sikap penyesalan karena generasi sekarang tidak harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukan pemerintahan sebelumnya. Dengan pernyataan maaf Rudd berarti setelah 11 tahun baru rekomendasi itu dilakukan.
Menurut Rudd, upacara Aborigin ini merupakan langkah simbolis dan penting. Bangsa Australia telah memulai satu langkah kecil untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu. "Kendati lamban akhirnya kita sampai juga," tukas Rudd yang disambut tepukan tangan. [Reuters/MRS/Y-2]