SUARA PEMBARUAN DAILY

Singapura Hambat Pendanaan Terorisme

[SINGAPURA] Sebuah konsorsium diluncurkan di Singapura pada Selasa (12/2) bertujuan untuk menghambat akses militan ke dana-dana yang tersimpan di lembaga-lembaga keuangan di kawasan Asia Tenggara. Diperkirakan dana itu mencapai US$ 3 juta per bulan.

Konsorsium untuk Melawan Pembiayaan Terorisme (The Consortium for Countering the Financing of Terrorism) dimaksudkan untuk memperkuat kerja sama antarbank, badan-badan pemerintah dan kaum akademis untuk memotong pendanaan kelompok-kelompok ekstrem.

"Kami ingin mempersulit upaya mereka mentransfer uang. Kami akan melakukan segala upaya untuk mematahkan infrastruktur keuangan dari kelompok teroris," kata ahli terorisme, Rohan Gunaratna yang mengepalai Pusat Internasional untuk Kekerasan Politik dan Penelitian Terorisme (International Centre for Political Violence and Terorrism Research) di S. Rajaratnam School of International Studies/RSIS.

Asosiasi Bank-bank di Singapura (Association of Banks in Singapore), pemerintah dan

RSIS, awalnya meluncurkan konsorsium ini di Singapura, tetapi rencananya akan melibatkan negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik.

Gunaratna mengatakan kelompok militan, termasuk Abu Sayyaf dan Jemaah Islamiyah (JI) memindahkan sekitar US$ 2 sampai 3 juta sebulan untuk mendanai kegiatan mereka di Asia Tenggara.

Kelompok-kelompok ini menggunakan berbagai cara, dari sistem perbankan moderen, transfer uang secara informal hingga mengerahkan kurir yang membawa tas berisi uang tunai untuk ditransfer ke rekening yang dituju.

"Sedikitnya US$ 2 juta hingga US$ 3 juta bergerak di kawasan Asia Tenggara per bulan

untuk aktivitas terorisme," kata Gunaratna di sela-sela seminar tertutup untuk melawan pendanaan terorisme yang dihadiri oleh lebih dari 300 pegawai bank, kepolisian dan para akademisi.

Sebagian uang dikumpulkan di Asia Tenggara, sebagian uang datang dari Timur Tengah dan negara lain. Dana-dana itu berasal dari para simpatisan, yayasan sosial yang sudah disusupi kelompok militan, aktivitas kriminal dan bisnis "sah" yang mereka kendalikan.

Gunaratna mengatakan perkiraannya ini didasarkan oleh informasi yang terkumpul dari kesaksian para militan yang tertangkap, pengujian dokumen yang didapat dari kamp pelatihan dan dari laporan intelijen.

Mereka yang terlibat dalam transfer dana termasuk Abu Sayyaf dan Front Pembebasan Islam Moro yang beroperasi di bagian selatan Filipina. Demikian juga JI yang beroperasi di Asia Tenggara yang bertanggung jawab atas pengeboman di Bali dan kelompok-kelompok di bagian selatan Thailand. [AFP/MRS/Y-2]


Last modified: 12/2/08