![]()
AP/Sebastian Scheiner
Pembangunan perumahan baru sedang terjadi di Har Homa, Yerusalem Timur, Selasa (12/2). Israel merencanakan membangun 1.100 apartemen baru di wilayah yang masih
disengketakan di sebelah timur Yerusalem. Rencana itu membangkitkan kemarahan Palestina yang menghendaki wilayah itu sebagai ibu kotanya kelak.
[YERUSALEM] Rencana pembangunan lebih dari 1.000 rumah baru di Yerusalem Timur yang diumumkan Israel, Selasa (12/2), mengundang kemarahan Palestina.
Keputusan Israel tak urung menyulut krisis baru perundingan damai Timur Tengah yang sebelumnya sudah dihadang berbagai masalah.
Palestina menuduh Israel merusak upaya-upaya bagi tercapainya kesepakatan damai pada akhir 2008. Israel juga didesak agar menghentikan proyek tersebut. Nasib Yerusalem Timur adalah isu yang paling alot dinegosiasikan dalam perundingan damai. Israel mencaplok kawasan tersebut dalam perang Timur Tengah tahun 1967.
Setelah diduduki, Israel membangun sejumlah kawasan pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur, yang kini menjadi tempat tinggal bagi 180.000 warga Israel.
Palestina mengklaim Yerusalem Timur akan menjadi Ibukota Negara Palestina berdaulat apabila nanti berhasil dibentuk. Menteri Perumahan di kabinet Olmert, Zeev Boim, mengumumkan rencana terbaru perluasan pemukiman sebagai respons atas sejumlah tuntutan dari manajer kota di Yerusalem yang menyebutkan Olmert menghentikan pekerjaan di Yerusalem Timur.
Tepi Barat
Boim mengatakan, penghentian sebagian aktivitas pembangunan sebagaimana diperintahkan oleh Olmert baru-baru ini hanya berlaku untuk pemukiman-pemukiman di Tepi Barat dan tidak mencakupi Yerusalem.
"Kami tengah membangun seluruh Yerusalem yang ada di dalam batas-batas wilayah pemerintahan kota praja. Apa yang disebut orang-orang sebagai penundaan faktanya hanyalah tahap akhir koordinasi dengan pihak Balai Kota," ungkap Boim kepada Radio Israel.
Ia mengatakan, sejumlah rencana tengah berjalan untuk membangun 370 rumah di Har Homa dan sebanyak 750 apartemen tambahan di Pisgat Zeev, dua kawasan Yahudi di Yerusalem Timur.
Israel memaparkan rencana serupa pada bulan Desember tentang pembangunan sekitar 300 rumah di Har Homa, hanya berselang beberapa hari setelah dimulainya kembali perundingan damai dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam konferensi di Annapolis, Maryland, AS pada 27 November 2007.
Rencana Israel tersebut tak urung mengundang kritik keras AS. Selama beberapa minggu perundingan damai Israel-Palestina kembali mengalami kebuntuan.
Dalam Konferensi Annapolis, Olmert dan Abbas menetapkan bulan Desember 2008 sebagai batas waktu dicapainya kesepakatan damai final. Pada Selasa (12/2), juru runding Palestina Saeb Erekat mengatakan, pembangunan pemukiman Israel yang terbaru mengancam gagal tercapainya target konferensi.
Di Washington, Sekretaris Pers Gedung Putih Dana Perino mengatakan, ia belum menerima laporan tentang rencana Israel itu. "Tetapi, jelas, tidak bisa diragukan lagi bahwa pengumuman semacam itu akan menyulut keprihatinan warga Palestina," kata Perino.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan akan segera meminta klarifikasi dari Israel tentang pengumuman yang dinilai "berpotensi mengganggu" upaya-upaya damai.
Dalam kunjungan ke Jerman, Olmert tidak mengomentari langsung polemik tentang rencana terbaru perluasan pemukiman Israel. Tetapi ia mengatakan, perundingan tentang Yerusalem akan diletakkan pada bagian akhir proses negosiasi. [AP/E-9]