![]()
foto-foto: SP/Ignatius Liliek
Penyanyi Bjork tampil atraktif pada konsernya di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Selasa (12/2). Konser yang merupakan promo dari album terbarunya "Volta" ini Bjork menyanyikan 19 lagu termasuk hits "All Is Full Of Love", "Earth Intruders", dan "Pluto".
jork bukanlah sekadar nama yang eksentrik. Di atas panggung konser, penyanyi asal Islandia juga menggelar pertunjukan unik. Kostum "aneh" dan atraksi "super heboh" selalu mewarnai aksi panggung Bjork dalam konser bertajuk The Volta Tour di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (12/2) malam.
Dengan gaun ketat selutut merah-perak bercorak dan rumbai-rumbai serta legging merah jambu, Bjork naik ke atas panggung. Dia tampil dengan dahi di cat merah dan tanpa alas kaki mengawali penampilannya dengan Brennid Pid Vitar. Penonton langsung menyambutnya dengan tepuk tangan meriah dan Bjork pun mulai "jingkrak-jingkrak" dan menari-nari dengan gerakan aneh seperti tengah menabuh dram.
Bjork memang istimewa. Bukan hanya dari wajah dan aksi panggung, penyanyi itu dikenal perfeksionis. Dari tata panggung, pertunjukan penyanyi nominasi 13 Grammy, Academy Awards, dan Golden Globe Awards ini dipenuhi dengan umbul-umbul, bendera dan spanduk bergambar burung, ikan, dan potongan tengkorak dengan dominasi warna merah dan kuning.
Sekelompok peniup terompet juga ikut mengenakan kostum "aneh," dengan bendera yang dikaitkan ke topi para peniup terompet. Selain itu, manajemen Bjork juga melarang para penonton membawa masuk kamera dan telepon genggam berkamera di setiap konser. Kecuali wartawan, seluruh penonton yang membawa kamera dan ponsel terpaksa menitipkan barangnya di tempat penitipan yang disediakan panitia.
Meski demikian, permintaan Bjork ini tidak menyurutkan minat para penggemarnya untuk tetap menyaksikan konser yang dipromotori Java Musikindo. Bahkan, sekitar 3.500 penonton yang terdiri dari remaja dan dewasa mendadak menjadi "Bjork wanna-be," dengan mengenakan kostum ala Bjork.
Keunikan Bjork itulah yang menggugah banyak orang untuk mengidolakan penyanyi yang pernah berakting dalam film The Juniper Tree, Pret a Porter, Dancer in the Dark dan Drawing Restraint 9.
Saat lagu kedua, Earth Intruders, penyanyi asal Islandia kelahiran 21 November 1965 tersebut kembali menyuguhkan aksi panggung yang genit. Dia menari mondar-mandir menyisir bagian depan panggung dan menarik jaring-jaring putih. Tak lama kemudian, Bjork mencoba "menenangkan" penonton dengan lagu bertempo lambat, Hunter, lagu dari album solo ketiga.
Gemuruh tepuk tangan dan jerit histeris penonton kembali terdengar ketika ibu dari Sindri Eldon (22) dan Isadora B Barney (6) melantunkan hitsnya All Is Full of Love. Dilanjutkan dengan penampilannya membawakan Joga yang diambil dari album homogenic, Pagan Poetry, dan Pleasure.
Agak Monoton
Namun, sejak lagu pertama hingga kesembilan, Bjork tampil agak monoton dan hampir tidak ada interaksi dengan penonton. Hanya sesekali dia mengucapkan terima kasih dalam bahasa Inggris.
Kekakuan Bjork baru mencari saat lagu ke-10, Desired Constellation. Aksi panggung Bjork mulai "memanas," diikuti dengan tata lampu bak klub-klub disko dengan dominasi hijau. Bahkan, potongan-potongan kertas warna-warni menghujani Bjork dan anggota kelompok musik digital.
Setelah sekian menit beraksi, Bjork sempat mengajak penonton bernyanyi bersama, tanpa mengucapkan kata ajakan. Hanya dengan bahasa tubuh, Bjork meminta penonton ikut bernyanyi dan ingin mendengar suara mereka.
Puncak penampilan Bjork ketika dia melantunkan Hyperballad. Penonton di deretan kelas festival langsung melompat-lompat dan menari. Didukung dengan lampu yang menari-menari bergerak cepat mengikuti irama musik dance-techno yang diolah apik dengan sequencer. Dilanjutkan dengan Pluto, up-beat dengan tempo yang cepat.
Pertunjukan pun berakhir. Bjork dan kawan-kawan meninggalkan panggung diikuti teriakan "we want more," dari penonton. Cukup lama, sekitar 5-10 menit, Bjork mengejutkan para penonton dengan kembali ke atas panggung dan mulai melantunkan Anchor Song. Di lagu ke-18 ini, Bjork tidak lagi tampil dengan sequencer melainkan iringan terompet.
Sebelum mengakhiri penampilan, Bjork sempat melontarkan kata maaf karena tidak dapat berbicara dengan bahasa Indonesia. Tak lama kemudian, penyanyi yang dikenal anti-pers itu langsung mengakhiri konser perdana di Jakarta dengan melantunkan lagu bercorak kental electronic dance-techno, Declare Independence. [CNV/U-5]