nsiden penembakan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta dan PM Xanana Gusmao, Senin 11 Februari 2008 subuh, menunjukkan bahwa kondisi politik di negara tersebut amat rawan. Kondisi politik di negara termuda itu (resmi merdeka 20 Mei 2002) cenderung labil, terutama karena persaingan antarfaksi politik dan ketidakutuhan dalam tubuh aparat keamanan-militer. Masa persaingan antarpartai - (Apodeti yang pro-Indonesia) UDT yang pro-Portugal serta Fretilin yang pro-merdeka) sudah usai. Maka tinggal Fretilin (Frente Revolucionare de Timor Leste Indepedente) pemenang pemilu berkiprah. Namun, ternyata konsolidasi partai berkuasa itu belum juga final.
Kepemimpinan Fretilin melalui PM Mari Alkatiri yang rapuh di awal kemerdekaan (2002-2005) akhirnya tumbang oleh saling serang sesama komponen Fretilin. Di era PM Alkatiri, kekisruhan di tubuh militer membuahkan pemecatan sekitar 600 tentara serta pembangkangan Mayor Alfredo Reinado. Alkatiri digantikan saingannya, Menlu Ramos Horta sebagai Presiden, dan Xanana Gusmao (PM), tokoh gerilya era integrasi dengan RI.
Keamanan rapuh akibat mayor pembelot dengan komplotannya yang ditahan berhasil melarikan diri ke barat dan bergerilya. Insiden Reinado vs Pemerintah Dili ini jelas ibarat api dalam sekam, karena pemerintah sulit menemukannya untuk diadili serta mengisolasinya dari publik dan rakyat Timor Leste. Persaingan internal berakibat Fretilin sulit membangun dan memerintah Timor Leste, yang sejak awal merdeka rapuh dan tanpa kawalan militer yang solid. Padahal, keamanan nasional sejak masa transisi dan referendum yang ditangani PBB-Unamet (United Nations Assistance Missions on East Timor) pada Agustus 1999 cukup baik. Termasuk pemerintahan sementara oleh organ PBB-UNTAET (United Nations Temporary Administration of East Timor) dibantu 10 ribu pasukan perdamaian.
Konflik Dili antara Horta-Xanana dengan Mayor Reinado berlanjut, dengan klimaks upaya pembunuhan atas Presiden Horta dan PM Xanana. Kini, Timor Leste menghadapi konflik dilematis. Dendam dan kekerasan takkan segera usai di Dili dan Timor Leste, andaikan nanti Xanana cs dan lawan-lawannya pun berekonsiliasi.
Kita menganggap pengempuan PBB-UNTAET pimpinan diplomat Brasil mendiang Sergio Vieira de Melo maupun pengembalian kedaulatan kepada dwitunggal Fretilin, Horta-Xanana, tetap tidak berhasil memantapkan stabilitas politik. Maka program pembangunan serta penyejahteraan rakyat Timor Leste masih berjalan di tempat.
Tampaknya negara-negara besar, Amerika Serikat, Tiongkok, termasuk Australia dan bekas penjajah Portugal, membiarkan perkembangan Timor Leste pasca-merdeka. Padahal, saat proklamasi Republik Timor Leste Mei 2002, kepala-kepala negara dan pimpinan pemerintahan dunia itu menghadiri dan memuji hasil demokrasi Timor Leste, yang dibuktikan dengan referendum 1999 untuk memisahkan diri dari RI, serta penataan demokrasi selanjutnya. Presiden RI Megawati Soekarnoputri juga datang ke Dili menyambut kemerdekaan Timor Leste tersebut.
Sayang, para pemimpin dunia termasuk PBB saat itu seolah-olah melupakan Dili. Mungkin saja kepentingan politik global mereka atas Timor Leste dianggap usai. Canberra kini menambah jumlah militer dan polisi penyangga perdamaian. Perhatian tetangga terdekat Australia signifikan. Apalagi pihaknya mengeksplorasi sumber migas Celah Timor yang bernilai miliaran dolar. Dana US$ 1,2 miliar royalti hasil migas untuk Dili itu ternyata sulit menyangga stabilitas dan mengatasi pertikaian politik internalnya. Prospek sosial politik dan ekonomi Timor Leste masih suram. Demokrasi, upaya mengisi kemerdekaan dan membangun negara baru, cukup mahal. Kita berharap situasi di Dili dan bekas provinsi RI itu, termasuk kondisi Presiden Horta yang dirawat di Australia, cepat pulih.