[SURABAYA] Ratusan nelayan di Gresik dan Lamongan, Jawa Timur, sejak dua hari terakhir tidak berani melaut mencari ikan, menyusul terjadinya ombak besar disertai angin di kedua perairan daerah ini.
Para nelayan mematuhi imbauan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Tanjung Perak Surabaya, yang menyatakan pada 9-12 Februari terjadi gelombang tinggi di laut Jawa, dengan ketinggian sampai lima meter. Nelayan di kedua daerah ini menyaksikan langsung tinggi gelombang pada Minggu (10/2) mencapai tiga meter.
"Tingginya gelombang di lepas pantai sampai tiga meter di Sedayu, Panceng, Ujung Pangkah dan Manyar, menyebabkan nelayan tidak berani melaut," kata anggota kelompok nelayan Pangkah Wetan, Amrullah, kepada SP, di Surabaya, Minggu (10/2).
Menurut Amrullah, dampak tidak melautnya para nelayan, menyebabkan harga ikan naik karena persediaan di pasar terbatas. Jenis ikan kakap putih sebelumnya Rp 20.000 naik menjadi Rp 24.000 per kilogram (kg).
Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Lamongan, Sudarlin, mengatakan, para nelayan di daerahnya tidak berani melaut karena gelombang tinggi disertai angin kencang. Mereka yang mencoba melaut, kemudian kembali ke daratan, sementara yang belum melaut membatalkan niatnya mencari ikan.
Di pinggiran laut tinggi ombak mencapai dua meter, apalagi di lepas pantai. Akibat tingginya gelombang dan angin kencang ter- sebut dua perahu milik nelayan Weu, Paciran, Lamongan terbalik dan pecah.
Kegiatan yang dilakukan nelayan selama tidak melaut, sebagian besar bekerja sebagai kuli bangunan. Hanya kegiatan itulah yang bisa dilakukan para nelayan untuk mencari nafkah menghidupi keluarganya.
Sementara itu, kapal Nabati, yang bermuatan crude palm oil /CPO (minyak sawit mentah dikabarkan terombang-ambing selama 7,5 jam di Laut Jawa, sebelah utara Pulau Madura, sampai Minggu (10/2) petang.
Informasi mengenai hal tersebut diterima pihak Syahbandar Tanjung Perak pukul 15.00 WIB dari pos kepanduan. Padahal sebelumnya, informasi awal yang diterima Syahbandar pukul 08.30 WIB, bahwa kapal tersebut tenggelam.
Kapal tug boat Tunas Baru yang bersama dengan Kapal Nabati tidak bisa berbuat banyak karena angin berembus sangat kencang dan cuaca yang tidak bersahabat.
"Sebelumnya kita mendapat kabar jika kapal itu tenggelam. Namun pukul 15.00 WIB, kita mendapat kabar terbaru hanya terombang-ambing saja. Kapal tug boat tidak bisa berbuat banyak karena angin kencang dan cuaca tidak menentu," kata Subagio, perwira jaga Syahbandar Tanjung Perak kepada wartawan, Minggu (10/2).
Diimbau
Pihak Syahbandar tidak bisa berbuat banyak untuk menolong kapal yang masih di tengah laut itu. Pasalnya, Syahbandar tidak punya armada kapal untuk menjangkau lokasi. Diimbau kapal yang melintas di utara Pulau Madura dan melihat kapal itu untuk segera menolong dan menginformasikan pada Syahbandar. Selain itu Syahbandar sudah mengirimkan telegram pada Basarnas untuk segera mencari lokasi kapal itu.
Prakirawan BMG Maritim, Tanjung Perak, Surabaya, Arif Triyono menjelaskan, gelombang Laut Jawa mencapai puncaknya 13 Februari, dengan perkiraan tinggi gelombang laut mencapai 2 - 2,5 meter karena ada badai tropis di sebelah barat Jakarta, sehingga tekanan angin dari barat ke timur sangat kencang.
"Sekalipun curah hujan rendah, tetap patut diwaspadai. Jangan sampai melawan alam, nanti malah membahayakan diri sendiri, sebaiknya nelayan tidak turun ke laut, sementara perusahaan pelayaran juga harus mempertimbangkan cuaca," katanya.
Kapal dari pelabuhan di pantai utara Jatim yang menuju Kalimantan, tambahnya, harus menjaga keseimbangan kapal dengan berat barang bawaan, termasuk penumpang agar terjadi keseimbangan ketika diterjang gelombang.
Perairan Selat Madura di Kalianget, Kabupaten Sumenep, Madura juga cukup rawan karena tinggi gelombang mencapai 0,2 meter hingga 2 meter. Kecepatan angin tidak terlalu kencang, relatif normal masimal 40 km per jam. Sementara tinggi gelombang penyeberangan selat Bali, Ketapang - Gilimanuk maksimal bisa mencapai 2,5 meter, sehingga kapal ferry harus ekstra hati-hati. [ES/080/WMO/152/070/148]