SUARA PEMBARUAN DAILY

Pascabanjir, Situbondo Masih Berantakan

[SITUBONDO] Kondisi kota Situbondo, Jawa Timur (Jatim), tiga hari pascabanjir akibat meluapnya Sungai Sampean, Jumat (8/2) di wilayah kecamatan kota dan enam wilayah kecamatan lain, hingga kini masih beran- takan.

Tidak hanya endapan lumpur dan puing-puing bangunan teronggok di mana-mana, sampah yang berasal dari perabotan rumah tangga, bekas batang pohon tumbang terserak di berbagai tempat. Bangkai ternak peliharaan antara lain, ayam, kucing, kambing, kuda hingga sapi yang tewas diterjang banjir lumpur, dikubur, Minggu (10/2) petang.

Beberapa jembatan dan bahu jalan yang terputus akibat hanyut disapu banjir bandang, sedang diperbaiki agar jalur transportasi ekonomi keluar-masuk kota Kabupaten Situbondo yang terpaksa ditutup sementara, secepatnya dapat difungsikan kembali. Seperti diberitakan sebelumnya, akibat bencana banjir melanda Situbondo (dan sebagian Bondowoso), arus kendaraan yang keluar masuk Situbondo terpaksa dilaihkan ke Bondowoso via Pegunungan Arak-arak.

Pengalihan ke jalur alternatif yang naik-turun dan berkelok- kelok cukup tajam itu menambah jarak sekitar 60 kilometer yang harus ditempuh paling cepat dua jam perjalanan.

"Kita upayakan perbaikan bangunan konektor lebar tujuh meter dan kedalaman 12 meter di bibir Jembatan Parengean, Desa Kilensari, Kecamatan Panarukan, Situbondo sebagai jalur jalan raya utama Pantura Surabaya-Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi-Denpasar dapat dibuka kembali, Rabu (13/2)," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Pemerintah kabupaten (Pemkab) Situbondo, Yoyok Mulyadi.

Waktu perbaikan yang dibutuhkan akan bisa bertambah lama jika cuaca di kawasan sekitar jembatan kembali diguyur hujan. "Sisi konektor jembatan yang ambrol itu pengurukannya bisa dipercepat kendati membutuhkan sejumlah besi penguat ukuran besar. Namun, untuk proses pengaspa- lan jalan, ini ditentukan cuaca," katanya.

Simpang-siur

Sementara itu, jumlah korban jiwa beserta korban yang dinyatakan hilang dan masih dalam pencarian, antara dari Kepolisian dengan Pemkab Situbondo masih simpang-siur. Kapolres Situbondo AKBP Rudi Kristantyo berdasarkan laporan sementara kapolseknya mencatat ada 11 penduduk meninggal dunia serta empat lainnya hilang. "Ini daftar laporan sementara yang saya terima dan masih bisa berubah," ujarnya.

Korban tewas itu dua jiwa warga Desa Sumberkolak, tiga jiwa warga Desa Pauwan, Kecamatan Campokan, dan enam jiwa warga Desa Mlandingan, Desa Kolakan, serta Desa Bungutan, Kecamatan Prajekan.

Berbeda dengan Ketua Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Alam (Satlak PBA) Situbondo, Suroso. Menurutnya, jumlah korban meninggal berdasarkan laporan dari kecamatan sampai tadi malam tercatat delapan jiwa dan lima lainnya belum diketahui, sampai tadi malam masih dalam pencarian.

Sejak Sabtu pagi hingga batas waktu yang belum diketahui, semua aktivitas perkantoran di Pemkab Situbondo dipastikan masih disibukkan dengan bersih-bersih. "Lha kantor Pemkab, kantor Polres dan Mapolres serta Makodim Situbondo, yang berada di satu jalur Jalan PB Sudirman semuanya ikut digelontor banjir lumpur. Untuk itu kepada para korban bencana banjir, memahami kondisi dan situasi kali ini jika terdapat keterlambatan (penanganan korban dan pengungsi) di sana-sini," katanya.

Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Pemkab Situbondo, Wiyono mengingatkan, karena mayoritas karyawan Pemkab, Polres dan Kodim yang tergabung dalam keanggotaan Satlak PBA juga ikut jadi korban banjir, masyarakat dapat memaklumi jika ada sedikit keterlambatan dalam evakuasi dan mengirimkan bantuan makanan, obat-obatan dan tenda pengungsian. [ES/070]


Last modified: 11/2/08