[JAKARTA] Rencana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Iran dipertanyakan. Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni) Jakarta Darmawan Sinayangsah mengatakan dalam konteks global isu kunjungan presiden itu sensitif karena menyimpan misteri ekonomi-politik.
"Rencana kunjungan ke Iran itu tidak penting, apalagi kondisi ekonomi domestik masih banyak masalah yang harus diselesaikan. Misalkan saja soal pangan, bencana alam, banjir, sampai kasus korupsi aliran dana Bank Indonesia (BI) ke DPR," ujar Darmawan dalam pernyataan tertulis yang diterima SP di Jakarta, Sabtu (09/2).
Oleh karena itu, Darmawan mempertanyakan sikap keras Presiden Yudhoyono untuk melakukan lawatan ke Iran. Apalagi jika lawatan itu masih mengundang risiko politik yang tidak seimbang.
Dikatakan, rencana lawatan ke Iran menjadi pembicaraan publik karena tampaknya Presiden Yudhoyono masíh bersikeras ke sana, meski ada risiko akan mengundang reaksi negara-negara Barat dan Amerika Serikat. Kunjungan-kunjungan ke Iran hanya menguntungkan Presiden Mahmoud Ahmadinejad.
"Tidakkah Presiden Yudhoyono belajar dari kasus kunjungan Megawati Soekarnoputri, pendahulunya, ke Tiongkok yang kemudian malah terperosok masalah dengan kasus penjualan gas murah. Megawati kini bisa terjerumus masalah dan ada desakan publik agar kontrak gas RI ke Tiongkok itu direvisi," ujarnya. [O-1]