
[JAKARTA] Masyarakat Indonesia di berbagai tempat diimbau agar terus mewaspadai munculnya sejumlah virus penyakit terutama demam berdarah dengue (DBD) pascabanjir. Wabah dan virus penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan DBD akan bertambah tinggi.
Imbauan itu disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes, I Nyoman Kandun ketika dihubungi SP di Jakarta, Senin (11/2). Dia meminta agar masyarakat tidak bosan-bosannya membersihkan tempat-tempat genangan air dan menerapkan terus menerus tindakan menguras, menutup dan mengubur (3M).
Menurut Kandun, upaya yang telah dilakukan pemerintah selama ini selama bencana banjir terjadi di sejumlah tempat di Jakarta dan Indonesia adalah melakukan evakuasi korban. Khusus di Jakarta, Depkes memberikan pelayanan kesehatan secara mobile dan mendirikan 25 Pos Kesehatan di wilayah Jakarta Barat.
Depkes juga menggerakkan puskesmas untuk melakukan pemantauan langsung ke lokasi. Departemen ini juga memberikan bantuan berupa makanan pengganti ASI berupa biskuit sebanyak 50 koli dan makanan siap saji sebanyak 100 koli, 7 unit perahu karet, 28 buah life jacket, 24 buah dayung, 1 unit motor tempel, dan 100 unit fogging.
Cilegon Lamban
Terkait dengan itu, upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon untuk memberantas penyakit DBD di wilayah itu dinilai lamban. Salah satu indikasinya, yakni tindakan pengasapan (fogging) guna memberantas jentik nyamuk Aedes aegypti oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Cilegon, di tiga RT, di Lingkungan Leuweng Jiteu, Kompleks Damkar Krakatau Steel, Kelurahan Kota Bumi, Kecamatan Purwakarta, dilakukan setelah adanya penderita DBD yang meninggal dunia.
Ketua RT 02/06, Kelurahan Kota Bumi, Kecamatan Purwakarta, Suwarso, di Cilegon, pekan lalu menjelaskan, sepanjang Januari hingga Februari 2008 ini, jumlah penderita DBD di wilayahnya mencapai 10 orang. Pada umumnya penyakit ini diderita oleh anak-anak.
"Sudah sejak lama kami mengajukan permohonan pengasapan nyamuk berbahaya itu kepada Dinkes Cilegon, namun tidak segera direspons oleh pemerintah. Belum lama ini salah satu warga kami yang meninggal dunia, yakni Guru SD Al- Azhar bernama Wiwin Minarti setelah sebelumnya semua keluarga korban terjangkit DBD," katanya.
Sementara itu, Tim Surveilan Dinkes Cilegon, Ai Sulastri, mengakui sepanjang bulan Januari hingga Februari 2008 ini jumlah penderita DBD mengalami peningkatan. "Tindakan pengasapan massal ini akan kembali dilakukan. Upaya lain yang dilakukan Dinkes untuk mencegah penyakit ini adalah di masing-masing kecamatan akan dikerahkan di sekitar 144 kepala desa pemantau jentik secara berkala," ujarnya.
Sementara itu, masyarakat yang tinggal di daerah rawan terjangkit DBD di Sumbar dan Padang khususnya, dituntut untuk dapat meningkatkan kewaspadaannya. Sebab, data RSUP M Djamil Padang menyebutkan, terjadi peningkatan kasus DBD dibandingkan tahun lalu. Jika Januari 2007 jumlah penderita yang dirawat di RSUP M Djamil hanya 98 orang, maka pada Januari 2008 ini berjumlah 123 orang.
"Berdasarkan data tahun lalu, Februari dan Agustus merupakan jumlah penderita DBD terbanyak yang dirawat di RSUP M Djamil Padang, yaitu di Februari sebanyak 183 dan 179 pasien Agustus," kata Kepala Bidang Layanan Medik RSUP M Djamil Padang Irayanti, kepada SP, di Padang, pekan lalu. [BO/149/E-5]