
SP/Luther Ulag
Seorang warga sedang membuang hajat ke Sungai Ciliwung, yang bantaran kiri kanannya dipenuhi bangunan kumuh.
enelusuri sebagian bantaran Sungai Ciliwung, ternyata masih menyenangkan. Pemandangan yang menampakkan pesona masa lalu masih saja ada hingga sekarang. Riuhnya anak-anak kecil mandi pada sisi kiri dan kanan sungai, akar-akar pohon dan daun bergelayutan menjuntai ke air kemudian menceburkan ke dalamnya. Di sisi lain, para ibu mencuci baju dan keperluan keluarga lainnya termasuk mandi, serta seorang bapak yang berwudhu di sana.
Namun ada yang beda. Di sana-sini, tumpukan sampah menumpuk. Bau menyengat menusuk batang hidung. Tak terkendali dan terkesan liar. Dulu pemandangan seperti ini mungkin agak jarang ditemui. Pemerintah pun tidak bisa mengatasinya. Orang kecil lalu dipersalahkan, padahal sampah itu bukan milik dan dari mereka saja. Perusahaan dan sampah rumah tangga juga turut berandil. Tetapi itulah wajah Jakarta saat ini, Ciliwung menjadi petaka untuk kaum tak berpunya dan mereka pun harus digusurkan.
Sungai Ciliwung mengalir melintasi Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Depok dan Jakarta. Dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta, Kali Ciliwung memiliki dampak yang paling luas ketika musim hujan tiba, karena Ciliwung menyubang banjir terbesar untuk Ibukota.
Ciliwung dianggap paling rusak dibanding sungai-sungai lain di Jakarta, selain karena daerah aliran sungai (DAS) mulai bagian hulu di Bogor yang rusak, sebagian daerah aliran sungai di Jakarta juga banyak mengalami penyempitan dan pendangkalan. Selama 1994 hingga 2001, sebanyak 13.763 hektare permukiman dibangun di DAS Ciliwung. Inilah juga menjadi satu faktor yang menyebabkan sungai ini tercemar akibat sampah penduduk yang dibuang sembarangan ke sungai.
Membelah Dua
Sungai Ciliwung yang berasal dari kaki Gunung Pangrango, Bogor, mengalir hingga ke Laut Jawa. Di Jakarta Selatan, sungai ini membela dua yakni mengalir melewati banjir kanal barat dan Ciliwung kota bagian dalam. Ciliwung kota bagian dalam mengalir melintasi Kenari, Raden Saleh, Kali Pasir, Kwitang dan Masjid Istiqlal. Dari Istiqlal, air Ciliwung ini dibagi dua lagi. Satunya mengalir lewat Pasar Baru, Gunung Sahari hingga ke Ancol, dan yang lainnya mengalir lewat Jln Gajah Mada hingga ke Kota.
Antara kawasan Kalibata hingga Manggarai, Jakarta Selatan, misalnya pada sisi kanan dan kiri sungai terjadi menyempit. Rumah-rumah liar menjorok ke tengah sungai. Sampah plastik, kaleng dan bekas perabot rumah tangga menumpuk dan mengapung. Puing-puing bekas bangunan dibuang seenaknya ke Ciliwung.
Sementara itu, aliran Ciliwung dari Manggarai ke Ancol, Jakarta Utara, menunjukkan, ketinggian sedimentasi dan kuantitas sampah sudah sampai tahap mengkhawatirkan. Sedimentasi di pintu air Manggarai ke arah Masjid Istiqlal, misalnya, mencapai ketinggian sekitar tiga meter. Sementara, Tinggi endapan ke bibir tanggul mencapai 2-3 meter. Endapan ini menutupi seluruh permukaan sungai, setidaknya, dari pintu air Manggarai, samping Kompleks Berland hingga ke belakang Polsek Matraman. Endapan ini juga mengeras, bisa diinjak orang dewasa.
Pemandangan ini berbeda dengan situasi di mulut pintu air Manggarai menuju kanal barat. Di sana sampah tidak terlalu banyak. Rendy, petugas pengeruk mengatakan, sampah selalu dikeruk setiap hari dan kemudian dibawa dengan truk berkapasitas sekitar 22 meter kubik ke Bantar Gebang, Bekasi.
"Setiap hari, kalau bukan musim hujan, sampah bisa mencapai sekitar 20 meter kubik. Tapi kalau sedang musim hujan, sampah bisa mencapai 200 meter kubik dan harus diangkut menggunakan setidaknya 12 truk sampah," kata dia.
Sementara itu, pintu air Masjid Istiqlal di Jalan Juanda, juga dipadati sampah. Volume sampah mencapai sekitar lima meter kubik. Volume sampah yang sama juga terlihat di pintu air Jembatan Merah, Jalan Gunung Sahari. Sampah di sana menutupi aliran air di bawah jembatan.
Mengenai endapan lumpur, Kepala Balai Besar Ciliwung-Cisadane, Pitoyo, beberapa waktu lalu, mengaku kesulitan membersihakn endapan karena padatnya pemukiman di sekitar aliran Ciliwung. "Kita perlu meletakan alat berat di tepi sungai untuk menjaga kesinambungan pengerukan. Namun, padatnya pemukiman menyulitkan peletakan alat berat. Saya sedang meyiapkan program pembangunan rumah susun untuk merelokasi warga pinggir sungai. Kalau warga sudah direlokasi, bangunan mereka akan digusur. Dengan demikian akan ada ruang bagi alat berat, misalnya traktor atau beko," jelas dia.

Tong Sampah
Sampah yang dituduh menjadi penyebab banjir, sebagian besar datang dari warga yang tinggal di bantaran Ciliwung. Sungai telah menjadi lahan pembuangan sampah yang paling gampang. Mengapa? Karena warga di sana tidak mempunyai tempat sampah. Yati (46), wanita asal Semarang, hampir 20 tahun tinggal di RT 05/12 Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan. Janda beranak empat ini mengaku setiap hari selalu membuang sampah ke sungai. "Habis mau buang ke mana lagi? Kalau buang ke sungai kan langsung hanyut dibawa air. Saya tahu akibatnya banjir, tapi banjir sudah menjadi hal yang lumrah," ujar wanita yang sehari-hari menjadi buruh cuci ini.
Ketua RT 05/12, Ita mengakui warganya kerap membuang sampah ke sungai. Sebagai Ketua RT yang baru dilantik dua bulan lalu, dia mengaku belum menerima sepeser pun dana untuk pengerukan bahkan perbaikan bantaran sungai yang kian lama mendangkal dan penuh sampah.
"Usai banjir, sampah pastinya menumpuk. Warga di sini bergotong royong membersihkan. Pihak RW dan kelurahan hanya menyediakan truk, jadi tak ada dana apapun. Pengadaan tempat sampah dan lokasi pembuangan pun tak ada. Saat ini saya dan sebuah LSM bernama Sanggar Ciliwung berencana mengadakan program pengadaan tong sampah organik dan non organik. Tapi keterbatasan lahan untuk mendaur ulang jadi kendala. Makanya program ini terus dikaji," ujarnya.
Wanita asli Jakarta ini menuturkan, 10 tahun lalu bantaran Ciliwung di Bukit Duri masih kosong. Hanya ada mushala dan lapangan bulu tangkis. Kini hanya tersisa mushola saja, sisanya bangunan semi permanen berlantai dua.
Selain persoalan sampah, Ita juga mengatakan, 125 KK di wilayahnya sangat membutuhkan air bersih dan MCK. "Dulu, entah berapa tahun lalu, saya lupa, warga masih bisa membuang sampah di bak sampah besar di depan gang, dengan iuran Rp 500. Karena pengangkutannya tidak teratur, bau menyengat pun jadi konsumsi dan keluhan warga. Alhasil bekas tempat sampah itu kini berdiri Pos Polisi Bukit Duri," paparnya.
Dia berharap pemerintah provinsi bisa mencari terobosan mengantisipasi banjir. "Ya minimal ketersedian akses pembuangan sampah, atau pembuatan tanggul di tepian sungai," katanya. [ASR/ATW/L-8]