SUARA PEMBARUAN DAILY

Ratusan Warga Rawasari Tetap Bertahan

Abimanyu

Pedagang keramik menyelamatkan barang dagangan mereka dari kobaran api yang menghanguskan beberapa rumah di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat, Minggu (10/2). Kebakaran terjadi bersamaan penggusuran kawasan itu oleh petugas Pemprov DKI Jakarta (Foto kiri). Sementara itu, Senin (11/2) pagi, para pedagang mengungsikan barang dagangannya di bawah jalan layang Ir Wiyoto Wiyono, Jalan Ahmad Yani, Jakarta.

[JAKARTA] Ratusan warga RT 16/ 09 Rawasari, Jakarta, hingga Senin (11/2) bertahan di atas puing-puing bekas pemukiman mereka yang tergusur, Minggu (10/2). Hal itu dilakukan karena mereka belum mendapat tempat tinggal baru dan ganti rugi dari Pemerintah Kota Jakarta Pusat.

Sejak semalam, warga tidur di sekitar puing, bekas rumah mereka. Sebagian lagi, terutama para pedagang keramik, memanfaatkan kolong jembatan layang untuk menghindari terpaan hujan. Sementara kaum ibu dan anak mengungsi ke tempat kerabat.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih berkumpul di lokasi gusuran untuk membicarakan langkah selanjutnya, yaitu mengambil uang kerohiman Rp 10 juta atau tetap menuntut relokasi.

Menurut Seno Budiarto, salah seorang warga, dia begitu terpukul dengan penggusuran yang dinilai tiba-tiba. "Warga masih emosi, sehingga belum bisa memutuskan apa-apa. Akal kami belum sehat," kata dia.

Warga lain, Sobirin, mengungkapkan, selain kerugian fisik, warga juga rugi mental. "Penggusuran kemarin membuat warga, terutama anak-anak trauma. Hari ini, warga tak ada yang bekerja atau sekolah, karena ketidakpastian nasib kami," ujar dia.

Saat ini warga, termasuk ibu-ibu dan anak-anak berkumpul di bekas lokasi penggusuran. Warga sedapat mungkin akan bermusyawarah mengenai kelanjutan perjuangan mereka. Menurut warga, jika tidak cepat memutuskan, kerugian warga akan terus bertambah. "Sebagai korban, kami tidak punya banyak pilihan," tambah Seno.

Sementara itu, pedagang keramik mengungsikan seluruh barang dagangannya ke kolong jembatan layang. Hal ini dilakukan akibat kebakaran yang menghancurkan kios mereka kemarin, padahal mereka belum dapat lokasi baru. Selain itu, tampak pula ratusan pemulung yang mengambil kayu bekas gusuran.

Sebelum penggusuran, pemulung ini menempati lokasi di belakang kios keramik. Rumah mereka juga ikut tergusur. Para pemulung juga bertahan di lokasi bekas gusuran karena belum dapat tempat tinggal baru.

Mereka sengaja memarkir puluhan gerobak di sepanjang tepi jalan antara Jalan Pramuka dan Rawasari. Aksi itu sempat memacetkan lalu lintas hingga pukul 08.30 WIB. Rencananya siang ini warga RT 16/ 09 akan mendatangi Kantor Camat Cempaka Putih atau memaksa menempati kolong tol sambil menunggu reaksi pemerintah setempat.

Sementara itu, sebagian warga, belum memutuskan apakah akan menerima uang kerohiman atau tetap menuntut relokasi kepada Pemkot Jakarta Pusat pascapenggusuran dan terbakarnya kawasan Rawasari.

Pemuka masyarakat setempat, Buchori, mengajak warga berpikir rasional. "Kita sudah berjuang, namun tetap kalah. Apakah kita akan terus berjuang, dengan risiko semakin menderita, atau kita kehendak penguasa? Hal ini saya kembalikan pada saudara-saudara," kata dia kepada warga.

Menurut dia, perjuangan warga justru dihancurkan oknum warga sendiri. "Ada salah satu warga yang sudah menerima uang kerohiman. Padahal ratusan warga lain memilih bersatu dan berjuang bersama. Ini bisa disebut pengkhianatan, karena orang itu hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Padahal warga di sini sudah bertetangga selama 30 tahun," ujar dia.

Dikatakan, karena sudah ada yang menerima uang kerohiman, maka niat pemerintah menggusur warga semakin bulat. "Pemerintah sudah mengeluarkan uang. Sekalipun baru untuk satu orang, namun itu cukup dijadikan alasan menggusur yang lain. Kan tidak mungkin, penggusuran hanya dilakukan pada satu orang itu saja," katanya.

Sementara itu, menurut keterangan sejumlah ibu, anak-anak mengalami trauma. "Anak-anak memang tidak sakit fisik, tapi mental. Banyak anak yang tidak mau diajak ibunya menengok bapaknya di lokasi penggusuran, karena masih ketakutan," kata Sobirin. Hingga Senin (11/2) pagi, sejumlah warga masih ada yang mencari barang mereka di balik puing-puing reruntuhan bekas rumahnya. [ATW/Y-4]


Last modified: 11/2/08