![]()
SP/Fuska Sani Evani
Jemek tampil dalam lakon "Mata Mati" bersama Mime Teater di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jumat (8/2).
erpetualang di dunia imajiner seorang pantomime dengan keambiguan personifikasi dan dunia tiga dimensi yang dimainkan oleh mimik dan gestur, adalah perkara yang tidak mudah, sekaligus sedikit menyita pancaindra untuk mengalitrasikannya ke dalam versi badaniah.
Bukan perkara yang mudah. Gerakan persendian yang kadang terasa jernih dan kontras dalam pengejawantahan ide, tak seyogyanya mampu terespons sebagai objek mutualisme verbal. Balutan-balutan canda yang melekat dalam titik pergumulan ide, acapkali dipandang sebagai satu titik sentral. Namun apakah demikian? Jika komunikasi verbal pun menyiratkan keambiguan, barangkali simbol-simbol pergerakan yang diperagakan pantomimer Jemek Supardi (54), menjadi lebih majemuk.
Satu simbol, akan menggulirkan banyak siratan. Begitu juga dengan satu lajur perkara, akan didebat dalam runtutan ruang dan waktu.
Jemek dalam lakon "Mata Mati" bersama Mime Teater di Amphiteater Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jumat (8/2) malam itu pun tak luput dari persentuhan persendian keambiguan. Cermin, mata dan konsep simbol yang diajukannya, barangkali tak akan berkait pada satu titik.
Cermin, yang terbuat dari kaca dengan lapisan pemantul, tanpa kita sadari sudah menyajikan titik balik perwujudan apa yang merasukinya.
Begitu pula dalam "Mata Mati", Jemek hanya ingin memberi kesan yang sederhana. Dikemas seperti apa pun, dari dulu fungsi kaca tak pernah berubah, untuk bercermin. Mulai dari yang paling sederhana, hingga dikemas paling mewah pun, kegunaannya tetap sama. Bercermin, mencari kealfaan atau bahkan mencari satu tujuan.
Pentas berdurasi 1,5 jam di bawah siraman hujan itu, memang sebuah personifikasi dari ketiadaan. Jemek memang pernah "patah" oleh keburaman dunia yang dipandangnya. Dalam arti sempit dan luas, Jemek sekadar berbagi pengalaman bahwa mata yang buta, akan memproyeksikan banyak persoalan.
Seniman multi gerak yang sudah 30 tahun berkiprah dalam dunia pentas tanpa kata itu, hanya ingin berujar, bahwasannya melihat wajah sendiri, refleksi diri, belumlah cukup, sebab pantulan dari cermin dengan titik vokus yang tiada menentu, akan menjadi satu ajang pentas modeling imajinasi.
Kesadaran? Barangkali hanya pada sebatas kurang atau kelebihan.
Sebuah bentuk pertanggung-jawaban Jemek Supardi sebagai seniman Pantomim. Jemek yang tampil dengan muridnya paling senior, Broto Wijayanto memang ingin merefleksi dirinya yang pada bulan puasa lalu menjalani operasi katarak. Ia mengakui selama ini menipu diri, tidak kontrol melakukan aktivitas sementara ada gangguan penglihatan. Kini, 75 persen fungsi matanya telah lebih baik. Jemek mendapatkan pelajaran dan hikmah bahwa mata merupakan organ tubuh paling penting.
"Mata Mati" yang disutradarai Eko Nuryono dengan musik digarap Narto Piul berkisah tentang kehidupan yang hanya melihat dengan mata, tapi tidak dengan hati. Mungkin secara kasat mata orang memberikan bantuan kepada orang lain, tetapi hatinya tidak. Jadi setengah-setengah. Artinya, mata hatinya mati, atau mati rasa.
100 cermin kecil sederhana bagi yang dibagikan kepada penonton, berpetuah, dan berdialog secara langsung, membangun pergumulan ide dan katarsis.
Jemek Supardi, yang semula menekuni teater kini didukung penata Artistik, Samuel Indratma, Bambang Heras, Yuswatoro Adi, videografer, Afrizal Malna, sutradara dan pimpinan produksi Eko Nuryono ingin mengimbangi perwatakan yang muncul dari kealfaan sudut-sudut manusia.
Mata, ketika sedang tak bermasalah, seperti tak berpengaruh. Namun ketika timbul problem, ke sana-kemari pemiliknya mencari sesuatu untuk menyelesaikannya.
Jemek yang mendapat anugerah seni dari pengelola Pasar Seni Ancol, Jakarta pada malam pergantian tahun baru, 2007-2008 di kawasan Pasar Seni Ancol Jakarta, mengawali proses kreatif pada dekade 1970-an.
"Seperti dalam kehidupan ini. Saya sudah dicap sebagai pantomimer, maka saya harus berkarya. Yang penting, bagi saya mengolah tubuh supaya luwes, ada ide yang orisinal, keberanian berekspresi dan mementaskannya secara serius" ujarnya pada sebuah kesempatan.
Proses yang dilakukan Jemek dengan olah tubuh, yakni bagaimana seorang seniman harus bekerja keras menyiapkan dirinya masuk dalam proses berkesenian secara total. Dengan demikian pasrah dirilah.
Sensasional, julukan buat Jemek yang acap kali berpantomim di tempat tak lazim, di jalan, kuburan, kereta api, dan Rumah Sakit Jiwa Magelang.
Dia pun pernah membuat heboh ketika pantomim tak disertakan dalam agenda Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 1997. Lantas, dengan pakaian pantomim-kaos hitam-hitam dan muka putih-dia berangkat dari rumahnya di Jl Katamso dan naik becak ke Pasar Seni FKY. Tapi, satuan petugas keamanan di Benteng Vredeburg mencegat dan menggelandangnya. Dia lalu menggelar pantomim Pak Jemek Pamit Pensiun di sepanjang Malioboro. Jalan itu pun macet total.
Dia juga pernah berpantomim sepanjang Yogyakarta-Jakarta bolak-balik naik kereta api. Saat marak aksi mahasiswa menuntut Presiden Soeharto mundur, Jemek menggelar aksi diam dari Yogyakarta hingga Jakarta.
Jemek jadi buah bibir ketika menggelar Bedah Bumi (1998). Di pentas itu, dia "mati" dan "dikubur" di Makam Kintelan tempat para Pahlawan Revolusi dimakamkan. Jemek menyewa 10 tukang becak untuk membawa 10 peti mati, satu peti berisi dirinya.
Peti-peti diturunkan dan seorang rois membacakan doa orang mati. Lalu Jemek muncul dari peti, melepas kostumnya hingga tinggal berkain putih, lalu berkeliling makam, bertanya pada nisan-nisan di mana liang kuburnya.
Seperti seniman pada lain, Jemek pun tak luput dari rutinitas seni untuk "mengingatkan". Pola yang hampir sama, menyindir, menyitir dan merangsang sebuah medan pergulatan. Meski malam itu Jemek pentas untuk mengingatkan dirinya akan proses operasi katarak, apa yang didapat penonton adalah sebuah banyolan-banyolan bercita rasa.
Broto yang mengayuh kursi roda berpenumpang sebuah televise 14 inch, mendorongnya melewati luapan air dan harus terhenti oleh sebuah portal 'duit', dan kedudukan Jemek dalam meja bedah, membuahkan suatu pengertian yang begitu dahsyat.
Secara jujur, penonton diajak untuk menertawai proses. Namun untuk menjadikan sebuah prose situ hidup, Jemek hanya berujar, "Jangan sampai Mata kita Mati," tukasnya.Sekali lagi, ambigu. [SP/Fuska Sani Evani]