SUARA PEMBARUAN DAILY

Inflasi Tinggi, Tabungan Kurang Menguntungkan

[JAKARTA] Perbankan harus jeli menyiasati tingkat inflasi yang tinggi untuk mempertahankan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Jika tidak, nasabah cenderung menarik dana dari tabungan harian dan deposito karena tidak memberikan yield (keuntungan).

Menurut kepala ekonom PT Bank Mandiri Tbk, Marthin Panggabean, kondisi inflasi yang tinggi dan suku bunga Bank Indonesia (BI rate) yang cenderung tetap, membuat instrumen tabungan dan deposito kurang menguntungkan. Bahkan ada kecenderungan bunga tabungan bisa berkurang hingga 0,5 persen dan dana nasabah tergerus untuk membayar biaya administrasi.

"Untuk menahan DPK, bank harus memberikan produk tabungan yang dikombinasikan dengan instrumen lain, seperti reksadana. Sedangkan untuk deposito, bank bisa menawarkan bunga tinggi untuk yang jangka waktunya lebih panjang, misalnya satu tahun," kata Marthin, kepada SP, di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, kondisi inflasi yang tinggi saat ini, lebih berprosopek bagi pemilik modal untuk bermain di pasar saham karena potensi gain bisa mencapai 30 persen dalam jangka waktu pendek.

Hal itu, akan lebih menarik bagi pemilik modal, daripada menabung dengan mendapat bunga hanya sekitar 5 persen. "Jadi kalau bank ingin mempertahankan DPK, bunga deposito yang jangka waktu satu tahun bisa dinaikkan menjadi 10 persen," ujar Marthin.

Sementara itu, Managing Director Consumer Finance Bank Mandiri, Omar S Anwar mengatakan, tingkat suku bunga di Bank Mandiri untuk sementara tidak mengalami perubahan karena inflasi yang tinggi dan BI rate tetap dipatok di level 8 persen,

"Karena BI Rate tetap di 8 persen, ya tingkat suku bunga Mandiri juga tidak ada perubahan, baik dari sisi bunga deposito, pinjaman, dan sebagainya," ujarnya.

Dia mengatakan, sebenarnya masih ada ruang bagi bank untuk menurunkan suku bunga. Namun kondisi inflasi dan adanya ancaman perlambaran ekonomi Amerika Serikat (AS), membuat perbankan lebih hati-hati dalam menetapkan kebijakan suku bunga.

Ketika ditanya mengenai pengaruh penurunan suku bunga Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), dia mengungkapkan, selisih yang cukup besar antara BI Rate dengan Fed Fund Rate bisa mengganggu kinerja perbankan di masa mendatang. [J-9]


Last modified: 11/2/08