SUARA PEMBARUAN DAILY

TAJUK RENCANA II

Puncak Kehancuran Sepakbola Nasional

Seorang pendukung klub Persija Pusat yang disebut Jakmania tewas usai pertandingan semifinal Liga Djarum Indonesia 2007 antara Persipura Jayapura versus PSMS Medan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (6/2). Tewasnya Mohamad Fathul Mulyadi, tentu saja menimbulkan kegeraman pemerintah, dalam hal ini Menteri Pemuda dan Olahraga (Mennegpora), Adhyaksa Dault.

Sehari setelah kejadian, Mennegpora mengeluarkan pernyataan yang mengancam bahwa partai final Liga Djarum Indonesia 2007 tidak akan digelar di Jakarta. Mennegpora berdalih bahwa siap-tidaknya partai final di Jakarta, bergantung koordinasi antara Polda Metro Jaya dengan PSSI. Hasilnya, Polda Metro Jaya merasa "tidak mampu" menjaga keamanan partai puncak antara PSMS Medan versus Sriwijaya FC yang dijadwalkan berlangsung Sabtu (9/2) di Senayan. PSSI disarankan untuk memindahkan tempat pertandingan dari Jakarta.

Tentu saja, keputusan yang sifatnya mendadak itu, membuat PSSI kalang- kabut. Badan Liga Indonesia (BLI) yang merupakan pelaksana kompetisi di negeri ini pun juga tidak bisa berbuat apa-apa, selain menuruti anjuran Polda Metro Jaya tersebut.

Akhirnya, final pun dipindah ke Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Bandung. Jadwal pertandingan pun ditunda sehari menjadi Minggu (10/2). Ternyata, perjalanan ke Si Jalak Harupat juga tak mulus. Sampai akhirnya diputuskan bahwa pertandingan final tersebut digelar tanpa disaksikan penonton.

Hambar dan hanya catatan sejarah buruk yang tersirat dalam kompetisi kali ini. Baru kali ini pertandingan final sepakbola diselenggarakan tanpa disaksikan penonton. Semua pihak dibuat rugi, baik materi maupun psikologis, khususnya sang sponsor tunggal Djarum dan ANTV sebagai pemegang hak siar.

Yang perlu digarisbawahi, apa yang terjadi di puncak kompetisi liga Indonesia ini merupakan titik dari kehancuran persepakbolaan Indonesia. Kehancuran yang boleh dikatakan dibuat sendiri oleh oknum-oknum pengurus di PSSI.

Mulai dari ditiadakannya sistem promosi dan degradasi, hingga tidak becusnya komisi-komisi dalam membuat keputusan, merupakan "biang keladi" dari bobroknya tatanan dan pranata dalam sepakbola. Kalau hal ini terus terjadi, jangan harap biduk persepakbolaan Indonesia akan sampai ke muaranya, yaitu prestasi tim nasional.

Untuk itu, Rapat Kerja Nasional PSSI tahun 2008 ini, setidaknya harus menjadi arena untuk melakukan pembenahan di semua lini, khususnya di kepengurusan PSSI. Singkirkan orang-orang yang di kepalanya masih ada benih-benih untuk mencari keuntungan atau popularitas pribadi. Atau, enyahkan orang-orang yang SDM-nya tidak dibutuhkan dalam sepakbola.

Selain itu, perubahan sistem kompetisi juga harus dikedepankan, agar kejadian-kejadian buruk yang menodai kompetisi nasional tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Belakangan, satu masalah mungkin akan teratasi, yaitu diubahnya sistem kompetisi. PSSI telah menyiapkan sistem kompetisi yang dirasa tepat. Dengan sistem baru yang akan diterapkan di super liga dan divisi utama, maka pagelaran partai-partai puncak tidak digelar di Jakarta. Juara super liga diambil dari tim yang mengantongi nilai tertinggi, itu berarti tidak ada kemungkinan lagi menggunakan stadion utama Senayan.

Rencananya, stadion utama Senayan hanya untuk kegiatan sepakbola internasional. Divisi utama akan disiasati menggunakan sistem home and away bagi tim-tim yang lolos ke semifinal dan final. Memang itu terlambat. Namun, terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali. Kita semua berharap jangan ada lagi korban di sepakbola.


Last modified: 11/2/08