SUARA PEMBARUAN DAILY

Siapkan Bandara Alternatif

Agaknya sektor pariwisata tengah berada di situasi dan kondisi yang tidak tepat. Pelaksanaan Visit Indonesia Year (VIY) 2008 yang sudah mengagendakan sejumlah peristiwa budaya dan pariwisata layak kunjung di seluruh provinsi di Indonesia, memasuki bulan kedua di tahun 2008 ini, layak waswas.

Apa sebab? Tentunya karena bencana banjir yang mengakibatkan ruas tol Sedyatmo di kilometer 23 hingga 27 terendam air. Posisi jalan yang konon memang secara geologi sudah berada di bawah permukaan air laut itu, tentunya menjadi hal serius mengingat merupakan akses ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bandara yang juga disebut bandara Cengkareng ini, tidak saja posisinya merupakan pintu gerbang ke Ibu Kota negara, tetapi juga merupakan pusat lalu lintas wisa- tawan, baik domestik maupun mancanegara, atau pun wisatawan bisnis dan budaya. Bandara ini merupakan pintu kedatangan dan keberangkatan sekitar 4 juta penumpang pesawat per tahunnya.

Bencana banjir yang terjadi baru-baru ini dan melumpuhkan akses ke Bandara Soekarno-Hatta sehingga aktivitas di bandara internasional pun terkendala, menjadi satu keadaan yang tentunya tidak menguntungkan dari sektor pariwisata apalagi tepat di saat promosi VIY 2008.

Diakui Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, hal itu merupakan "promosi" yang tak menguntungkan bagi pariwisata Indonesia, di tengah minimnya dana promosi VIY 2008 yang hanya mencapai US$ 15 juta atau sekitar Rp 150 miliar.

"Saya sudah bolak-balik telepon Menteri Pekerjaan Umum (PU), untuk perbaikan infrastruktur. Termasuk bandara kita, tapi mau bagaimana? Saya kan cuma bisa mengimbau, tidak bisa memaksa. Apalagi mecat orang, karena itu bukan kewenangan saya," kata Wacik saat menjawab pertanyaan ang- gota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat, di Jakarta, baru-baru ini.
Banjir dan sejumlah bencana alam yang terjadi, kata Wacik, kian memberatkan tugasnya mempromosikan pariwisata Indonesia ke dunia internasional. Namun, ia mengaku tak akan mundur menghadapi kondisi ini.

"Lagi pula kalau bencana karena musim seperti banjir ini kan sifatnya hanya sementara. Kalau bencana banjir seperti ini paling hanya mengganggu sebentar, sekitar satu bulan. Jadi kita tidak perlu khawatir," katanya optimistis.

Jero Wacik memang hanya bisa berkata begitu. Sebab, terendamnya kilometer 23 hingga 27 tol Sedyatmo memang bukan tanggung jawab dia sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Barangkali bencana memang sementara, tetapi apakah para pihak yang berkompeten atas tol Sedyatmo kilometer 23 hingga 27 itu hanya sebatas berharap tidak hujan deras, air laut tidak pasang, dan pompa air bekerja optimal sehingga ruas tol dimaksud tidak terendam air dan akses menuju dan dari bandara pun lancar?

Mencari pihak-pihak yang bertanggung jawab akan hal itu, sama lamanya dengan menanti solusi perbaikan infrastruktur di ruas tol dimaksud. Coba saja ingat-ingat peristiwa kemarin, ratusan penumpang bahkan mungkin ribuan penumpang yang telantar di bandara karena tak bisa keluar dari bandara. Awak pesawat tidak bisa mencapai bandara. Ratusan penumpang marah karena pesawat yang tak kunjung take off .

Ratusan penumpang naik pitam karena tiket hangus dan tidak ada pengumuman resmi perihal keterlambatan atau pembatalan terbang. Juga ratusan penumpang pasrah karena letih bertanya tanpa mendapat jawaban memuaskan. Saat itulah, muncul usulan untuk menjadikan Bandara Halim Perdana Kusuma sebagai alternatif pendaratan dan pemberangkatan.

Sulit Direalisasikan

Sejauh mana usulan itu dikaji? Usulan Bandara Halim Perdana Kusuma (Halim) agar dioptimalkan dan bisa digunakan sebagai bandara pendukung Bandara Soekarno-Hatta akan sulit direalisasikan. Sebab banyak benturan dan kondisi yang tidak memungkinkan sebagai langkah tanggap darurat menghadapi kemungkinan bandara Cengkareng tidak beroperasi akibat banjir. Kendala itu mulai dari status Bandara Halim yang selama ini digunakan sebagai bandara VIP (Presiden RI atau tamu negara) juga sebagai bandara latih TNI. Belum lagi kapasitas terminal penumpang yang masih minim. Begitu juga sistem teknologi informasi di sana yang belum dikembangkan untuk ground handling (pelayanan di darat) yang akan menyulitkan maskapai-maskapai penerbangan.

"Untuk sementara ini memang serba sulit. Usulan agar Bandara Halim dikembangkan sudah lama diajukan sejumlah maskapai untuk mengurangi kepadatan di Soekarno-Hatta. Usulan serupa juga pernah dilontarkan Pemprov DKI tetapi memang belum bisa direalisasikan karena bandara ini masih dominan sebagai bandara latih terbang TNI dan VIP. Meskipun sudah ada penerbangan komersial di sana, tetapi masih sedikit," ujar Kepala Pusat Informasi Publik Departemen Perhubungan Bambang S Ervan kepada SP di Jakarta.

Untuk sementara ini, Bandara Halim tetap digunakan sebagai bandara alternatif jika ada peristiwa darurat seperti yang terjadi ketika cuaca buruk di Soekarno-Hatta, Jumat (1/2) lalu. Prosedur perpindahan pendaratan atau lepas landas sudah ada dan baku. Dalam dunia penerbangan, bandara terdekat bisa digunakan sebagai pendaratan pesawat jika bandara yang dituju ada masalah seperti cuaca yang buruk atau sebab lain.

Alat navigasi dan proses pemanduan lalu lintas udara di Bandara Halim sudah mencukupi dan tidak ada masalah. Persoalan yang mungkin menjadi kendala yakni soal teknologi informasi untuk proses ground handling tiap maskapai penerbangan. Penumpang akan sulit melakukan check in.

Selain Bandara Halim, Bandara Budiarto, Curug, bisa menjadi alternatif pendamping Bandara Soekarno-Hatta. Bandara Budiarto yang terletak di Kecamatan Legok, lebih dikenal dengan Bandara Curug, dapat digunakan sebagai bandara pendamping Soekarno-Hatta. Selain memiliki luas lahan yang memadai untuk sebuah bandara internasional lokasi bandara ini juga aman dari banjir sehingga tidak akan terjadi penerbangan terganggu bahkan sampai sejumlah pesawat harus mendarat ke bandara lain seperti Palembang, Lampung, Semarang dan Singapura hanya karena banjir. "Bandara Curug bisa menjadi alternatif sehingga tidak perlu jauh-jauh mendaratkan pesawat saat Bandara Soekarno-Hatta tengah bermasalah," ujar Bupati Tangerang, Ismet Iskandar, menjawab SP mengenai keberadaan bandara Curug.

Bupati Ismet pada dua tahun lalu pernah mengusulkan untuk mengomersialkan bandara Curug. Ismet bersama tim dari Bapeda Tangerang mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat agar Bandara Budiarto dapat dikomersialkan menjadi bandara kargo dan embarkasi haji. Bahkan penerbangan domestik diharapkan dapat digunakan melalui bandara ini karena lahannya memungkinkan.

Nantinya bandara ini bisa mengurangi beban bandara Soekarno- Hatta sekaligus bisa mendatangkan pemasukan untuk Kabupaten Tangerang. Namun usulan Ismet itu ditolak oleh Departemen Perhubungan.

Menurut Ismet, dari kondisi luas lahan yang mencapai 460 hektare bandara ini memungkinkan untuk didarati pesawat berbadan besar. "Tinggal memanjangkan run way, pendaratan pesawat berbadan besar dapat dilakukan di sini," katanya.

Latihan

Bandara Budiarto Curug yang memiliki landasan sejauh 18.850 meter itu saat ini hanya digunakan untuk latihan siswa penerbang pada Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI). Bandara Budiarto merupakan tempat pusat latihan penerbangan pertama di Indonesia.

Selain STPI, di dalam kompleks bandara itu juga telah ada Balai Kalibrasi, Pusdiklat, Meterologi, dan Maintenance Penerbangan untuk Boeing 737 dan MD 86.

STPI yang dulunya dikenal dengan Pusat Latihan Penerbangan (PLP) Curug merupakan satu-satunya sekolah penerbang milik pemerintah dengan fasilitas lapangan terbang Budiarto sebagai pusat pendidikan dan pelatihan. Sekolah ini sudah meluluskan sekitar 3.000 penerbang dan pernah menjadi pusat pendidikan penerbang terbesar di Asia Tenggara. Bandara ini juga terletak sekitar 25 km arah selatan dari Bandara Soekarno-Hatta. Saat ini keadaan Bandara Budiarto terkesan terbengkalai.

Untuk menuju Bandara Budiarto dapat melalui jalan tol Jakarta Merak keluar di Tol Bitung atau Tol Karawaci. Bahkan dapat juga ditempuh dari arah Bogor melalui jalan Parungpanjang. "Akses ke sana mudah dan banyak. Lokasinya tidak banjir dan masih sangat mudah diatur tata ruangnya. Mudah-mudahan pemerintah memberikan perhatian karena Bandara Budiarto memiliki banyak kelebihan," kata Ismet.

Jadi bagaimana? Berharap banjir hanya sementara, memperbaiki infrastruktur atau menyiapkan bandara pendamping? Yang jelas, ayo kunjungi Indonesia di tahun 2008 ini. [132/Y-4/Y-6]


Last modified: 8/2/08